Senin, 10 April 2017

MAKNA KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM WAHYU 20:1-6

Pendahuluan

Kitab Wahyu merupakan salah satu kitab yang cukup menarik untuk di bahas.  Kitab ini penuh dengan kata-kata simbol yang memiliki arti tertentu yang sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh penulis mula-mula.  Makna ini tidak dapat di artikan dari kacamata dunia saat ini, namun harus mencari referensi perbandingan dari sumber lain untuk mengerti apa makna dari setiap simbol yang ada.

Salah satu teks dalam kita ini, yang cukup menarik untuk dibahas ialah teks pada pasal 20.  Gagasan mengenai kerajaan seribu tahun atau yang dikenal dengan kata millennium cukup membingungkan mengenai artinya.  Heer dalam bukunya “Tafsiran Alkitab Wahyu Yohanes” berpendapat bahwa istilah “seribu tahun” bukanlah seperti seribu tahun biasa, melainkan suatu simbol untuk “kurun waktu yang sangat lama.”[1]  Ada juga pandangan yang mengatakan bahwa “seribu tahun” hanya merupakan angka  yang berarti “kesempurnaan total.”  Pendapat ini menegaskan bahwa itu adalah lambang kemenangan Kristus dan berkat yang indah bagi gereja masa kini bahwa iblis telah dikalahkan dan dibelenggu.[2]  Pendapat lain datang dari Irenaeus dan Agustinus.  Irenaeus berpendapat bahwa kerajaan seribu tahun  adalah suatu masa berkat, yang masih ada di masa depan, dan akan berlangsung sebelum datangnya hari pengadilan.[3]  Sementara Agustinus berpendapat bahwa kerajaan seribu tahun itu sudah ada sekarang, dan telah mulai dengan kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga.[4]  Dari beberpa pandangan yang ada, penulis menemukan bahwa pandangan tersebut belum ada kesatuan pemahaman. Oleh sebab itu, penulis akan melakukan penelitian mengenai makna kerajaan seribu tahun yang terdapat di dalam kitab Wahyu 20:1- 6.

Makna Dalam Kitab Wahyu

Frase “seribu tahun” dalam ayat 1-7.  Periode ini dalam sejarah di kenal sebagai “Milenium”.  Kata ini berasal dari bahasa Latin, mille (seribu) dan annum (tahun) kerajaan Kristus seribu tahun di bumi.[5]  Kristus dan gereja-Nya akan memerintah atas bangsa-bangsa di Bumi dan Israel akan menikmati berkat yang dijanjikan oleh para nabi. (Yesaya 2:1-5; 4:1-6; 11:1-9; 12:1-6; 30:18-26; 35: 1-10).

Eksegesis

Teks ini di bagi ke dalam dua bagian: Pengikatan Iblis(ayat 1-3) dan  orang-orang kudus bersama-sama dengan Kristus(4-6).

Ayat 1: Malaikat yang turun dari surga telah di tangannya kunci jurang maut .  Jurang dianggap sebagai gua bawah tanah yang luas yang berfungsi sebagai tempat kurungan bagi roh-roh yang tidak taat menunggu penghakiman ( Yudas 1:6, Lukas 8:31).  Dalam I Henokh 88:1 malaikat yang jatuh terikat tangan dan kaki dan dilemparkan ke dalam jurang yang sempit dalam, mengerikan dan gelap.[6]  Namun semuanya itu adalah simbolisme saja.[7]

Ayat 2: “Ia menangkap naga” misi malaikat tersebut adalah menangkap naga itu sendiri, yang dikenal sebagai si ular tua (Kej. 3:1-7), yaitu iblis atau satan.  “Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya.”  Pengikatan itu merujuk kepada pembatasan Allah atas si jahat dalam bentuk melucuti kekuatan dan kuasanya.[8]  Yohanes belajar dari Tuhan Yesus, bahwa untuk masuk ke dalam rumah seorang yang kuat, yaitu iblis, ia terlebih dahulu diikat (Matius 12:26-29; Mark 3:26-27).  Inti dari ayat ini adalah Iblis berada di bawah kendali Allah.[9]

Jika pengikatan Iblis hanya suatu tindakan simbolis, maka wajar jika “seribu Tahun” juga di tafsirkan secara simbolis.  Kistemaker menuliskan dalam bukunya bahwa:

”Menurut beberapa teolog, 1000 tahun ini merujuk kepada rentan waktu antara kembalinya Tuhan Yesus dan akhir segala zaman.  Tetapi ada beberapa keberatan terhadap pendapat ini: (1) Kata millennium berasal dari bahasa Latin, mille (seribu) dan annum (tahun), muncul enam kali dalam pasal ini dan tidak muncul di bagian lain.  (2) Tuhan Yesus tidak berkata apa-apa tentang pemerintahan seribu tahun bersama orang-orang kudus di bumi.  (3) Dalam surat-surat mereka, Petrus dan Paulus tidak pernah menyinggung tentang seribu tahun pemerintahan Kristus di bumi.  PB mengajarkan bahwa Kristus hanya kembali sekali lagi dan bukan dua.  Pemunculan pertama seribu tahun (ayat 2) adalah masa “seribu tahun iblis” yang terentang dari masa saat iblis tinggal dalam lubang jurang maut sampai ia di lempar ke dalam lautan api untuk selamanya.  (4) Tafsiran harafiah akan kitab Wahyu yang penuh dengan simbol ini sangat sulit untuk di terima.  (5) Seribu adalah sepuluh pangkat tiga yang berarti penuh, lebih senada dengan irama kitab Wahyu, jika istilah ini ditafsirkan secara simbolis.”[10]

“Dan melemparkannya kedalam jurang maut, menutup jurang maut itu dan memateraikannya di atasnya.”  Iblis tidak mungkin dapat aktif di bumi jikalau ia di lemparkan ke dalam lubang dan memateraikannya, sehingga tidak bisa lepas.  Ini bukanlah masalah, karena kata melemparkan, menutup, dan memateraikan, menyatakan finalitas dari pelucutan kuasa yang dahulu ia miliki.[11]
“Kemudian daripada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya”  Apa maksud dari setan dilepas untuk sementara waktu ?.  Ladd mengatakan bahwa pelepasan setan akan membuktikan bahwa dosa bukan disebabkan oleh keadaan sosial yang jahat dan lingkungan yang buruk, namun oleh hati manusia yang penuh dosa.[12]  Sewaktu setan di lepaskan, ternyata ia menemukan bahwa hati manusia masih menanggapi bujukannya meskipun mereka berada pada masa yang penuh kedamaian.  Hal ini menunjukkan bahwa penghakiman Allah itu adil.

Ayat 4-6,  ayat ini merupakan bagian paling sulit di dalam kitab Wahyu.  “mereka yang dipenggal kepalanya” dan “mereka yang tidak menyembah binatang”.  Untuk mengerti suatu konsepsi yang benar dari ayat-ayat ini, kita harus kembali kemasa abad pertama.  Berbagai panganiayaan dari Kekaisaran Romawi sedang meraja lela.[13]  Para martir dengan tenang meletakkan kepala mereka di bawah pedang eksekutor.  Paulus dan Yakobus telah melakukan ini.  Mereka lebih memilih mati daripada berkata ”Kaisar adalah Tuhan”.  Orang-orang tetap beriman, meskipun mereka sedang berada di tengah-tengah api dan sedang dilemparkan ke pada binatang buas.  Oleh sebab itu, Gereja Tuhan menerima penglihatan mengenai jiwa-jiwa para martir yang setia dan bahkan rela mati demi Kristus ( 1:2,9; 6:9).

Istilah “dipenggal kepalanya” merupakan metonymy,[14] yaitu menyebutkan suatu bagian untuk menyatakan keseluruhan.  Frase “dipenggal kepalanya” bukan hanya mewakili mereka yang mati secara martir, tetapi juga mewakili setiap orang yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan walaupun tidak mengalami kematian dengan cara martir.[15]  Jadi, dapat disimpulkan bahwa mereka yang mati dipenggal kepalanya merupakan istilah yang digunakan untuk menunjuk kepada semua orang Kristen atau gereja yang sebelumnya Yohanes telah lihat dalam 6:9-11.

Tempat Kerajaan Seribu Tahun

Dalam karangan Assumtion of Moses menganggap bahwa kerajaan seribu Tahun terjadi di surga.[16]  Dalam buku Russel sendiri yang menjelaskan tentang “the kingdom on this earth”, menuliskan bahwa ada beberapa tulisan yang menganggap bahwa kerajaan ini akan berlangsung di bumi, contohnya seperti kitab Daniel, 1 Henok 6-36, 1 Henok 83-90,Perjanjian XII Patriakh, Mazmur Salomo, 1 Henok 37-71, dan Sibilline Oracles III.[17]  Menurut beberapa tulisan yang terdapat di dalam kitab Wahyu pasal 20, Yohanes menunjukkan bahwa kerajaan ini akan terjadi di Bumi.  Seperti yang terdapat di dalam pasal 20:1 “seorang malaikat turun dari sorga”, dan pasal 20:7; 20:10 “ menggambarkan apa yang terjadi di Bumi.

Pasal 12-18, bumi di gambarkan sebagai tempat yang dikuasai oleh Iblis.  Dan pasal 19:12-20:3 memperlihatkan takdir akhir mereka.[18] Namun dilanjutkan pada pasal 20:4, Iblis telah di kurung, dan dunia tidak lagi di dalam kekuasaan mereka, tetapi di bawah kekuasaan Kristus.  Hal ini membuktikan kemenangan atas kejahatan.  Kerajaan seribu tahun merupakan penggenapan janji yang terdapat di dalam pasal 3:21; 5:9-10; 6:9-10; 12:11.[19]

Maksud Kerajaan Seribu Tahun

Yohanes menggunakan angka 1000 tahun bukan untuk menunjukkan durasi dari kerajaan itu sendiri.  Angka 1000 lebih kepada arti simbol dari kesempurnaan.[20]  Sebagaimana angka “seribu” melambangkan kesempurnaan, maka dapat dikatakan bahwa masa ini merupakan masa yang sempurna yang di sediakan Kristus bagi umat-Nya.  Sebagaimana hari sabat adalah hari perhentian, maka masa ini merupakan sabad dari sejarah umat manusia.[21]

Kesimpulan

Seribu Tahun bukanlah menunjuk kepada durasi dari kerajaan serbu tahun itu sendiri, tetapi merupakan kesempurnaan.  Hal ini ditandai dengan tidak adanya manifestasi kejahatan yang terjadi pada masa itu.  Kerajaan seribu tahun merupakan masa yang dipersiapkan Kristus bagi umat-Nya yang setia kepadanya.

Kerajaan seribu tahun terjadi di dunia untuk sementara waktu dimana Kristus berdaulat penuh atas umat manusia, namun Iblis akan dilepaskan kembali untuk sementara waktu untuk menggenapi maksud Allah.  Maksud Allah disini ialah untuk menunjukkan bahwa dosa bukan disebabkan oleh keadaan sosial yang jahat dan lingkungan yang buruk, namun oleh hati manusia yang penuh dosa.  Sewaktu setan di lepaskan, ternyata ia menemukan bahwa hati manusia masih menanggapi bujukannya meskipun mereka berada pada masa yang penuh kedamaian.  Hal ini menunjukkan bahwa penghakiman Allah itu adil.  Selain itu, juga untuk menunjukkan bahwa Iblis berada di bawah kekuasaan Allah.

Seribu tahun paling baik ditafsirkan secara simbolis, berarti masa yang tidak pasti antara kenaikan Tuhan Yesus sampai kepada kembali-Nya.  Singkatnya, Ayat ini mengajarkan eskatologi yang saat ini sedang terealisasikan.  Dan melihat fungsi dari kitab ini, maka Yohanes ingin menjawab kebutuhan yang ada pada zaman itu, yaitu untuk menghibur orang percaya yang sedang berada di bawah tekanan Kekaisaran Romawi supaya tetap setia di dalam Kristus.

DAFTAR PUSTAKA

Christina, Enda.  Studi Eksegesisi Terhadap Gagasan Milenium Dalam Wahyu 20:1-6, Skripsi.  Malang:  STT Satyabhakti,  2001.

Hendriksen, William.  Lebih Dari Pemenang: Sebuah Interpretasi Kitab Wahyu.  Surabaya:  Momentum,  2007.

Herr, J. J. de.  Tafsir Alkitab: Kitab Wahyu.  Jakarta:  PT BPK Gunung Mulia,  1996.

Kistemaker, Simon J.  Tafsiran Kitab Wahyu.  Surabaya:  Momnetum, 2011.

Mounce, Robert H.  The New International Comentary On The New Testament: The Book Of Revelation.  Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company,  1977.

Russel, D. S..  The Method And Message Of Jewish Apocalyptic.  Philadelphia: The Westminster Press, 1964.

Wiersbe, Warren W.  Berkemenangan Di Dalam Kristus, Di Dalam Kristus Anda Adalah Seorang PemenangBandung:  Yayasan Kalam Hidup,  2002.

Catatan Kaki:

[1]. J. J. de Herr, Tafsir Alkitab: Kitab Wahy,. (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1996), 291
[2]. Warren W Wiersbe,  Berkemenangan Di Dalam Kristus, Di Dalam Kristus Anda Adalah Seorang Pemenang, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002), 158.
[3]. Herr, 291
[4]. Ibid.
[5]. Wiersbe,158
[6].  Robert H   Mounce,  The New International Comentary On The New Testament: The Book Of Revelation.  (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1977),  351-352
[7].  William Hendriksen,  Lebih Dari Pemenang: Sebuah Interpretasi Kitab Wahyu,  (Surabaya: Momentum, 2007), 221
[8]. Simon J. Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu.  (Surabaya: Momnetum, 2011),  528
[9].  Ibid, 583
[10]. Ibid.
[11]. Ibid, 548
[12]. Enda Christina, Studi Eksegesisi Terhadap Gagasan Milenium Dalam Wahyu 20:1-6, Skripsi ( Malang: STT Satyabhakti, 2001), 22.
[13]. Hendriksen, 227
[14].  Christina, 25.
[15].  Christina, 27.
[16].  D.S Russel,  The Method And Message Of Jewish Apocalyptic,  (Philadelphia: The Westminster Press. 1964), 290.
[17].  Ibid, 286-289.
[18].  Christina, 35.
[19].  Ibid.
[20].  Ibid, 36
[21].  Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Tunda

Nats: Luk 7:36-38, 47. "Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu d...