Artikel: Yesus sebagai Seorang Guru


 

Gelar Yesus sebagai Anak Manusia yang mengajarkan kebenaran memiliki kaitan erat dengan pribadi-Nya sebagai seorang guru.[1]  Mengenai pribadi Yesus sebagai Guru, Welford mengatakan, “Gelar Guru(didaskalos) muncul sebanyak dua belas kali dalam konteks kata benda pada injil Markus (4:38; 5:35; 9:17,38; 10:17, 20, 35; 12:14, 19, 32; 13:1, 14:14).[2]  Dari beberapa ayat di atas dapat dilihat bahwa Yesus adalah sosok guru yang dihormati karena otoritasnya pada masa itu

            Dalam Theology Dictionary of New Testament dijelaskan bahwa seorang guru (didaskalos) adalah sesorang yang memiliki murid-murid di sekitarnya.[3]  Gundry menjelaskan bahwa gelar Guru mengindikasikan bahwa Yesus telah mengajar dengan otoritas kepada para murid-Nya.[4]  Sejalan dengan Gundry, Brooks menegaskan bahwa Markus menampilkan sosok Yesus sebagai guru yang penuh dengan otoritas.[5]  Singkatnya, para murid memandang Yesus sebagai Guru yang memiliki otoritas.

Otoritas yang dimiliki Yesus muncul dalam peranNya sebagai seorang Guru yang mengajarkan kebenaran.  Peran Yesus sebagai Guru yang mengajarkan kebenaran terlihat dalam beberapa teks injil Markus (4:1, 6:2, 34, 8:31, 10:1).[6]  Mengenai peran Yesus sebagai Guru Santoso berkomentar, “Markus memperkenalkan Yesus sebagai guru sebanyak dua belas kali, sebagai Rabbi tiga kali dan tujuh belas kali menunjuk kepada peran Yesus sebagai guru yang mengajar.”[7]  Telford melihat bahwa banyaknya penjelasan Markus mengenai Yesus sebagai sosok guru mengindikasikan bahwa peran Yesus sebagai seorang guru sangat signifikan bagi Markus.[8]  Maka dari itu dapat dikatakan bahwa otoritas dalam pengajaran Yesus sangat penting dalam Injil Markus. 

            Otoritas Yesus sebagai Guru yang mengajarkan kebenaran, Yesus juga disebut Anak Manusia yang mengajarkan kebenaran.  Ini terlihat dalam kuasa-Nya untuk mengampuni dosa (Markus 2:1-12).[9]  Mengenai ini France mengatakan bahwa kata eksousia tidak menunjuk kepada dosa yang diampuni, melainkan otoritas untuk mengampuni.[10]  Guelich menambahkan bahwa otoritas untuk mengampuni tersebut berasal dari Allah dan bersifat aktif.[11]  Dengan kata lain otoritas Yesus di bumi sama dengan otoritas Allah sendiri.  Maka dari itu tepatlah ungkapan Hutardo yang menyatakan bahwa gelar Anak Manusia pada Yesus tidak bisa dimaknai seperti manusia pada umumnya, melainkan Anak Manusia dengan otoritas ilahi.[12]

            Otoritas Yesus sebagai Anak Manusia yang mengajarkan kebenaran juga terlihat dalam ajaran-Nya mengenai tradisi (Markus 2:27-28).[13]  Tradisi yang dimakusud disini adalah tradisi hari Sabat.[14]  Menurut Hutardo pernyataan Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat tidak mengindikasikan bahwa Yesus menganggap lebih penting manusia dari pada aturan.[15]  Ia menambahkan, “Disini Yesus menegaskan nilai-nilai yang lebih tinggi daripada sekedar aturan yaitu kebaikkan tertinggi bagi manusia.”[16]  Maka dari itu tepatlah ungkapan yang disampaikan Fu, “Dengan demikian, Yesus Kristus tidak pernah mengubah esensi hari Sabat sebagai berkat yang Allah berikan bagi manusia.”[17] 



[1] Santoso, Theologi Markus: Intisari dan Aplikasinya, 59.

[2] W.R Telford, New Testament Theology: The Theology of The Gospel of Mark, (Cambridge: Unoversity Press, 1999), 33.

 

[3] Gerhard Kittel ed, “didaskalos”, dalam Theology Dictionary Of The New Testament vol 2, (Michigan: Eerdman Publishing, 1964), 153.

 

[4] Gundry, Mark: A Commentary on His Apology of the Cross, 239.

 

[5] James A Brooks, Mark: The New American Commentary, (Tenesse: Broadman Press, 1991), 87.

 

[6] Santoso, Theologi Markus: Intisari dan Aplikasinya, 59.

[7] Ibid.

 

[8] Telford, New Testament Theology: The Theology of The Gospel of Mark, 33.

 

[9] James R Edwards, The Authority of Jesus in The Gospel Of Mark: Journal of The Evangelical Theological Society vol 37:2, 1994, 3.

 

[10] R.T France, Gospel Of Mark(The New International Greek Testament Commentary): A Commentary on The Greek Text, 129.

 

[11] Robert A Guelich, Word Biblical Commentary: Mark 1-8:26, (Texas: Word Books Publisher, 1989), 90-91.

 

[12] Hurtado, Mark: New International Biblical Commentary Volume 2, 38.

 

[13] James R Edwards, The Authority of Jesus in The Gospel Of Mark: Journal of The Evangelical Theological Society vol 37:2, 1994, 5.

 

[14] Secara Epistemologis, istilah hari Sabat dalam Alkitab pertama kali muncul di Keluaran 16: 22-30 ketika orang Israel berada di Padang Gurun Sin.  Saat itu Allah memberikan Manna kepada bangsa Israel sebagai makanan harian dan lewat Musa Allah memerintahkan mereka untuk memungutnya setiap hari, kecuali hari ketujuh yang oleh Allah disebut hari Sabat.  Untuk penjelasan lebih lanjut lih.Timotius Fu, Perhentian Hari Sabat: Makna dan Aplikasinya Bagi Orang Kristen, Veritas ;Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 11 Nomer 2 (2010), 232.

 

[15] Hurtado, Mark: New International Biblical Commentary Volume 2, 39.

 

[16] Ibid.

 

[17] Fu, Perhentian Hari Sabat: Makna dan Aplikasinya Bagi Orang Kristen, Veritas ;Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 11 Nomer 2, 237.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Kucari Damai (Lirik & Chord)

Pribadi Yang Mengenal Hatiku (Lirik & Chord) Jacqlien Celosse

Ujilah Aku Tuhan (Lirik & Chord)