Selasa, 31 Oktober 2017

KONSEP KEPEMILIKAN DALAM KITAB KISAH PARA RASUL


KONSEP KEPEMILIKAN
DALAM KITAB KISAH PARA RASUL

oleh: Pdt. Yulius Aleng M.A.


PENDAHULUAN

Kisah Para Rasul bahasa Yunani praceis apostolon adalah judul yang diberikan, sejak tahun-tahun terakhir abad 2. (Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 563) Kitab ini mulai di mana Injil Lukas (cerita yang terdahulu mengenai Kisah Para Rasul 1:1) berakhir, dengan penampilan Yesus sesudah kebangkitan-Nya, dan dilanjutkan dengan mencatat kenaikan-Nya, datang-Nya Roh Kudus, dan bangkit dan berkembangnya dengan cepat gereja Yerusalem (1-5). (564) Selain itu juga, ia menyajikan garis besar sejarah gereja mulai dari Yerusalem sampai pada munculnya pahlawan terkemuka – Paulus – di ibu kota Kerjaan Romawi. (Ladd, 11)

Keyakinan tentang penulisan kitab Kisah Para Rasul berkisar akhir tahun 60-an tepat untuk membedakan-bedakan agama Kristen dari pemberontakan orang Yahudi di Palestina, atau dekat permulaan tahun 60-an, ketika penyebar agama Kristen yang terkemuka yaitu Paulus datang ke Roma sebagai seorang warga Negara Roma agar perkaranya didengar di mahkamah Kaisar, menjadi salah satu pilihan, di antara sekian penetapan tahun penulisan kitab ini. (564).

Yesus mengucapkan perkataan terakhirnya kepada Keduabelas Rasul (1:7, 8) kemudian terangkatlah IA dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Kemudian mereka kembali ke Yerusalem, ke sebuah ruang atas tempat mereka menumpang dan di sana mereka berdoa. Di tempat inilah mereka mengalami peristiwa kepenuhan Roh Kudus yang diawali dengan peristiwa bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, dan tampaklah lidah-lidah seperti nyala api bertebaran dan hinggap kepada mereka masing-masing, lalu mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (Kisah Para Rasul 2:1-4).

Pertobatan masal terjadi setelah Petrus menyampaikan khotbahnya tentang Yesus yang menyelamatkan. Jumlah 3000 yang dicatat Kitab Kisah Para Rasul (2:41) merujuk pada orang-orang yang datang ke Yerusalem untuk merayakan hari Pentakosta (2:1, 9-11).

DISKRIPSI

Kisah Para Rasul 2:41-47; 4:32-37; 5:1-11, Lukas menarasikan semacam aktifitas orang-orang yang telah dibaptis tersebut, seperti bertekun dalam pengajaran, persekutuan, berkumpul memecahkan roti dan berdoa, makan bersama-sama.

Beberapa ungkapan yang menyatakan bahwa orang-orang Kristen awal itu bersama-sama menunjukkan kualitas persekutuan yang nyata dalam setiap pertemuan mereka, sebagai umat eskatologis yang telah mengalami berkat-berkat mesianik. Dan menurut Ladd sebagai gambaran perskutuan kerajaan eskatologis yang telah dinyatakan dalam sejarah di tengah-tengah Yudaisme, (Ladd, 68) Lukas memberikan gambar bagus sekali tentang komunitas jaman baru yang didiami Roh. (Bruce, 132)

Selain itu, ada aktifitas menarik lainnya terkait dengan ekonomi. Lukas menarasikannya demikian, “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kisah Para Rasul 2:44, 45). Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. (Kisah Para Rasul 4:32).

Rasul-rasul tampaknya menjadi tokoh penting tidak hanya dalam menyampaikan berita tentang Yesus yang disalibkan, mati dan dibangkitkan, tetapi juga dalam tanggungjawab pengelolaan yaitu membagi-bagikan (διαμερίζω/diamerizō; to partition

thoroughly, deal be difference between; 2:45), pengertian kata ini memberikan penegasan

tentang prinsip keadilan di dalam pembagiannya. Dimana, semua hasil penjualan harta benda oleh orang percaya diserahkan di depan rasul-rasul (Kisah Para Rasul 4:34-37).

Juga pada narasi Lukas tentang Ananias dan Safira, sepasang suami istri yang menjual sebidang tanah mereka dan menyerahkan hasil penjualannya di depan kaki rasul-rasul. Walaupun mereka menahan sebagain dari hasil penjualan, yang akhirnya menjadi penyebab kematian keduanya, namun pola yang sama yaitu menyerahkan hasil penjualan di depan rasul-rasul diulangi oleh Lukas.

Pada Kisah Para Rasul 6:1 Lukas mencatat aktifitas ekonomi terkait orang Yahudi berbahasa Yunani yang menggerutu terhadap orang Ibrani karena pembagian kepada janda-janda diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.

Dalam Injil Lukas menggambarkan permintaan Yesus kepada murid-murid yang ingin menyertai perjalanan-Nya untuk meninggalkan tidak hanya pekerjaan tetapi segala sesuatu (panta; Lukas 5:11, 28). Hanya di injil Lukas Yesus secara khusus “mengatakan selamat tinggal pada segala sesuatu” (apotassentai pasin; 14:33), murid-murid-Nya juga harus “hate” membenci (misei) pasangan mereka (14:26). Bahkan ketika Yesus berbicara kepada seorang pria kaya raya, Ia memintanya untuk menjual “segala sesuatu – sebanyak yang dimiliki” (panta oc eceis; 18:22). (Metzger, 1)

Menurut Metzger banyak literatur tentang kekayaan dan kepemilikan dalam Lukas berfokus pada laporan atau bahkan memecahkan ketegangan di antara dua tradisi tentang melepas kepemilikan dan sedekah. Secara umum literatur memperlihatkan dua konsensus, pertama ditujukan pada orang-orang Kristen kaya, Injil memperluas kemungkinan keselamatan pada mereka, tetapi tanpa menuntut tindakan menjual harta benda dan kepemilikan dan kedua para pembaca kaya disemangati untuk terlibat dalam beberapa bentuk sedekah yang dilakukan secara teratur, akan mengamankan tempat bagi mereka dalam kerajaan Allah (Metzger, 2).

Lukas-Kisah Para Rasul adalah satu kesatuan bahwa penulis Injil ketiga adalah penulis Injil yang paling memiliki pola pikir sosial. Walaupun komentar-komentar literatur Injil masih belum juga membuat kontribusi penafsiran yang segar tentang “orang miskin” dalam Lukas-Kisah Para Rasul, menurut Roth penulis menunjukan kepada pendengar pada konteks teks tambahan yang menjelaskan tipe karakter dalam narasi. (Roth, 57). Menurut Roth mengutip S. Fish penulis bermaksud para pembaca atau pendengar akan menjadi bagian dari komunitas dalam memahami arti teks juga memberi kesempatan penafsir untuk berbicara dengan penuh arti dari penafsiran Lukas-Kisah Para Rasul terhadap lingkungan sastra Helenistik. (Rorth, 62)

Kyoung mengutip Degenhardt ketika menjelaskan bagiamana orang miskin di pahami dalam masa PL, dan menyajikan gagasan Yahudi tentang pekerjaan baik dan peduli pada warga Yahudi miskin, bukan orang asing miskin, di masa mereka. Ia memperkenalkan konsep maqhetai Lukas-Kisah Para Rasul.. Ungkapan unik dalam 6:17; 12:1 dan 20:45, ia bermaksud membedakan mathetai dari laos dan kemudian membatasi secara umum penerapan pokok kekayaan pada mathetai. (Kyoung, 15). Semua materi Injil Lukas tentang kekayaan dalam pengertian pemuridan. (Kyoung). Kebiasaan-kebiasaan komunitas Kekristenan, termasuk sedekah dan penghormatan tinggi pada amal berakar pada Yudaisme. Lukas coba mencampur gagasan Yahudi tentang sedekah dengan gagasan Greco – Roman tentang koinwnia supaya pembacanya, orang Kristen non Yahudi, tidak merasa canggung tentang sedekah dalam cara orang Kristen, yang secara menyeluruh tidak dikenal mereka. (Kyoung, 16).



TINJAUAN KRITIS

Kesanggupan Rasul-rasul dalam mengelola tidak hanya jemaat tetapi juga persoalan ekonomi jemaat menjadi ujian tersendiri terhadap otoritas ilahi yang mereka miliki, untuk memastikan semua berjalan dengan tertib dan teratur serta berkeadilan. Protes yang dilayangkan kelompok Hellenis kepada orang Ibrani di Kisah Para Rasul 6:1-8:4. Kelompok Hellenist seperti di kutip oleh Hill dari The New Oxford Annotated Bible adalah orang-orang Yahudi berbahasa Yunani atau orang-orang Yahudi yang mengambil budaya Yunani. Sedangkan Ibrani tampaknya merujuk pada mereka yang berbahasa Aram dan lebih konservatip yang tinggal di sekitar Palestina. (Hill, 130).


Kepemilikan Sudut Pandang Lukas Kitab Kisah Para Rasul

Tema kepemilikan atas harta benda dan kekayaan terasa menonjol ketika membaca narasi Lukas tentang Ananias dan Safira. Dalam readingacts.com memberikan tiga tinjauan historis kritis atas gagasan kepemilikan yang bersumber dari tulisan Spencer, yaitu dalam konteks aturan Greco-Roman untuk para Dermawan bahwa komunitas yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul dalam beberapa cara mirip keluarga Greco-Roman, sehingga kekayaan materi seharusnya dibagikan dan mengambil kembali bagian yang telah dibagikan akan menjadi sangat memalukan bagi seluruh keluarga. Berjanji untuk membagikan kemudian ingkar terhadapnya akan jadi sama memalukannya.

Kemudian dalam komunitas Qumran khususnya aturan komunitas Esseni menuntut anggota-anggotanya untuk menjual harta benda mereka untuk memberi dukungan pada kelompok. Tetapi Lukas tidak bermaksud menjual harta sebagai sebuah keharusan. Ketika orang miskin bertambah, pribadi-pribadi secara sukarela menjual harta dan menyumbangkannya dalam komunitas. Tidak ada dalam Kisah Para Rasul yang dapat disebut sebagai syarat masuk.

Lukas tampaknya membuat sebuah kiasan intertekstual pada cerita Perjanjian Lama atau mungkin pada pekerjaannya sendiri dalam Injil. Cerita Akhan dalam Yosua 6 tampaknya menjadi latar belakang dari Kisah Para Rasul 5. Ia menyembunyikan barang-barang rampasan dari Yerikho yang harusnya dimusnahkan. Lukas menggambarkan tentang “mengambil kembali” sebagai kejahatan ekonomi. Apabila komunitas Kristen disamakan dengan Israel Baru maka segala macam pencurian dari komunitas akan menjadi sama seperti dosa Akhan, dan dosa bisa mengacaukan koinonia atau persekutuan. (https://readingacts.com)

Karena komunitas orang percaya ini adalah kesinambungan dari Israel, Yesus dan Gereja (Stronstad, The Charismatic Theology of St. Luke 2nd edition, 59), sebuah komunitas Kharismatik , mewarisi pelayanan awal kharismatik Yesus (Stronstad, The Charismatic Theology of St. Luke, 62) maka tinjauan Spencer tentang kisah Akhan lebih masuk akal dan dapat diterima. Tetapi Lukas memberikan gagasan yang baru tentang kehadiran Roh Kudus ketika menggunakan terminologi “engkau mendustai Roh Kudus” untuk menekankan persoalan kepemilikan dalam cara yang baru.

Terminology “engkau mendustai Roh Kudus / ψεύσασθαί σε τὸ Πνεῦμα τὸ ῞Αγιον” memberikan penekanan yang kuat tentang kehadiran Roh Kudus yang dipersonifikasikan. Hal ini tentunya sangat cocok dalam konteks pembaca berlatar belakang Helenis yang menggambarkan sebuah sosok atau objek dalam kaitan dengan penampakkannya (Benner, 11). Frasa ψεύσασθαί dalam bentuk Verb Aorist infinitive Middle artinya Ananias sedang bertindak atas kehendak atau keuntungannya sendiri dan mengabaikan kehadiran Roh Kudus yang menjadi identitas utama komunitas Kharismatik ini, adalah perbuatan yang patut dihukum.

Praktek menjual kepemilikan, menyerahkan ke depan rasul-rasul kemudian para rasul membagi-bagikan sebagai peristiwa paling awal dalam kaitannya dengan kepenuhan Roh yang terjadi, sedangkan dalam narasi Ananias dan Safira terjadi dibabak berikutnya. Yang pertama merujuk pada pencurahan Roh Kudus sebagai sumber dari melimpahnya kemurahan hati, keberanian berkorban dari harta dan kekayaan yang menjadi milik pribadi, sedangkan Ananias dan Safira tampaknya tidak memiliki landasan demikian dalam praktek yang mereka lakukan, sehingga memiliki harta dan kekayaan yang berlebih menjadi dugaan utama terkait motif dibalik penjualan sebagian kepemilikan mereka. dan wajar jika mereka merasa bebas melakukan apa saja atas hasil penjualan tanah tersebut. Sekali lagi, Lukas mengkontraskan tentang cara hidup yang baru komunitas Kharismatik yang dipenuhi Roh Kudus berbeda dengan cara hidup pada umumnya, dimana praktek hidup komunitas ini menimbulkan kekaguman masyarakat di sekitar mereka (Kisah Para Rasul 2:47).



Kepemilikan dan ἐξοοσσία

Kata ἐξοοσσία muncul beberapa kali dalam Kisah Para Rasul dalam berbagai macam konteks percakapan.(1:7; 5:4; 8:19; 9:14; 26:10; 26:10, 12, 18). Kata ini memiliki beberapa arti, pertama, kebebasan memilih; hak untuk bertindak, memutuskan, atau melepas harta seseorang seperti yang diinginkannya. Kedua, kemampuan untuk melakukan sesuatu. Ketiga, otoritas, kekuasaan mutlak dan jaminan, Terakhir, kekuasaan yang dipergunakan oleh pemerintah atau seseorang pada kedudukan yang tinggi. (Bauer’s, 277-278).

Lukas mengidentifikasi Ananias dan Safira sebagai orang yang memiliki kuasa kepemilikan atas harta dan kekayaan yang mereka miliki. Artinya pada waktu mereka memutuskan untuk menjual bagian dari milik (κτῆμα: possession, property) mereka (5:1, 3), tindakan tersebut sepenuhnya kekuasaan mereka, dan hasil penjualannya pun adalah milik mereka. pada 5:4 frasa yang dipergunakan adalah “μένον σοὶ ἔμενε,..remaining to you did it remain? [apa yang menjadi milikmu tetap milikmu]” dan “ἐξοοσσίᾳ ὑπηῆρεε;…authority it was (kekuasaan itu ada [padamu]?) (Greek Interlinear Online)” Dalam hal ini Lukas tidak memberi ruang sama sekali pada pemahaman atau ideologi harta benda tanpa kepemilikan atau kepemilikan bersama yang ekstrim.

Jika meninjau pemakaian kata ἐξοοσσία pada konteks Simon yang ingin membayar sejumlah uang demi memperoleh kuasa seperti yang Petrus dan Yohanes peragakan (8:18, 19), Saulus dengan ἐξοοσσία penuh dari imam-imam kepala (7:58; 9:14; 26:10, 12, 18) untuk menyeret, memenjarakan bahkan membunuh orang-orang percaya maka Lukas tampaknya memberikan peringatan tentang bahaya penyalahgunaan kuasa. Sehingga, berkaitan dengan kepemilikan maka kuasa atasnyalah yang akan menggendalikan prakteknya.

Akhirnya kata εξοοσσια harus dipahami dalam kaitannya dengan Bapa. frasa “ιδια εξοοσσια” (1:7) memiliki gagasan kepemilikan walaupun tidak dalam bentuk genitive melainkan adjective dative (Interlinear Scripture Analyzer 3) . Tetapi karena subjeknya adalah Bapa “ὁ πηατ̀ρ” maka memiliki kuasa atau berkuasa atas adalah hakekat terdalam Allah Bapa. Artinya, Lukas menegaskan bahwa semua kuasa dan kekuasaan adalah milik Allah. Sehingga kuasa yang dimiliki seseorang atas kepemilikan pun hendaknya diekspresikan atas dasar kebenaran seperti ini.



KESIMPULAN

Komunitas Kharismatik yang bercirikan kepenuhan Roh adalah inisiasi Roh Kudus dalam kaitannya dengan pemberitaan Injil, kesaksian dan pelayanan yang diamanatkan oleh Yesus kepada orang-orang percaya (Lukas 24:47-49; Matius 28:18-20; Kisah Para Rasul 1:7). Kelimpahan anugerah Pentakosta membuka dimensi baru dalam pelayanan Roh Kudus melalui orang-orang percaya dalam membangun komunitas baru dan meletakkan dasar bagi pelayanan misi. Kemurahan hati, membagi-bagikan, keramah-tamahan, kerelaan dan keberanian untuk berkorban adalah sebagian dimensi yang tampak dalam anugerah Pentakosta ini.

Anugerah Pentakosta menyapu beragam kalangan dan latar belakang sosial disatukan dalam ketundukkan yang mendalam pada Roh Kudus dan pimpinan-Nya hingga menyentuh tataran kepemilikan mereka. Sehingga kita lebih mudah dapat memahami narasi Lukas tentang bangkitnya para dermawan dipermulaan terbentuknya komunitas Kharismatik ini.

Akhirnya, Lukas menyajikan sudut pandang Alkitabiah tentang kepemilikan. Pertama, iman kepada Yesus tidak menghapus identitas kepemilikan seseorang atas harta dan kekayaan yang dimilikinya. Sehingga, fakta ini menepis habis kemungkinan pemahaman atau ideologi kepemilikan bersama yang membabi-buta yang didasarkan pada kesetaraan sosial dan ekonomi. 
Kedua, kuasa atas kepemilikan hendaknya dipahami dari hakekat terdalam Allah. Karena kepemilikan menyatu dengan kuasa orang yang memilikinya, maka godaan dan kecenderungan yang timbul adalah menyalah gunakan kekuasaan tersebut. Walaupun kepemilikan bahkan harta kekayaan bersifat netral, namun penyalah gunaan kekuasaan atas hal-hal tersebut akan merusak semua tatanannya. Oleh karena itu, memiliki pengertian tentang kuasa atau kekuasaan sebagai salah satu hakekat terdalam Allah, akan membenamkan pengertian yang bijak bahwa kuasa atas kepemilikan pun adalah kepercayaan Allah. Bijaklah kiranya berprinsip seperti yang Ayub pernah katakan, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). 


DAFTAR PUSTAKA


Alkitab Terjemahan Baru, LAI


“Acts 5 – Potential Background to Ananias and Sapphira,” artikel online, 28 Januari 2015 https://readingacts.com/2015/01/28/acts-5-potential-background-to-ananias-and-sapphira/, diakses 18 Oktober 2017

Bruce, F. F., The Acts of The Apostles, Greek Text with Introduction and Commentary, Third

Revised and Enlarged Edition, Leicester: William B. Eerdmann Publishing Company,

1990


Bauer’S, William and F. Wilbur Gingrich, A Lexicon of The New Testament and Other Early Christian Literature, 2nd edition, Chicago and London: The University of Chicago Press, 1958.

Benner, Jeff A., Ancient Hebrew Lexicon of The Bible, Hebrew Letters, Words and Roots Defined With Their Ancient Cultural Context, __________ (Lexicon ini tidak mencantumkan tempat, penerbit dan tahun penerbitan, tetapi disediakan secara cuma-cuma di http://ahlb.ancient-hebrew.org)

Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid 1 A-L, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1994


Greek Interlinear Online

Hill, Craig C., Acts 6.1-8:4: Division or Diversity: History, Literature, and Society in The

Book of Acts, Ben Witherington, III edition, New York: Cambridge University Press,

1996


Interlinear Scripture Analyzer 3

Kim, Kyoung-Jin, Stewardship and Almsgiving In Luke’s Theology, Journal for The Study of

The New Testament Supplement Series 155, Stanley E. Porter, Ex.ed., England:

Sheffield Academic Press, 1998

Ladd, George Eldon, Teologi Perjanjian Baru, Jilid 2, Bandung: Yayasan Kalam Hidup,

1999

Metzger, James A., Consumption and Wealth in Luke’s Travel Narrative, Leiden:

Koninklijke Brill NV, 2007.


Meyer C. Rick, ESword V.11


Roth, S. John, The Blind, The Lame, and The Poor, Character Types in Luke-Acts, Stanley E. Porter, Ex. Ed., Journal For Study of The New Testament Supplement Series 144, Library of New Testament Studies, 1997

Stronstad, Roger, The Charismatic Theology of St. Luke, 2nd Edition, Michigan: Baker Publishing Group, 2012)

Stronstad, Roger, The Charismatic Theology of St. Luke, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1984)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pencobaan datang dari Diri Anda sendiri

  Nats: Yakobus 1:14-15 (TB)14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. 15 Dan apa...