Artikel: Gereja sebagai Bait Allah


Gereja sebagai Bait Allah merupakan konsep keempat dalam konsep eklesiologi Paulus.[1]  Secara eksplisit konsep Gereja sebagai Bait Allah terdapat dalam 1 Kor 6:19.[2]  Mengenai ayat ini Witherington mengatakan, “Paulus mengingatkan bahwa jemaat di Korintus tidak memiliki Roh Allah berdasarkan perbuatan mereka melainkan pemberian dari Allah.[3]  Maka dari itu dapat dikatakan bahwa Allah adalah pemilik tubuh manusia.[4]  Dengan demikian, jemaat di Korintus perlu memuliakan Allah dengan tubuhnya.[5]  

Fakta bahwa gereja adalah bait kediaman Allah mencegah kemungkinan menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya (2 Kor 6:14).[1]  Menurut Hughes dalam ayat ini Paulus ingin menegaskan ketidakmungkinan orang percaya bersatu dengan orang yang tidak percaya.[2]  Orang yang tidak percaya dalam ayat ini menunjuk kepada para penganut penyembahan berhala.[3]  Namun demikian, ketidakmungkinan tersebut tidak membawa kepada eksklusivisme seperti yang diperlihatkan oleh ahli taurat dan orang Farisi.[4]  Sebaliknya, ketidakmungkinan tersebut mengindikasikan bahwa orang percaya memiliki standar kehidupan yang berbeda.  Standar kehidupan yang dimaksud adalah kebenaran di dalam Kristus.[5]  Dengan demikian, Gereja sebagai bait Allah tidak mungkin bersatu dengan penyembah berhala.  Ini dikarenakan penyembah berhala tidak mengenal kebenaran. 



[1] Ladd, Teologi Perjanjian Baru Jilid II, diterjemahkan oleh Urbanus Selan& Henry Lantang, 331.

 

[2] Philip E Hughes, The Second Epistle to the Corinthians: The New International Commentary on the New Testament, (Michigan: Eerdmans, 1982), 245.

 

[3] Witherington III, Conflict & Community in Corinth: A Socio Rhetorical Commentary on 1 and 2 Corinthians, 405.

 

[4] Hughes, The Second Epistle to the Corinthians: The New International Commentary on the New Testament, 245.

 

[5] Ibid, 246.



                [1] Ladd, Teologi Perjanjian Baru Jilid II, diterjemahkan oleh Urbanus Selan& Henry Lantang, 331.

 

[2] Philip E Hughes, The Second Epistle to the Corinthians: The New International Commentary on the New Testament, (Michigan: Eerdmans, 1982), 245.

 

[3] Witherington III, Conflict & Community in Corinth: A Socio Rhetorical Commentary on 1 and 2 Corinthians, 405.

 

[4] Hughes, The Second Epistle to the Corinthians: The New International Commentary on the New Testament, 245.

 

[5] Ibid, 246.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Kucari Damai (Lirik & Chord)

Pribadi Yang Mengenal Hatiku (Lirik & Chord) Jacqlien Celosse

Ujilah Aku Tuhan (Lirik & Chord)