Selasa, 01 Mei 2018

Orang Kristen Boleh Bercerai ?

Orang Kristen Boleh Bercerai ?
(Sebuah refleksi singkat Pelayanan Pastoral)
oleh: Yulius Aleng



Percakapan tentang perceraian dikalangan Kristen menjadi sangat marak belakangan ini, tatkala media TV, koran dan terlebih medsos menyorot secara tajam seorang Ahok menggugat cerai istrinya Veronika. (https://goo.gl/3k9Nkd. ;https://goo.gl/GLSYr3. ; https://goo.gl/NS7XSB ).

Viralnya gugatan cerai tersebut tidak lepas dari posisi Ahok adalah seorang publik figur, politisi, birokrat, sekaligus salah satu negarawan dan juga taat pada iman kristen yang dijalaninya.  

Lepas dari kontroversialnya pemberitaan gugatan perceraian dan beragam isu tentang alasannya, di kalangan komunitas jemaat Gereja Lokal bermunculan pula wacana maupun perdebatan tentang boleh tidaknya perceraian bagi orang Kristen yang telah menikah dalam sebuah upacara resmi pemberkatan nikah Gereja.

Untuk alasan memberikan jawaban atas persoalan perceraian tersebut maka Saya akan memberikan pandangan Saya sebagai seorang jemaat Yesus Kristus dan sekaligus Gembala Sidang, supaya jemaat dapat memperoleh pemahaman yang layak dan memadai serta memahami posisi penggembalaan ini berdasarkan apa yang diajarkan oleh Alkitab tentang boleh atau tidak orang Kristen bercerai.

Konteks perceraian dalam Teks Matius 5:31-32

Demikianlah pernyataan kalimatnya, "Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah."

Jika kita membaca sekilas ayat-ayat tersebut, seperti memberikan ruang pada perceraian. Meskipun kata Yunani ἀπολύσῃ pada ayat 31 dan ἀπολύων (https://goo.gl/vHUWwD) di ayat 32 memiliki arti membebaskan atau membebaskan seseorang dari suatu hal, juga perceraian, tetapi dalam konteks ini Yesus sedang membicarakan tentang hukum Taurat (Matius 5:17) yang menjadi norma dan aturan hidup yang harus dijalankan oleh orang-orang Yahudi secara ketat. Karena anak kalimat ayat 17 'melainkan untuk menggenapinya (menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi),... memberikan gambaran kepada kita bahwa ada yang masih kurang atau belum lengkap pada hukum Taurat sehingga kedatangan Yesus ke dalam dunia adalah menyempurnakan apa yang masih kurang tersebut. Pertanyaannya adalah Apa yang masih kurang atau belum lengkap? Salah satu diantaranya adalah munculnya persoalan perceraian dalam rumah tangga.

Jangan lupa, delik perceraian muncul dalam Taurat Musa (Ulangan 24:1-5) yang menjadi dasar tata laksana kehidupan bangsa Israel ketika mereka telah keluar dari tanah perbudakan di Mesir dan hendak menuju tanah perjanjian yaitu Kanaan. Tampaknya sampai dipembahasan ini perceraian bukan penanda sesuatu yang LEBIH tetapi justru sebaliknya, yaitu KURANG.

Lantas pertanyaan selanjutnya adalah apa yang hendak disempurnakan atau dijadikan yang TERBAIK oleh Yesus Kristus? Jika kita membaca Matius 19:1-12, pada ayat 8, "Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian."

Frasa 'sejak semula' perkataan Yunaninya adalah  αρχης yang berarti permulaan, asli. Dalam hal ini kata tersebut dapat dipahami sebagai titik awal, sesuatu yang ada paling pertama dan paling tinggi, permulaan segala sesuatu (bdk. Markus 10:1-12). Artinya, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa sebelum hukum Taurat Musa ada, sudah ada ketetapan yang dibuat terkait dengan ikatan hubungan seorang laki-laki dan perempuan yang kita sebut dengan perkawinan. Jawab Yesus ada di ayat sebelumnya di Matius 19:1-6 dikutip dari kitab Kejadian 2:24, "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." Bahwa satu laki-laki dan satu perempuan diikat menjadi satu, satu yang utuh yang jika dipisah/dicerai-beraikan maka tidaklah lengkap dan KURANG. Dan tujuan TUHAN pada ayat ini sangat jelas yaitu keutuhan, kesatuan yang kokoh diantara satu laki-laki (suami) dan satu perempuan (istri) dalam rumah tangganya.

Apakah karena hukum Taurat Musa memberi ruang untuk perceraian lantas kita beranggapan bahwa Musa menyetujui perceraian? Tentu tidak! Yesus menegaskan kepada mereka yang menguji-NYA bahwa Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai kepada istri atau suami yang diceraikan, telah terjadi karena ketegaran hati atau the hardness of your heart (KJV).

Kata ketegaran hati atau keras hati berasal dari perkataan Yunani σκληροκαρδίαν. Terbentuk dari 2 kata  σκλερος artinya keras karena kering dan  καρδια artinya hati (https://goo.gl/8kVtXG). Keras hati karena memilih bercerai atau perceraian sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah suami istri dan keras hati karena mengulangi secara terus-menerus perbuatan perzinahan. Meskipun seolah- olah sangat masuk akal untuk memisahkan/menceraikan pasangan karena disebabkan oleh tindakan kedua, namun praktek keduanya dari sejak semula bukanlah TUJUAN TUHAN dalam mencipta laki-laki, perempuan dan membentuk rumah tangga dalam lembaga perkawinan yang ditetapkan TUHAN sebagai KUDUS hakekatnya.

Perceraian "Seolah-olah" diperbolehkan karena alasan Zinah.

Frasa "Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah" dalam Injil Lukas 5:32 (baca: Matius 19:9; bdk. Markus 10:11-12; Lukas 16:18) tampaknya telah mendorong para pembaca modern yaitu orang-orang Kristen yang hidup diabad ini untuk memaknai ayat tersebut seakan Alkitab memberikan kesempatan perceraian jika salah satu di antara pasangan suami istri melakukan tindakan perzinahan. Tetapi, apakah semudah dan sesederhana itu pertimbangan atas keputusan memilih perceraian sebagai jalan untuk memcahkan persoalan dalam rumah tangga?

Jika mengamati Matius 5:32 secara mendalam maka pernyataan tersebut di atas menunjuk pada tindakan atau perbuatan yang sedang dilakukan dan memiliki makna ada pengulangan dari perbuatan tersebut secara sengaja. Pararel dengan apa yang diucapkan nabi Yesaya dan Yeremia bahwa tindakan pengulangan seperti ini merujuk pada lenyapnya kesetiaan dan ketaatan yang disejajarkan dengan murtad (Yesaya 50:1; Yeremia 3:8). Murtad dalam bahasa yang kita pahami selalu memiliki konotasi meninggalkan iman atau Tuhan yang disembah.

Naskah deutrokanonika yaitu Sirakh menyebut satu-satunya alasan seorang suami memisahkan atau menceraikan istrinya adalah hal-hal yang jahat yang dilakukannya.  "Jangan membiarkan air meluap dan jangan pula membiarkan istri yang jahat berleluasa. Jika ia tidak berjalan menurut tuntunanmu, pisahkanlah ia dari tubuhmu" (Sirakh 25:25-26). Dari beberapa keterangan di atas maka muncul pengertian bahwa benar perceraian telah terjadi, dimana keputusannya dilandasi oleh tindakan perzinahan oleh salah satu pihak (suami atau istri) dan dilakukan berulang-ulang atau leluasa dalam bahasa Sirakh, dan juga menyebutnya sebagai perbuatan yang jahat. Selain pengulangan terus-menerus, tidak menurut nasehat/tuntunan (pasangannya) menjadi dasar selanjutnya.

Jawabannya adalah TIDAKBOLEH !!!!

Yesus menegaskan di Injil Matius 19:5-6: Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Baca juga: Markus 10:1-12; Lukas 16:18; Maleskhi 2:15-16) Bahwa apa yang telah dipersatukan oleh Allah (perkawinan) tidak boleh diceraikan oleh manusia. Jadi, perceraian itu murni adalah ulah dan keputusan orang yang memilih hal itu sebagai pemecahan masalah dalam perkawinan yang dijalaninya. Jika, perceraian bukan solusi atas permasalahan dalam perkawinan, apakah ada cara menyelesaikannya yang sesuai ajaran Alkitab? Sudah pasti ada.

Rasul Paulus merujuk pada perkataan Yesus mengatakan bahwa perceraian tidak diperbolehkan. 1 Korintus 7:10-11: "Kepada orang-orang yang telah kawin aku tidak, bukan aku, tetapi Tuhan perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya."

Walaupun konteks pembahasan Paulus di pasal 7 esensinya adalah perkawinan, namun ia menyertakan persoalan perceraian sebagai sub pembahasan tentang nasehat perkawinannya yang menjadi perhatian utama dan sangat serius, mengingat jemaat berada di situasi dan lingkungan mereka hidup secara bebas, bahkan melegalkan kumpul kebo, prostitusi dan zinah sebagai hal yang biasa saja.

Keseriusan Paulus tampak pada pernyataannya bahwa ajaran dan nasehatnya bahwa istri tidak boleh menceraikan suami dan sebaliknya suami tidak boleh menceriakan istrinya adalah landasan dalam sebuah perkawinan Kristiani, dimana ajarannya ini mengutip langsung pada pernyataan Yesus.

SARAN PEMECAHAN MASALAH 

a. Bagi mereka yang sudah menikah.

Jika ada pasangan Kristen yang sudah hidup dalam hubungan pernikahan, diberkati di dalam gereja, dicatat secara resmi pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil pemerintahan, namun sedang menghadapi persoalan yang rumit dan tajam dalam rumah tangga mereka maka beberapa saran penyelesaian masalah berdasarkan Alkitab sangat penting.  Karena saya beranggapan bahwa sebelum berkas-berkas persyaratan GUGATAN CERAI dilayangkan ke pengadilan mungkin saran saran berikut ini akan menjadi alasan untuk mereka mengubah keputusan dari rencana perceraian menjadi KEHARMONISAN kembali.

          1. Berikan PENILAIAN pada TANGGUNGJAWABmu, Baik sebagai Suami atau Istri.

Perhatikan nasehat Firman Tuhan berikut:

"Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepada isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan  tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,.." (Efesus 5:22-28).

Kasih yang total dari sang suami pada istrinya dan penundukkan diri secara sukarela dari sang istri pada suami adalah salah satu wujud tanggungjawab yang disaksikan oleh Alkitab pada kita, yang melekat dan semestinya dipraktekkan dan mewarnai kehidupan rumah tangga Kristen. Keputusan untuk mengambil dan menjalankan tanggungjawab demikianlah yang hendaknya melandasi pikiran orang-orang Kristen dewasa untuk memasuki ikatan perkawinan yang kudus.

Masalah dalam rumah tangga biasanya muncul bukan karena alasan yang besar, namun oleh perkara-perkara sepele dipicu oleh keengganan untuk mengulangi tanggungjawab masing-masing dalam membangun rumah tangga. Bahkan saling melempar tanggungjawab,  enyalahkan pasangan, menilai kekurangannya, menyatakan tuduhan seringkali menjadi arena yang disengaja untuk membuktikan diri benar, alih-alih mengkoreksi diri terkait pelaksanaan tanggungjawab yang melekat pada status sebagai suami atau istri. Bukankah sikap semacam ini telah digambarkan pada narasi ketika manusia jatuh ke dalam dosa? Ketika Tuhan bertanya kepada Adam mengapa ia berbuat dosa, lalu kemudian ia menunjukkan bahwa itu adalah kesalahan Hawa yang telah merayu dan mengajaknya memakan buah pohon pengetahuan? Kemudian Hawa pun merasa itu bukan kesalahannya, melainkan perbuatan si ular yang telah memperdayanya. Siapakah yang harus bertanggungjawab?

Walaupun suami dan istri memiliki tanggungjawab masing-masing yang melekat dalam fungsinya, tetapi menjalankan rumah tangga adalah tanggungjawab bersama. Ketika rumah tangga harmonis, bahagia, damai, berjalan sebagaimana seharusnya, mereka selalu merayakannya bersama. Akan tetapi, menyalahkan, menuduh, kadang mengintimidasi menjadi pilihan manakala masalah muncul, yang mungkin disebabkan oleh kelemahan, kekurangan atau keterbatasan pasangannya. Bukankah hal demikian terlihat ironis?

Belajar dan melatih diri sendiri, baik pada posisi suami atau istri, bertanggungjawab untuk tidak hanya atas fungsi masing-masing tadi, tetapi atas apa yang dilakukan pasangan adalah bentuk komitmen yang kuat, baik dan bijak demi terpeliharanya keharmonisan serta kebahagiaan dala m rumah tangga.

Saudara harus yakin bahwa dalam dirimu telah Tuhan patenkan kemampuan hebat untuk mampu menjalankan tanggungjawab dan memikul tanggungjawab rumah tanggamu.
           
            2. Menasehati

Nasehat firman Tuhan demikian:

"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai" (Matius 18:15-17).

Nasehat itu sendiri hendaknya timbul dari kasih yang mendasarinya. Walaupun nasehat firman Tuhan di atas dalam konteks kehidupan berjemaat tetapi prinsipnya adalah sama bahwa ketika seorang Saudara kedapatan melakukan pelanggaran atau prkatek dosa maka janganlah ia dikucilkan, ditinggalkan, dimarahi melainkan diberikan nasehat. Nasehat bisa berupa anjuran, petunjuk, peringatan yang didalamnya terkandung pelajaran yang baik bagi orang tersebut. Oleh karena itu kasihlah yang menjadi motivasi dibaliknya. Kasih memberi kekuatan untuk sang suami atau sang istri mampu meluangkan waktu, perhatian, pengulangan dan mengucapkan kata-kata nasehat yang akan menyadarkan pasangannya.

Dibutuhkan kesabaran untuk melihat sebuah perubahan kecil pada pasangan, dari membuat kesalahan, pelanggaran atau bahkan dosa ke kehidupan yang semakin baik, saleh dan benar. Akan tetapi ingatlah, perubahan sekecil apapun yang Saudara lihat maka itu adalah keajaiban. Tetaplah sabar dan bimbing dalam nasehat maka sebentar lagi akan tampak keajaiban berikutnya. Jika Saudara belum melihat perubahan kecil yang baik terjadi pada pasanganmu, lalu kemudian Saudara berhenti untuk memperjuangkannya maka itu belum dapat disebut perjuangan. Karena perjuangan terkadang dibutuhkan keringat tiada henti, babak belur bahkan berdarah-darah, jadi tetaplah sabar, kalau seandainya kesabaranmu habis maka Tuhan Yesus adalah sumber kesabaran dan kasih yang mampu menambahkannya padamu.

          3. Doa dan Puasa

Sudahkah Saudara mencobanya? Ini bukan jimat atau mantra tetapi nasehat firman Tuhan yang bertebaran di Alkitab dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru yang mendorong setiap orang Kristen untuk bertekun dalam doa dan puasa. Walaupun Saya menyadari banyak kita telah mendengar dan memahaminya namun, tidak serta merta percaya apa yang mungkin saja terjadi setelah Saudara berdoa dan berpuasa ketika sedang diperhadapkan pada masalah-masala rumit dalam rumah tangga. Saya merasa jauh lebih baik Saudara mencobanya dari pada tidak sama sekali.

Perhatikan nasehat Firman Tuhan berikut:

"Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu- penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."

Setiap keluarga Kristen mengalami dan menjalani perjuangan hidup setiap hari. Dan tahukah Saudara musuh utama dan terbesar kita bukan kekurangan, bukan uang, bukan ekonomi, bukan kesehatan, bukan status sosial apapun melainkan Iblis. Bahkan Yesus Kristus mengajarkan kalimat doa kepada murid-murid-NYA demikian...JANGANLAH MEMBAWA KAMI KE DALAM PENCOBAAN, TETAPI LEPASKANKAH KAMI DARIPADA YANG JAHAT!!! Firman Tuhan juga mengingatkan kita demikian, "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."

Apabila kita melihat kembali tentang keluarga bahagia yang diberkati Tuhan pada narasi kitab Kejadian, Saudara diperlihatkan bagaimana jahatnya Iblis dalam wujud ular yang datang menggoda, mencobai manusia langsung pada jantung pertahanannya yaitu rumah tangga. Ketika salah satu pasangan terggoda dan jatuh, itu sudah lebih dari cukup untuk merusak seluruh tatanan keharmonisan dan kebahagiaan TUHAN bagi setiap keluarga.

KETIDAKHADIRAN pasangan. Ketidakhadiran Adam (suami) dimanfaatkan oleh Iblis untuk memperdaya Hawa, dan bisa juga terjadi sebaliknya. Ketidakhadiran disini bisa saja dimaknai harafiah yaitu sang suami atau sang istri tinggal berjauhan untuk berbagi macam alasan dan keperluan, tetapi diabad digital persoalan ketidakhadiran bisa jadi semakin kompleks. "Dimanakah engkau?" Kejadian 3:9b adalah penggalan kalimat yang sangat penting bagi kita untuk memahami kepedulian Tuhan pada manusia dan rumah tangganya. Kalimat tersebut juga sekaligus peringatan tentang bahaya ketika suami atau istri kehilangan atau tidak memiliki ruang, kesempatan dan waktu lagi untuk mengungkapkan pergumulan- pergumulan yang dialami pada pasangannya. 

Ingatlah! Iblis selalu mencari celah, berkeliling mencari kesempatan untuk merusak keluarga-keluarga Kristen, dari memisah sampai menjauhkan mereka dari Tuhan. Kekuatan dan tipu dayanya tidak mungkin Saudara sanggup lawan dengan perlengkapan fisik, sehebat apapun itu. Salah satu paket senjata rohani yang Saudara harus terus pergunakan adalah berdoa dan berpuasa. Dengan cara itu jugalah bentuk nasehat Yeus Kristus kepada murid-murid yang terlelap tidur saat Yesus sedang berdoa dalam kekhusukkan.

Saudara membaca artikel singkat ini tidaklah kebetulan, selagi masih ada waktu dan kesempatan, buatlah langkah untuk mengubah pikiran, rencana dan keputusan yang akan diambil. Buatlah langkah iman karena langksh iman tidak memerlukan bukti lebih dahulu untuk memulainya melainkan menyerahkan pada Tuhan Yesus hasil akhirnya.

Referensi Artikel:


Alkitab Elektronik (Sabda) versi 4.5.0
Bible Commentary versi 1.0.1
Greek Interlinear New Testament versi 1.0.2
Hebrew Interlinear Old Testament versi 1.0.2
KBBI Elektronik
Koine Interlinear NT versi 1.4.3
Sumber-sumber Internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pencobaan datang dari Diri Anda sendiri

  Nats: Yakobus 1:14-15 (TB)14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. 15 Dan apa...