Sabtu, 04 Maret 2017

Ungkapkan isi hatimu apa adanya Markus 10:13-16



Sepulang dari gereja Tulungagung- dua minggu lalu, saya dan Elo anak saya mampir di rumah orang tua saya.  Memang Elo sangat senang bila dia menginap di rumah neneknya karena disana dia bias bermain sepeda dengan anak tetangga.  Siang itu di tengah-tengah saat tidurnya Elo tiba-tiba terbangun dan meminta jeruk.  Saya dan neneknya sempat bingung tapi lantas saya menjawab permintaan Elo, ”Mana ada jeruk, di kulkas nenek juga gak ada.”  Elo lalu duduk dengan bersila dengan tangan dilipat dan dia langsung berdoa: “ Tuhan Yesus ampuni kesalahan kami, hidup kami, Elo mau jeruk.  Haleluya, amin.”  Itu doa wajibnya Elo kecuali kalimat terakhir.  Setelah berdoa dia tidur lagi, saya dan neneknya bingung kami pikir mungkin dia mengigau.  Setelah bangun tidur dia pamitan untuk bermain sepeda di sekitar perumahan.  Dari kejauhan saya mendengar Elo memanggil saya dan langsung menghampiri saya dengan sepeda kecilnya dengan ada kantong keresek putih tergantung di setir sepedanya.  Saat saya tanya darimana keresek itu dia bercerita bahwa bude Yani (tetangga) yang memberikannya.  Alangkah terkejutnya saya dan neneknya saat saya membuka isi kantong keresek itu, 5 buah jeruk manis. 

            Saat saya merenungkan ayat Firman Tuhan dalam Markus 10:13-16 ini sebenarnya saya kesulitan untuk memahami  apa hubungan menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil (ayat 15).  Saya bertanya dan mencari tahu sifat apa yang dimiliki oleh seorang anak kecil yang membuat Yesus merindukan mereka.  Yesus bahkan tidak merasa terganggu dengan anak kecil, padahal Yesus sedang sibuk mengajar dan pasti Yesus merasa lelah karena banyak orang yang mengikuti Yesus kemanapun Yesus pergi.  Murid-murid Yesus bahkan memarahi orang-orang yang hendak membawa anak-anak itu kepada Yesus (ayat 13), tetapi Yesus marah kepada penghalang anak-anak itu untuk dekat dengan Yesus, justru kata Yesus kita harus menyambut Kerajaan Allah seperti anak kecil.  Apa hubungannya Kerajaan Allah dengan anak kecil?  Ternyata seorang anak kecil memiliki sifat yang apa adanya, sifat spontan yang ada pada anak. Perilaku dan sikap yang dilakukan pada anak umumnya adalah sikap asli mereka dan tanpa ada sikap rekayasa. Hal ini dapat anda jumpai ketika anak sering berbicara ceplas-ceplos dan merefleksikan apapun yang ada dalam hati dan pikiran mereka.  Tidak ada hal yang ditutup-tutupi, rasa percaya seorang anak itu tanpa syarat dan tidak berpikir panjang.  Untuk bertemu dengan Allah yang terbaik dari diri kita adalah hati seperti anak-anak (mempercayakan semua kepada Allah dan apa adanya dihadapan-Nya).  Sikap itulah yang perlu kita tunjukkan saat kita menyambut Kerajaan Allah. 

PENUTUP:
          Selama ini bagaimanakah sikap hati kita di hadapan Allah, apa kesombongan kita yang kita tunjukkan, apakah kita berusaha untuk menutup-nutupi masalah atau dosa kita di hadapan-Nya.  Jadilah seperti anak-anak saat kita mencari Allah, tunjukkan bahwa kita sangat membutuhkan Tuhan dan kita percaya kepada-Nya, karena Dia tahu segalanya tentang kita, Dia mampu dipercaya dan mampu melakukan hal yang luar biasa bagi kita.

Pertanyaan untuk direnungkan:
·         Selediki hati kita, apakah saat kita berhadapan dengan Tuhan sikap hati kita selama ini sudah benar ataukah kita bersikap munafik?

Untuk diskusi:
·         Seorang anak itu bersikap asli apa adanya tanpa rekayasa, adakah hal yang kita rekayasa di hadapan Tuhan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lemah bukan Berarti Kalah

 Nats: 1 Sam 17:12-39 12 Daud adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-lak...