Jumat, 22 Mei 2020

Menghindari Perpecahan


http://pamsionmalaingkedi.blogspot.com/2016/07/waspadalah-terhadap-virus-perpecahan.html

Nats: 1 Kor 1:10-17
" 1:10 "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. 1:11 Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. 1:12 Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas Atau aku dari golongan Kristus. 1:13 Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus? 1:14 Aku mengucap syukur bahwa tidak ada seorangpun juga di antara kamu yang aku baptis selain Krispus dan Gayus, 1:15 sehingga tidak ada orang yang dapat mengatakan, bahwa kamu dibaptis dalam namaku. 1:16 Juga keluarga Stefanus aku yang membaptisnya. Kecuali mereka aku tidak tahu, entahkah ada lagi orang yang aku baptis. 1:17 Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

Perpecahan sejatinya menjadi masalah yang belum bisa diselesaikan sampai sekarang. Banyak hubungan terpecah entah itu suami dengan istri, persahabatan, komunitas, dan sebagainya. Gereja pun juga tidak lepas dengan perpecahan. Gereja A menganggap diri paling baik dari segi doktrin sementara Gereja B menganggap diri paling baik dari segi liturgi. Tak heran jika dewasa ini kita menjumpai begitu banyak aliran gereja di dunia ini.

Kondisi di atas sebenarnya sudah terjadi dalam Gereja di Korintus. Gereja di Korintus terbagi menjadi dua golongan yaitu Apolos dan Paulus. Satu golongan menganggap diri mereka lebih baik dari golongan lain begitu sebaliknya. Maka dari itu Paulus menegur mereka dengan keras. Paulus menegaskan bahwa sikap seperti itu tidak layak disebut sebagai Tubuh Kristus.

Bercermin dari kisah di atas, setidaknya ada 2 pelajaran penting yang dapat kita pelajari. Pertama, jangan pernah menganggap Gereja kita lebih hebat dari yang lain. Setiap Gereja memiliki keunikan masing-masing. Misalkan: ada Gereja yang menekankan pujian penyembahan, yang lain menekankan pelayanan diakonia, dan sebagainya. Keunikan ini seharusnya menjadikan Gereja saling melengkapi. Saling melengkapi inilah yang sejatinya menjadi tujuan Kristus bagi Gereja-Nya. Kedua, jadikan Kristus sebagai pusat. Banyak Gereja terpecah karena menjadikan liturgi, doktrin, pendeta sebagai pusat bukan Kristus. Oleh karena itu menjadikan Kristus sebagai pusat penting adanya agar Gereja tidak terpecah belah.

Sebagai orang percaya hendaknya kita menganggap gereja sebagai persekutuan Tubuh Kristus dimana Kristus adalah pusatnya. Janganlah kita menganggap suatu Gereja lebih unggul dari Gereja lain. Ini diakrenakan sejatinya Gereja memiliki perbedaan untuk saling melengkapi.

By: Felix Justian Harnanta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pencobaan datang dari Diri Anda sendiri

  Nats: Yakobus 1:14-15 (TB)14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. 15 Dan apa...