Artikel: Menjawab doktrin malaikat maut

         

Menanggapi Ajaran tentang Malaikat Pencabut Nyawa 

            Seorang pendeta baru-baru ini mengklaim bahwa malaikat pencabut nyawa sejatinya eksis. Lebih lagi ia mengklaim bahwa pernah bertemu dengan malaikat maut tersebut dalam perjalanannya keluar kota. Pada akhirnya pernyataan seperti ini menjadi viral di berbagai media sosial.

            Hamba Tuhan tersebut melandasi pernyataannya dengan pada tulah kesepuluh yaitu anak sulung (Kel 11:1-10). Menurutnya, ayat ini berbicara tentang bagaimana malaikat maut mencabut nyawa anak-anak sulung di Mesir. Maka dari itu Ia menegaskan agar umat percaya harus berhati-hati.

            Pada hakikatnya Kel 11 tidaklah berbicara tentang malaikat maut melainkan tulah kesepuluh yaitu kematian anak sulung. Enn menjelaskan bahwa kel 11 harus dibaca dalam terang pemahaman Kel 4:21-23.[1]  Disana dijelaskan bahwa Israel adalah anak sulung Tuahn dan barangsiapa yang tidak membiarkan bangsa Israel beribadah kepada-Nya maka anak sulungnya akan dibunuh.[2] Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tulah anak sulung terjadi akibat bangsa Mesir tidak menjalankan perintah Tuhan Allah Israel.

Kritik

            Pada hakikatnya ada dua kritik yang perlu disampaikan perihal ajaran mengenai malaikat maut yang disampaikan oleh salah satu hamba Tuhan tersebut. Kritik pertama perihal pemahaman mengenai malaikat sedangkan perihal hubungan antara pengalaman dan Firman Tuhan yang tampaknya salah penempatan.

 Pemahaman mengenai Malaikat

            Dalam pemahaman Kristen malaikat sejatinya adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah. Paulus menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan dunia yang kelihatan maupun tidak kelihatan (Kol 1:16). Ini terlihat dari frase baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa.[3] Oleh karena itu malaikat sejatinya adalah makhluk yang baik. Jika dihubungkan dengan pemahaman malaikat maut di atas maka dapat dikatakan bahwa dalam kekristenan tidak ada yang namanya malaikat maut karena semua yang diciptakan Tuhan adalah baik adanya termasuk malaikat.

            Alkitab mencatat bahwa malaikat yang memiliki nama hanya dua yaitu Gabriel dan Michael. Michael di dalam Yudas 9 dan Wahyu 12:7-8 disebut sebagai penghulu malaikat sedangkan Gabriel disebut sebagai malaikat pembawa kabar baik ( Luk 1:26-27).[4] Ini sekaligus menjadi bukti bahwa tidak ada malaikat yang diberikan tugas untuk mencabut nyawa seseorang.

                                                    

                                                  Tempat pengalaman dalam Berteologi

            Dalam berteologi unsur pengalaman tentu saja tidak bisa dihilangkan. Meski demikian, seorang teolog seharusnya meletakkan pengalaman di bawah kebenaran yang obyektif yaitu Firman Tuhan sendiri. Dengan melakukan ini niscaya teologi yang disampaikan sangatlah alkitabiah.

            Pada dasarnya ada sikap yang membuat seorang hambaTuhan menaruh pengalaman lebih tinggi dari firman Tuhan. Sikap tersebut adalah pride atau kesombongan.[5] Dengan adanya kesombongan ini sukar bagi seorang hamba Tuhan untuk dinasehati oleh Firman Tuhan karena Ia merasa ajarannya benar padahal tidak ada di Alkitab.

 

Kesimpulan

            Seorang hamba Tuhan di atas dapat dikategorikan sebagai seorang yang sombong terhadap ajarannya. Ia merasa itu berasal dari Tuhan tanpa perlu mengkaji ulang. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa ajarannya yang mencakup mengenai malaikat maut salah adanya karena di dalam kekristenan tidak ada yang namanya malaikat maut.



[1] Paul Enn, Exodus: NIV Application Commentary ( USA: Zondervan Publishing House, 2000), 233.

 

[2] Ibid.

[3] Wayne Grudem, Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Michigan: Zondervan Publishing House, 1994), 343.

 [4] Ibid.

[5] Dalam bahasa Yunani kata sombong berasal dari kata tuphoo yang akar katanya diartikan sebagai dikelilingi oleh asap. Bentuk perfect passivenya adalah tethupotai (kondisi dimana seseorang sudah sangat yakin dengan ajarannya sehingga tidak mau dinasehati.) Daniel Lukas Lukito, Tipe orang yang Berpotensi Menjadi Ekstrim Teologinya, Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan (Malang: SAAT, 2011), 155.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Kucari Damai (Lirik & Chord)

Pribadi Yang Mengenal Hatiku (Lirik & Chord) Jacqlien Celosse

Ujilah Aku Tuhan (Lirik & Chord)