Sabtu, 04 Maret 2017

ORANG PERCAYA: Mewarisi Sifat Bapa


Seorang anak pasti selalu memiliki kemiripan dengan orang tuanya.  Entah itu mirip dengan mamanya, maupun dengan papanya.  Kadang ada juga yang mirip dengan kakek dan neneknya.  Selain kemiripna wajah, kadang juga ada yang memiliki kemiripan dalam tingka lakunya.  Kadang seorang anak memiliki sifat yang sama dengan papanya dan juga mamanya, bahkan ada yang kedua-duanya.  Ini terjadi karena seorang anak dari kecil, hidup dengan kedua orang tuanya.  Kita sebagai orang percaya, kita memiliki Bapa di Sorga.  Bagaimana dengan kita.?  Apakah kita sebagai anak-anak Allah kita memiliki sifat Bapa kita?


"Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu." 1 Petrus 1:22


Dunia ini sedang menuju kepada kehancuran, dan salah satu tandanya adalah semakin merosotnya moral manusia.  Alkitab sudah menyatakannya:  "Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah." (2 Timotius 3:2-4).

Namun ini justru jadi kesempatan indah bagi orang percaya untuk mendemonstrasikan kasih kepada semua orang, tanpa terkecuali.  Mengapa?  Karena kita adalah anak-anak Allah, yang sudah seharusnya mewarisi sifat Allah yaitu kasih, sebab  "Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia."  (1 Yohanes 4:16b).  Tetapi kenyataannya, terhadap saudara seiman, rekan satu gereja, sesama hamba Tuhan, masih saja kita berselisih, saling iri hati, saling benci, saling menjatuhkan, karena persaingan dalam pelayanan...

Kerinduannya yang besar terhadap hal-hal rohani mengantarkan Andreas bertemu dengan sang Mesias, Yesus Kristus, sementara saudaranya  (Petrus)  lebih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai nelayan.  Lalu Andreas berkesempatan membawa saudaranya ini kepada Yesus, dan ketika bertemu Petrus berbicaralah Ia:  "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."  (Yohanes 1:42), dan  "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga."  (Matius 16:18-19).  Yesus justru berbicara banyak dan punya rencana besar bagi kehidupan Petrus, bukan Andreas.  Meski demikian Andreas tidak iri hati atau cemburu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Segarkan Hidup Setiap Hari

 Nats: Mzm 52:8-9 Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya r   akan kasih setia Allah untuk s...