Senin, 17 April 2017

TEOLOGI BIBLIKA MENGENAI PERPULUHAN

PENDAHULUAN

Mengelola keuangan, sebagai salah satu bentuk berkat Tuhan, dengan baik merupakan satu hal penting yang seharusnya ada dalam kehidupan setiap orang percaya. Perlu disadari oleh setiap orang percaya bahwa seluruh kehidupannya berada di bawah Ketuhanan Yesus Kristus, termasuk di dalamnya masalah uang, sehingga kehidupan kekristenan seharusnyalah berimplikasi pada perilaku orang-orang percaya terhadap kekayaan dan kemiskinan. Oleh sebab itu, tidak salah jika kita menyimpulkan bahwa orang percaya yang gagal mengelola keuangannya dengan baik berarti ia gagal dalam melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Itu sebabnya selayaknyalah orang percaya memperhatikan hal ini dan mulai menerapkan prinsip mengatur hartanya dengan baik dan jujur agar berkenan di hadapan Tuhan sebab "tidak ada yang lebih memperlihatkan orientasi dan hubungan kita dengan Tuhan seperti sikap kita terhadap uang." Bukankah Yesus sendiri mengajarkan bahwa salah satu tanda kerohanian yang sejati adalah sikap yang benar terhadap harta (Mat. 6:19-20)? Jadi, tepatlah pernyataan J. Hampton Kcathley, III bahwa tanda seorang manusia yang benar dan saleh adalah pikirannya kepada Tuhan dan harta surgawi.

Mengapa kita harus mempersembahkan harta benda kita kepada Tuhan? Menurut Edwin L. Frizen, "One of the fundamental lessons for the Christians is that we cannot outgive God." Memberi merupakan aspek penting dalam pelayanan dan dalam kehidupan kerohanian seseorang. Walaupun pelayanan Kristen bukan hanya soal memberi uang, melainkan lebih luas dari itu, pelayanan sejati juga menyangkut pemberian kita kepada Tuhan. Akan tetapi fakta di lapangan ternyata membuktikan bahwa teologi Alkitab mengenai pengelolaan kekayaan {material possession) ini tidak terlalu sering dibicarakan di atas mimbar. Hamba- hamba Tuhan takut dianggap "mata duitan" bila berkhotbah mengenai hal- hal yang bersifat materi. Akibatnya, jemaat dibiarkan dalam ketidaktahuan mereka akan pentingnya pengelolaan keuangan sehingga uang mereka lebih banyak terbuang untuk hal-hal yang bersifat tidak rohani. Realita ini juga dikuatkan oleh hasil penelitian Craig L. Blomberg bahwa bila diperbandingkan antara berapa yang dihabiskan oleh orang-orang percaya untuk kesenangan duniawi dengan yang dihabiskan untuk membantu pekerjaan Tuhan, ternyata jauh lebih banyak yang habis untuk hal-hal yang berupa kesenangan dunia. Gene A. Getz juga menyatakan pendapat yang kurang lebih sama bahwa diperkirakan orang- orang Kristen Injili memberi rata-rata hanya 2% dari pendapatan mereka untuk memperluas Kerajaan Allah. Apa yang Getz tulis memang situasi bertahun-tahun lalu dan tidak bisa dijadikan acuan saat ini, tetapi hal ini dapat menjadi suatu sentakan bagi para rohaniawan bahwa sudah seharusnyalah jemaat Tuhan diberi petunjuk/pengajaran bagaimana mengelola keuangannya dengan baik sesuai kehendak Tuhan.

Memberi untuk pelayanan Tuhan merupakan salah satu aspek dalam mengelola keuangan yang baik. Tuhan memiliki tujuan saat Ia mempercayakan berkat pada umat-Nya, yakni agar umat-Nya dapat ambil bagian dalam pelayanan dan menjadi saluran berkat bagi orang lain. "It's about God's effort to convince people that they need his guidance and love. It's about people like us who try to understand what God is and how he wants us to live with one another. It's really about giving”

Perpuluhan merupakan salah satu aspek penting dalam hal memberi yang tak dapat diabaikan dalam kehidupan material segenap umat Tuhan, yang sangat tertib pelaksanaannya di masa PL. Selain itu, perpuluhan merupakan salah satu sistem pengelolaan keuangan yang ditetapkan oleh Allah sendiri. Akan tetapi perpuluhan ini kemudian berkembang menjadi sesuatu yang dianggap kontroversial. Ada yang menganggap praktik ini sudah tidak berlaku lagi di zaman sekarang, hanya berlaku di zaman PL di bawah hukum Taurat Musa, namun ada pula yang dengan tertib mematuhinya. Itu sebabnya penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut berbagai kontroversi seputar ajaran ini dan bagaimana sesungguhnya pengajaran Alkitab mengenai perpuluhan. Apakah perpuluhan masih relevan dilakukan di zaman sekarang ini? Atau itu hanya berlaku di zaman PL saja? Sebab ada yang beranggapan memberi perpuluhan adalah mekanismc hukum Taurat, sementara Tuhan Yesus sendiri sudah menggenapi hukum Taurat dengan kematian-Nya di kayu salib schingga segala bentuk mekanisme Taurat tidak membebani kita lagi. Apa dan bagaimana solusi yang tepat seputar kontroversi dan relevansi perpuluhan di masa kini, itulah yang akan dibahas dalam tulisan ini.

ASAL MULA PERPULUHAN

Sebelum lebih lanjut menyelidiki bagaimana sesungguhnya konsep alkitabiah mengenai pengajaran perpuluhan, terlebih dahulu kita harus mengetahui definisi perpuluhan. Dalam bahasa Inggris dipakai kata "tithtf untuk menunjuk pada perpuluhan, yang oleh Easton's Biblical Dictionary didefinisikan sebagai berikut: "a tenth of the produce of the earth consecrated and set apart for special purposes."" American Tract Society Dictionary juga berpendapat tidak jauh berbeda bahwa "tithd' adalah: "a tenth, the proportion of a man's income devoted to sacred purposes from time immemorial."12 Kedua kamus tersebut lebih menekankan aspek rohani dalam mendefinisikan perpuluhan tersebut, sedangkan kamus lain, yakni kamus Haag mendefinisikan perpuluhan dengan menekankan pada fungsinya dalam PL, yaitu sebagai: "Pajak untuk raja (ISam. 8:15-17) atau pada Bait Kudus untuk nafkah penghidupan para imam dan kaum Lewi (Kej. 14:20; 28:22).",J Dari kesemua definisi yang hampir serupa tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa perpuluhan adalah memberi sepersepuluh dari harta kepemilikan kepada Tuhan sebagai rasa syukur atas segala berkat-Nya yang kemudian digunakan untuk menopang pelayanan (menyokong penghidupan orang-orang Lewi sebagai pelayan di Bait Suci),

Dalam Alkitab perpuluhan disebut pertama kali dalam Kejadian 14:20 saat Abraham memberikan sepersepuluh dari hasil kemenangannya atas Kedorlaomer kepada Melkisedek, raja Salem, imam Allah Yang Maha Tinggi. Ayat ini biasanya dianggap sebagai ayat yang menyatakan awal mula konsep perpuluhan muncul di Alkitab. Perpuluhan tersebut diberikan oleh Abraham sebagai rasa syukurnya setelah ia berhasil membebaskan Lot dari tangan Kedarlaomer dan memperoleh banyak jarahan. Kenapa ia memberikannya kepada Melkisedek? R. T. Kendall menyatakan pendapatnya tentang hal tersebut sebagai berikut:

One answer is that Melchizedek's words were apparently the first Abraham had heard other than from God Himself which resonated with all Abraham knew of the true God... when Melchizedek blessed Abraham the latter knew that there was a direct connection between the victory he had just won and this figure who had brought out bread and wine ... it was Melchizedek's words, then, that made the difference.

Di mata Abraham, Melkisedek merupakan utusan Tuhan yang menyuarakan perkataan-Nya, apalagi disebutkan dalam ayat tersebut bahwa Melkisedek adalah imam Allah Yang Mahatinggi sehingga Abraham menganggap memberikan persembahan kepadanya sama dengan memberi kepada Tuhan. Abraham melakukannya bukan saja dengan luapan syukur, tapi juga dengan sukarela. Saat itu belum ada ketetapan yang jelas seperti di zaman Musa mengenai perpuluhan ini sehingga dapat dikatakan Abraham melakukannya atas inisiatif sendiri. "It was a voluntary act of gratitude." Walau secara fisik ia memberikannya kepada Melkisedek, tapi pada dasarnya secara rohani Abraham memberikannya kepada Tuhan sebab Melkisedek sendiri adalah bayangan dari Yesus Kristus (Ibr. 7:4-5). Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa pada zaman Abraham, perpuluhan belum menjadi kewajiban. Perpuluhan adalah persembahan yang diberikan kepada Tuhan sebagai ekspresi ungkapan syukur kita.

Perpuluhan kemudian kembali disebut dalam kisah Yakub ketika ia bernazar kepada Tuhan dalam pelariannya bahwa ia akan memberikan sepersepuluh dari segala sesuatu yang Tuhan beri padanya apabila Tuhan melindunginya dalam perjalanannya (Kej. 28:20-22). Merupakan kebiasaan/adat sejak permulaan bahwa sebelum menempuh perjalanan yang sulit dan berbahaya perlu untuk berdoa memohon perlindungan Allah. Itu sebabnya Yakub bernazar dengan alasan, " to dedicate a place of worship to God, as did Abraham, and to likewise tithe "v Sama halnya dengan kakeknya, Abraham, Yakub pun memberi perpuluhan atas inisiatif sendiri dengan sukarela. "It seems that their decision to tithe was motivated by gratitude, rather than obedience, fear of punishment, or even in order to obtain a blessing from God."

Dari cerita mengenai Abraham dan Yakub tersebut kita mendapati bahwa sesungguhnya dasar pelaksanaan perpuluhan bukanlah semata karena keberadaan keimamatan Lewi, melainkan karena keberadaan Allah. Mereka melakukannya sebagai suatu tindakan penyembahan sebab pembayaran perpuluhan adalah aksi yang signifikan dalam hubungan mereka dengan Tuhan. Meski demikian ada juga yang berpendapat bahwa kedua contoh tersebut bukanlah sebagai tindakan memberi perpuluhan, melainkan hanya tindakan kondisional semata sebab hanya disebut satu kali saja dalam sejarah kehidupan Abraham dan Yakub. Pendapat inilah yang kemudian menjadi dasar argumen yang menyatakan bahwa "perpuluhan yang sebenarnya" dimulai di zaman Taurat dan merupakan bagian dari hukum Taurat karena pada zaman Tauratlah Allah menjadikan perpuluhan sebagai suatu ketetapan, sementara perpuluhan yang diberikan oleh Abraham dan Yakub dilakukan bukan karena mereka menerima ketetapan dari Tuhan, melainkan atas inisiatif sendiri didasari kerinduan bersyukur. Mengenai perdebatan dalam hal apakah perpuluhan ini merupakan bagian dari hukum Taurat yang sudah digenapi dalam Kristus sehingga tak berlaku di masa kini dan perdebatan- perdebatan lainnya akan kita bahas pada bagian selanjutnya.

ATURAN PERPULUHAN DI ZAMAN TAURAT

Perpuluhan kemudian menjadi sesuatu yang legal di zaman Taurat Musa. Imamat 27:30-34 mencatat Tuhan menetapkan perpuluhan menjadi suatu persembahan yang wajib diberikan oleh bangsa Israel sebagai umat pilihan-Nya. Perpuluhan menjadi suatu lambang ketaatan bangsa Israel pada ketentuan Tuhan. Pada zaman Taurat ini perpuluhan bukan lagi sekadar persembahan yang diberikan dengan sukarela atas inisiatif sendiri, melainkan menjadi suatu keharusan yang pelaksanaannya diatur sepenuhnya oleh Tuhan. Perpuluhan menjadi semacam pajak wajib bagi bangsa Israel, yang diperkenalkan oleh Musa atas perintah Tuhan dengan didasari dalam bangsa Israel ada yang disebut dengan sistem keimamatan dan sistem korban. Tujuan dari perpuluhan dalam PL adalah mengajar umat Tuhan untuk selalu mengutamakan Allah dalam hidupnya sesuai Ulangan 14:23. John R. Muther mengungkapkan pemikirannya mengenai hal ini dengan menyatakan, " The Old Testament institution of the tithe... served in part to remind the Israelites that their wealth was ultimately the Lords and that they were to use it to his glory."72'
Menurut Keathley sistem perpuluhan di zaman Taurat dapat diklasifikasi ke dalam tiga bagian sebagai berikut:

1. Perpuluhan dari seluruh milik seseorang (Im. 27:30-33) yang diberikan kepada orang Lewi untuk pelayanan di Bait Allah (Bil. 18:20-21). Kaum Lewi sendiri juga tidak terlepas dari kewajiban perpuluhan ini sebab mereka pun harus memberikan sepersepuluh dari yang mereka dapatkan kepada Imam Besar Harun sebagai persembahan khusus (Bil. IS.2&).

2 Perpuluhan diambil dari apapun yang dihasilkan setelah perpuluhan pertama diberikan, yaitu perpuluhan yang dilakukan untuk hari raya Tuhan dan korban (Ul. 12:17-18; 14:22) dan dibawa ke tempat kudus, baik dalam bentuk uang maupun bukan. Dengan keharusan membawa perpuluhan tersebut ke tempat yang dipilih Tuhan, baik dalam bentuk uang maupun bukan, maka karakter perpuluhan tersebut tak terelakkan lagi menjadi berubah. Perpuluhan dapat dikatakan berubah dari semacam bentuk persembahan hasil panen menjadi pembayaran pajak belaka kepada imam dan orang Lewi sehingga tak salah jika perpuluhan dikatakan juga sebagai salah satu bentuk dari pajak kultik.  Perpuluhan ini juga dilakukan dengan tujuan mendemonstrasikan prioritas Allah dalam kehidupan umat Israel, yang dilakukan dengan rutin tahun demi tahun (Ul. 14-.22).

3. Perpuluhan yang diberikan tiap tiga tahun sekali untuk kesejahteraan orang Lewi, orang asing, yatim piatu dan janda (Ul. 14:26-29). Bentuk perpuluhan ini dianggap sebagai suatu bentuk perpuluhan yang melengkapi perpuluhan jenis kedua yang bisa dikatakan tidak memperhatikan mereka yang berkekurangan. Dengan perpuluhan jenis ketiga ini, maka orang asing, anak yatim dan janda yang biasanya terabaikan menjadi diperhatikan.

Sebenarnya bila dikalkulasikan ketiga jenis perpuluhan tersebut jumlahnya bukan lagi 10%. F. C. Grant berpendapat jika orang-orang Yahudi mempraktikkan perpuluhan sesuai dengan ketentuan yang Tuhan beri jumlahnya tidak mungkin tepat 10%, melainkan dapat sampai pada sekitar 20-23'/2% dari total pendapatan si pelaksana perpuluhan. Mengenai hal ini penulis lebih condong untuk menyetujui apa yang ditulis Baker's Evangelical Dictionary of Biblical Theology mengenai perpuluhan ini bahwa sesungguhnya hanya ada satu saja perpuluhan yang diberikan kepada Tuhan.

Kalaupun perpuluhan itu kemudian seakan berbeda karena perubahan situasi yang ada. Kitab Bilangan ditulis pada masa pengembaraan sehingga menginstruksikan orang Israel memberi perpuluhan pada orang Lewi saja. Sementara di masa kitab Ulangan, orang Israel telah memasuki tanah perjanjian dan mulai menetap sehingga memungkinkan perpuluhan tersebut diberikan sambil mengadakan perayaan khusus, yaitu memakan perpuluhan bersama antara keluarga si pelaksana perpuluhan (termasuk hamba-hambanya) dengan orang Lewi di tempat yang ditetapkan oleh Tuhan (Ul. 12:17-19). Jadi, pada dasarnya perpuluhan jenis pertama dan kedua adalah sama. Sementara untuk perpuluhan jenis ketiga sebenarnya adalah perpuluhan yang sama, hanya saja perpuluhan tersebut pada akhir tahun ketiga diberikan kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan para janda.

Selanjutnya di masa pembuangan dan sesudahnya, perpuluhan mengalami perkembangan makna yang disesuaikan dengan kondisi bangsa Israel saat itu. Pcriode pembuangan dianggap berperan besar dalam perkembangan perpuluhan menjadi pajak kultik yang sesungguhnya, di mana sclama masa pembuangan perpuluhan dapat dianggap sebagai salah satu jenis pajak yang dibayarkan pada imam-imam. Selama masa ini, perayaan pemujaan tidak lagi dapat dikombinasikan dengan pembayarannya, bahkan teks-teks sesudah masa pembuangan tidak lagi menyinggung perpuluhan yang dirayakan dengan makan bersama. Yang jelas substansi perpuluhan harus dibawa ke Bait Allah dan disimpan di sana. Pada periode ini kita juga dapat menemukan hukum yang mengizinkan penebusan substansi perpuluhan dan bentuk pembayaran lebih berupa uang daripada produk alamiah/natural. Bahkan lagi peraturan yang mengatur mengenai pengantaran perpuluhan ditinjau kembali di mana pelaksana perpuluhan tidak perlu lagi membawa persembahan ke Yerusalem. Orang-orang Lewi yang akan mengumpulkan perpuluhan tersebut pada waktu-waktu tertentu (Neh. 10:37, 38). Itu sebabnya Vischer kemudian berpendapat di masa ini, perpuluhan benar-bcnar telah mengambil rupa sebagai semacam pajak.

KONSEP PERPULUHAN DALAM PB

Jika dalam PL perpuluhan ditekankan dengan jelas dan diatur sedemikian rupa sebagai bagian dari hukum yang harus ditaati maka di era PB masalah perpuluhan tidak terlalu signifikan untuk dibahas. Kata "perpuluhan" hanya ditulis beberapa kali dalam PB. 

Pertama, disebut oleh Yesus dalam Matius 23:23 ketika menghardik orang Farisi yang secara teratur melaksanakan perpuluhan, namun tidak memiliki kebenaran, belas kasihan maupun kesetiaan.  

Kedua, disebut oleh Yesus saat menceritakan perumpamaan tentang dua orang yang berdoa di Bait Allah. Yang satu adalah seorang Farisi, yang merasa diri benar karena telah melakukan segala perintah Tuhan termasuk perpuluhan, dan yang lainnya adalah seorang pemungut cukai (Luk. 18:12). Ayat lain yang menyebut tentang perpuluhan adalah lbrani 7. Di situ dipaparkan tentang Melkisedek, gambaran Tuhan Yesus Kristus, yang menerima perpuluhan dari Abraham (Kej. 14:17-20). Akan tetapi, keempat ayat-ayat tersebut tidak menyatakan aturan-aturan khusus mengenai perpuluhan. Harus diakui tidak ada bagian atau ayat dalam PB yang menetapkan perpuluhan sebagai suatu ketetapan yang berlaku, namun yang jelas kita dapat menyimpulkan bahwa saat Yesus Kristus ada di dunia perpuluhan masih tetap berlaku di era PB, meski tidak ada ayat khusus yang menyatakan Yesus menginstruksikan murid-murid-Nya melakukan perpuluhan dan juga tidak ada ayat yang menyatakan Yesus menentangnya.

Pada perkembangan selanjutnya di era rasul-rasul, gereja mula-mula mengembangkan konsep giving (memberi), yang dipercaya merupakan konsep yang dikembangkan dari perpuluhan. Namun konsep giving ini dalam praktiknya melebihi konsep memberi 10% dari pendapatan yang ada. Di masa gereja mula-mula, jemaat Tuhan dengan hati yang digerakkan oleh Tuhan, memberikan apa yang mereka miliki untuk menjadi kepunyaan bersama dan selalu ada di antara mereka yang menjual harta mereka lalu membagi-bagikan hasil penjualannya kepada anggota yang lain sesuai keperluan masing-masing (Kis. 2:44-45). Gereja mula- mula mengalami pertumbuhan yang pesat sehingga membutuhkan keuangan yang tidak sedikit dan Alkitab mencatat bagaimana mereka semua mengatasi hal tersebut secara bersama. Tidak dikatakan bahwa gereja mula-mula mempraktikkan perpuluhan sebagaimana yang berlaku di zaman PL, namun mereka mengembangkan konsep yang melampaui konsep perpuluhan di zaman Taurat. Mereka bukan hanya memberikan 10% saja, melainkan melebihi dari takaran tersebut dan perbuatan itu mereka melakukan dilandasi dengan hati yang tulus dan mengasihi karena komitmen mereka pada Yesus Kristus dan juga untuk mencukupi kebutuhan manusiawi mereka.32 Jadi, kita dapat mengatakan bahwa konsep perpuluhan dalam PB telah digantikan dengan apa yang dinamakan giving; yang melebihi dan melampaui konsep perpuluhan.33

Giving dalam PB memiliki fungsi yang sama seperti perpuluhan dalam PL, yakni untuk menyokong pelayanan dan sebagai sumber penghidupan pelayan-pelayan Tuhan. Hal itu dapat kita lihat dari dasar-dasar Alkitab sebagai berikut:

1 Korintus 9:1-22, gembala berhak minum susu dombanya (ay. 7). Sama seperti perpuluhan yang digunakan untuk menyokong kehidupan para imam Lewi di zaman PL selaku pelayan Tuhan, pemberian {giving) jemaat dalam PB juga dipakai sebagai sumber penghidupan pelayan-pelayan Allah dan untuk membantu pekeijaan Tuhan sebab seorang pekerja yang melayani Tuhan dengan sungguh patut untuk mendapatkan upahnya. Setiap pelayan Tuhan berhak mengharapkan kehidupan standar yang sepadan dengan pekerjaannya yang mulia dan kudus.

Galatia 6:6-7 menyatakan bahwa orang yang menerima pengajaran firman seharusnyalah membagi berkatnya dengan orang yang mengajarkannya. Olford menyuarakan pendapatnya tentang hal ini dengan mengatakan: "God has never intended His servant to exist as paupers, while those who arc enriched by their ministry live as princes." Bila jemaat diberkati dengan pelayanan hamba Tuhan, maka ia wajib membagi berkatnya dengan hamba Tuhan tersebut. Bahkan ayat 6 mengatakan bagaimana seharusnya orang percaya membagi segala sesuatu yang ada padanya. Jadi, bukan sekadar 10% dari pendapatannya, melainkan dalam segala hal yang baik, tidak hanya dalam bentuk uang sesuai dengan Alkitab versi King James, "Let him that is taught in the word communicate unto him that teacheth in all good things."

Roma 15:26-27 yang menyatakan bahwa pemberian bantuan kepada mereka yang membutuhkan juga merupakan bagian dari pelayanan, terlebih membantu saudara-saudara seiman di dalam Tuhan.

Filipi 4:15-19 mengisahkan tentang jemaat Filipi yang memberi bantuan kepada Paulus dalam pelayanannya.

2 Korintus 11:7-9 menulis tentang bagaimana Paulus ditopang oleh jemaat dalam pelayanannya.

I Timotius 5:17-18 mencatat bagaimana para penatua memperoleh bantuan finansial dari domba-domba yang mereka layani.

Kesimpulannya, perpuluhan tidak disebutkan lagi sebagai aturan khusus dalam PB, namun konsep perpuluhan dikembangkan menjadi lebih luas lagi, yaitu memberi (giving) sebab keuangan merupakan aspek penting dalam pelayanan yang tak dapat diabaikan. Mengapa jemaat Tuhan harus memberi? Karena selain pelayanan butuh dukungan dana (IKor. 9:14), orang-orang miskin dan berkekurangan perlu diperhatikan (Gal. 2:10), lagipula banyak memberi tidak akan membuat umat Tuhan berkekurangan karena Tuhan berjanji Ia yang akan menjadi sumber segala berkat dan akan melipatgandakannya bagi mereka yang setia (2Kor. 9:10), asalkan umat Tuhan memberi dengan sukarela, tanpa merasa terpaksa (2Kor. 9:7).

KONTROVERSI PERPULUHAN DI MASA KINI

Ada banyak argumen yang dilancarkan untuk menolak pemberlakuan perpuluhan di masa kini. Adapun argumen-argumen tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, perpuluhan adalah ketetapan berdasarkan hukum Taurat, bukan anugerah. Karena Yesus telah datang dan menggenapi hukum Taurat dengan kematian-Nya di kayu salib, maka kita hidup bukan lagi di bawah ketetapan hukum Taurat melainkan di bawah pimpinan Roh oleh anugerah Tuhan (Gal. 5:18; Rm. 6:14).

If God did not command Christians to keep the Law, He did not compel them to tithe either. Christ fulfilled the Law with His death on the cross, nullifying its tyranny and replacing it with the freedom of grace. To require tithing would remove the precious liberty we have in Christ.

Keathley berargumen "hukum" dalam Roma 6:14 adalah anarthrous, sesuatu yang kualitatif, yang tidak bicara mengenai satu hukum tertentu seperti hukum PL, tetapi hukum apapun. Dengan demikian, kita tidak di bawah sistem/aturan apapun dalam hubungan dengan Tuhan, selain di bawah hukum Kristus tentunya (lKor. 9:21 Gal. 6:2). Itu sebabnya ia merupakan salah seorang yang beranggapan perpuluhan sudah tidak berlaku lagi saat ini. Namun, Keathley mendukung prinsip memberi dengan menyatakan bahwa sejak zaman PB yang berlaku adalah prinsip memberi sesuai dengan anugerah/bimbingan Tuhan melalui roh (2Kor. 8:1- 3,7; lKor. 16:2). Tidak ada ayat signifikan dalam PB mengenai perpuluhan. Kalaupun Yesus atau penulis surat Ibrani menyinggung soal perpuluhan, menurutnya itu hanyalah sekadar menyatakan referensi sejarah yang diberikan pada Israel di masa PL, tetapi hal itu tidak pernah menunjukkan perpuluhan menjadi aturan hidup bagi gereja. Jadi, di masa kini jemaat tidak perlu memberi perpuluhan, cukup memberi sesuai kerelaan hati dan kemauannya sendiri menurut berkat yang Tuhan beri padanya.

Kedua, perpuluhan tergantung pada keimamatan Lewi dalam aplikasinya. Setelah keimamatan Kristus menggantikan keimamatan Lewi, hal itu juga meniadakan sistem lama di mana perpuluhan termasuk di dalamnya. " With the sealing of the New Testament at Christ's death, the tithe passed with the system of which it was a part.,y4Q

Ketiga, Yesus tidak melakukan perpuluhan, demikian pula pengikut- pcngikut-Nya. " One can assume, therefore, that the absence of tithing from Jesus specific teachings gives mute testimony that its validity ceased with the end of the Old Testament.'MI

Keempat, perpuluhan melayani materialisme. Bila seseorang sebenarnya mampu memberi lebih dari 10%, namun hanya memberi 10% saja sesuai ketentuan perpuluhan dan kemudian memakai selebihnya untuk hal-hal yang tidak rohani, maka itu berarti ia sudah teijebak dalam hal melayani materialisme. "Proportionate giving relieves the donor of any pressure to give more, thus freeing the greater part for himself. With his gift paid out, he can sit back, relax and not feel guilty about how he spends the other 90percent."

Kelima, perpuluhan memproklamirkan ketidakikutsertaan. Setelah memberikan jumlah yang proporsional untuk membiayai "aksi," (maksudnya di sini pelayanan), si pemberi dapat tinggal duduk saja dan menyaksikan hasilnya dari kejauhan. Ia tidak perlu merasa harus terlibat secara pribadi dan dapat tetap memilih berdiri dengan anonim.

Keenam, perpuluhan merupakan tipuan untuk menghasilkan uang. Argumen ini merupakan alasan yang paling sering dikedepankan oleh pihak-pihak yang menolak perpuluhan. Getz, misalnya, menolak bila perpuluhan dijadikan doktrin oleh orang-orang yang menganut paham teologi kemakmuran, yang mengklaim dengan memberikan perpuluhan secara teratur akan membuat umat Tuhan diberkati berlipat kali ganda. Menurutnya, pandangan semacam ini akan menghasilkan kelompok kapitalis dan hal ini gagal ditengarai oleh para guru Alkitab, atau kemungkinan dapat saja mereka menggunakan cara ini sebagai cara gampang untuk menghasilkan uang.  Seorang teolog Indonesia, Herlianto, menyoroti hal ini dengan mengatakan:  Menyedihkan sekali bahwa belakangan ini ayat Maleakhi 3:6-10 (dengan penafsiran harfiah) banyak disalahgunakan oleh penginjil- penginjil tertentu! Banyak penginjil-penginjil memanipulasikan ayat itu untuk mengumpulkan dana yang sering disalah-gunakan dengan motivasi untuk kepentingan diri sendiri, antara lain dengan menanamkan rasa takut dikalangan jemaat dengan kotbah yang menyebutkan bahwa bila kita tidak melakukan perpuluhan berarti kita "menipu" dan akan "dikutuk" Tuhan, tetapi kita perlu berhati-hati terhadap penginjil-penginjil yang "menipu" kita dengan kotbah perpuluhansemacam itu!

Daripada mengajarkan suatu praktik yang membantu dalam mengarahkan pada pelayanan yang baik, banyak gereja dan organisasi secara licik menempatkan pola giving sebagai tipuan untuk membuat departemen pelayanan mereka lebih efektif. Mereka bahkan menggunakan "rasa bersalah" jemaat untuk memotivasi mereka, sehingga mereka dapat menghasilkan keuangan dalam jumlah besar. Penyalahgunaan konsep perpuluhan ini membuat metode ini menjadi sesuatu yang dikecam.

Ketujuh, perpuluhan bukanlah bentuk pemberian secara proposional. "Memberi sesuai dengan perpuluhan merupakan halangan bagi pemberian sesuai anugerah yang digambarkan dalam Perjanjian Bam," demikian Keathley berargumen. Banyak orang yang sebenarnya bisa memberi lebih dari hanya sekadar 10%, tetapi tidak merasa demikian karena sudah memberi sepersepuluh dari berkatnya menurut aturan perpuluhan. Namun ada juga orang yang merasa memberi sepersepuluh dari berkatnya menjadi suatu beban yang cukup berat karena keadaan ekonominya yang lemah atau "pas-pasan."

Howard Dayton, seorang pegawai Kcpala Eksekutif Crown Financial Ministries, berpendapat adalah strategi yang salah bagi gereja menetapkan perpuluhan sebab, "by focusing solely on how members should handle 10 percent of their money from God's perspective, church leaders neglect the other 90  percent and leave people unprepared for comprehensive stewardship"4? Akibatnya, tidak hcran bila pemberian jemaat untuk pelayanan tetap lebih kecil daripada yang dibelanjakan untuk hal-hal duniawi, karena merasa sudah memberi sepersepuluh, ada kecenderungan untuk menghabiskan yang 90% lagi untuk kesenangan diri sendiri.

Kedelapan, perpuluhan bukanlah syarat keselamatan. Argumen yang menyatakan bahwa perpuluhan merupakan syarat keselamatan hal adalah argumen yang terlalu jauh sehingga jika seseorang tidak memberi perpuluhan maka ia bukanlah seorang Kristen sejati dan tidak akan selamat.

Maleakhi 3:6-10 merupakan ayat yang paling sering digunakan untuk menakut-nakuti jemaat Tuhan agar memberi perpuluhan bila tidak ingin "dikutuk." Akibatnya, perpuluhan menjadi sesuatu kewajiban belaka dan bila sudah begitu berarti orang tersebut hidup di bawah hukum, padahal Galatia 5:4 menjelaskan bahwa jika kita mengharapkan kebenaran oleh karena melakukan hukum maka kita ada di luar kasih karunia Allah.

RELEVANSI PERPULUHAN DI MASA KINI

Bagi mereka yang setuju terhadap perpuluhan, ada beberapa argumen yang dikemukakan untuk menyatakan bahwa perpuluhan masih berlaku hingga kini, yaitu: 

Pertama, perpuluhan sebagaipenuntun praktis/berguna untuk konsep pemberian yang sistematis scsuai 2 Korintus 9:5, 7. "A practical plan for giving, however, enable us to circumvent the emotions and circumstances that would hinder us from being faithful stewards Bila kita tidak memiliki standar yang paten berapa yang harus kita beri, maka kita cenderung akan memberi dengan sekehendak hati yang tergantung pada suasana hati. Persoalan timbul ketika hati kita sedang tidak ingin memberi, apakah itu berarti kita tidak dipersalahkan bila memutuskan untuk tidak memberi? Bagaimanapun prinsip-prinsip pengaturan diperlukan agar kita dapat mendisiplinkan diri kita. Memberi minimal 10% dari berkat kita dapat menjadi standar agar kita dapat memberi secara sistematis.

Kedua, perpuluhan memberi kelepasan spiritual, yakni dengan melepaskan kita dari tirani materialistis. Dengan memberi secara teratur sepersepuluh dari berkat yang kita peroleh, dapat menghindarkan kita dari godaan untuk menjadi materialistis. Bagaimanapun keinginan untuk memiliki segala sesuatu ada di dalam diri tiap-tiap orang, yang siap membelenggu kita setiap saat.

Ketiga, perpuluhan mengakui Tuhan sebagai sumber dan pemilik segala harta yang dimiliki. Sesungguhnya semua yang kita miliki berasal semata-mata dari Tuhan, namun Ia memberikan dengan murah hati kepada kita. Oleh sebab itu, sebenarnya bukanlah hal yang berat untuk mengembalikan sepersepuluh dari pemberian itu kepada pemiliknya yang sah.

Keempat, perpuluhan adalah tindakan sukarela dari penyembahan. Perpuluhan merupakan bagian dari penyembahan sebab perpuluhan merupakan bagian dari korban yang kita persembahkan pada Tuhan. Dengan memberikan perpuluhan, jemaat menyatakan rasa syukurnya atas segala berkat yang Tuhan berikan.

Kelima, perpuluhan mengajar kita untuk mengutamakan Tuhan. Maksudnya, saat kita pertama kali menerima berkat dari Tuhan, maka terlebih dahulu kita menyisihkan sepersepuluh dari berkat tersebut untuk dijadikan persembahan perpuluhan, sebelum mulai memakainya untuk mencukupi kebutuhan kita. Jadi, perpuluhan diambil dari penerimaan awal kita, bukan dari penerimaan yang sudah terlebih dahulu dipotong- potong untuk berbagai keperluan.

KESIMPULAN

Setelah mempelajari seluk-beluk dari perpuluhan, mulai pada zaman PL sampai pada masa PB serta berbagai pendapat yang pro dan kontra terhadapnya, penulis berpendapat bahwa:

Pertama, sesungguhnya perpuluhan sudah dimulai dari Abraham yang kemudian menjadi bagian ketetapan Tuhan yang dilegalkan dalam hukum Taurat. Jadi, perpuluhan memang merupakan bagian dari hukum Taurat dan bila ada pihak yang menolak perpuluhan karena alasan tersebut, tidaklah sepenuhnya salah. Pada kenyataannya kita sekarang ada di bawah anugerah Kristus dan hidup dipimpin oleh Roh. Yesus telah menggenapi hukum Taurat dengan kematian-Nya di kayu salib sehingga bila kita mempraktikkan hukum Taurat dengan rasa kewajiban dan keterpaksaan oleh karena hukum atau dengan menganggapnya kita dapat beroleh keselamatan maka kita bersalah di hadapan Tuhan karena mengabaikan makna penebusan Kristus. Namun, bila kita melakukannya dengan didasari kasih dan rasa syukur kita kepada-Nya, dengan rela dan tidak bersungut-sungut sesuai 2 Korintus 9:6-8; 5:14, maka hal itu dibenarkan. Walaupun penulis menyetujui perpuluhan merupakan bagian dari hukum Taurat yang sudah digenapi oleh Yesus Kristus, tetapi penulis tidak menentang pelaksanaan perpuluhan. PB memang tidak membahas secara spesifik dan khusus mengenai perpuluhan, namun juga tidak ada ayat yang jelas-jelas mengatakan perpuluhan sudah tidak berlaku lagi. Yesus dan penulis surat Ibrani beberapa kali menyinggung perpuluhan sebagai suatu praktik yang sah. Tidak ada alasan untuk menganggap perpuluhan harus ditiadakan di zaman Perjanjian Baru dan di masa kini. Lagipula meski hukum Taurat telah digenapi oleh kematian Yesus, namun bukan berarti ditiadakan. Hukum tersebut disempumakan oleh Yesus dengan kasih-Nya sehingga bila sebelumnya kita melakukan ketetapan Allah karena takut akan hukuman, maka sekarang kita melakukannya karena kasih.

Kedua, bagaimanapun tetap diperlukan suatu sistem keuangan yang sistematis dan sehat sebagai sumber penghidupan hamba-hamba Tuhan dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka di dalam Tuhan. Untuk memenuhi hal ini, dibutuhkan peran serta seluruh umat Tuhan tanpa terkecuali. Tuhan sudah memberikan berkat bagi umat-Nya sehingga tidak berlebihan jika umat Tuhan juga perlu ambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, baik lewat berkat yang Tuhan beri maupun lewat kehidupannya.

Agar umat Tuhan dapat memberi dengan sistematis, perpuluhan merupakan standar minimal. Maksudnya, pemberian kita tidak dibatasi oleh perpuluhan tersebut, tetapi perpuluhan sebagai langkah awal sehingga kita dapat memberi melampaui perpuluhan jikalau memang kita mampu untuk itu. Gereja mula-mula dalam PB telah memberikan contoh pada kita bagaimana mereka bukan hanya memberi sepersepuluh dari harta mereka, melainkan setengah bahkan semua yang mereka punya. Dalam konteks gereja mula-mula dan ajaran rasul-rasul, perpuluhan memang tidak ditekankan lagi namun konsep tersebut tidak hilang, tetapi kemudian dikembangkan menjadi konsep giving (memberi) yang lebih luas bahkan melampaui konsep perpuluhan. Kendall yang bersikap pro terhadap perpuluhan menyuarakan pendapatnya sebagai berikut: "we should not end with the tithe but should give beyond the tithe."5[ Bagaimanapun juga perpuluhan adalah awal yang merupakan ketentuan dasar minimal bagi orang percaya. Kita tidak boleh terpaku hanya pada jumlah sepersepuluh dari berkat yang kita dapat. Kalau Tuhan sudah mempercayakan banyak sehingga kita mampu memberi lebih dari itu, sudah sepatutnyalah kita memberi lebih dari perpuluhan.

Merupakan hal yang salah bila seseorang menganggap dengan konsep memberi (giving) ia dapat memberi sekehendak hatinya sendiri. Kita memang tidak lagi di bawah hukum atau keterpaksaan, namun kita hidup di bawah anugerah Tuhan. Kita dibenarkan bukan karena perbuatan kita, melainkan karena anugerah semata (Ef. 2:8, 9). Akan tetapi, kita tetap memiliki tanggung jawab untuk hidup dalam kebebasan kita dengan bertanggung jawab dan tetap memiliki kedisiplinan diri yang didasari kasih kita dan iman pada Tuhan. Minimal kita memberi sepersepuluh dari berkat yang kita dapat dari Tuhan dengan teratur karena kita mengasihi Tuhan dan mewujudkannya dengan ikut ambil bagian dalam mendukung pelayanan Tuhan.

Pada dasarnya konsep memberi dalam PB merupakan konsep yang dikembangkan dari konsep perpuluhan dalam PL, yaitu dilaksanakan untuk mendukung pelayanan dan memperhatikan mereka yang berkekurangan (seperti: janda, anak yatim, orang asing yang ada di tengah-tengah bangsa Israel). Gereja mula-mula juga mengembangkan konsep memberi atas dasar tujuan yang sama.

Cunningham mengatakan:n The New Testament indicates that one major purpose of giving is to alleviate different forms of human need and problems. This dimension is so important that Jesus teaches that when we give to people in need, we give directly to the Lxyrd Himself (see Matt. 25:31- 46)/2

Dengan dasar ini ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam konsep memberi ini, yaitu:

Sebagai respons atas rahmat Tuhan (2Kor. 8:7), sehingga kita memberi karena kasih

Sebagai respons terhadap teladan Kristus yang memberi diri-Nya pada kita (2Kor. 8:9), sehingga kita memberi karena Yesus telah terlebih dahulu memberi pada kita

Sebagai respons terhadap kebutuhan manusia (Luk. 10:29-37; 2Kor. 8:14) dan prinsip saling memperhatikan agar tidak ada yang berkekurangan di antara umat Tuhan

Sebagai ekspresi bersyukur pada Tuhan (Im. 7:12-13) atas segala berkat dan kebaikan Tuhan

Sebagai bentuk persembahan pada Tuhan (Flp. 4:18) di mana memberi kepada pelayan Tuhan adalah sama dengan memberi kepada Tuhan

Sebagai jalan/cara simbolisasi komitmen seseorang dari semua kepemilikannya untuk melayani Tuhan dan manusia (lKor. 6:20), sebab sesungguhnya Tuhan telah menebus kita sehingga kita wajib memuliakan-Nya dalam segala sesuatu dalam hidup kita

Sebagai bukti konkret dari kasih (2Kor. 8:8, 24) bahwa seseorang yang memilik kasih pastilah tidak berat tangannya untuk memberi.

Jadi konsep memberi ini bukan meniadakan konsep perpuluhan, melainkan menyempurnakannya. Dengan konsep ini bukan berarti kita bebas dari kewajiban memberi perpuluhan, melainkan kita kita menjadikan perpuluhan sebagai starting point (prinsip awal) sehingga kita tidak terpaku pada hanya memberi sepersepuluh saja, namun memberi lebih banyak lagi karena kita mengasihi Tuhan.

PENUTUP

Perpuluhan adalah ketentuan yang berasal dari Allah, yang mengingatkan kita bahwa Ialah yang empunya segala berkat. Di masa kini, kita memberi karena kita mengasihi Tuhan bukan karena kita takut akan hukuman atau karena mengharap imbalan dan juga bukan karena dengan pemberian itu kita berharap dapat diselamatkan olehnya. Jikalau kita memang menyadari kita hidup di bawah anugerah kasih Tuhan, maka tidak ada jumlah yang terlalu berat untuk dikorbankan karena kita mengasihi Tuhan, sama seperti janda yang mempersembahkan dua peser duit dalam Lukas 21:1-4 yang dipuji oleh Yesus karena ia mempersembahkan segala pendapatannya tanpa paksaan; demikian pula Paulus memuji jemaat Makedonia yang memberi melampaui batas kemampuannya mereka (2Kor. 8:1-15). Seharusnyalah kita memberi dengan sukarela tanpa terhalang oleh kekhawatiran, keterpaksaan, ujian ataunpun tantangan seberat apapun juga. Dengan memberi, kita memuliakan Allah kita yang sudah terlebih dahulu memberi pada kita.

DAFTAR PUSTAKA

"Are You Giving to God with a Cheerful Heart or Tithing by Law to Benefit Yourself?" http://www.Ietusrcason.org/Wf34.htm; diakses pada 26 April 2011.
2002).

Arthur L. Manning 3rd, "Tithing-forToday?" http://pages.sbcglobal.net/clocks/ tithe.htm; diakses pada 26 April 2011.

Bill Bright, As You Sow the Adventure of Giving by Faith (San Bernardino: Here's Life, 1989.

Brandon Staggs, PowerBiblcCD3.7a(CD ROM; Bronson: Online Publishing,

Dalam Richard B. Cunningham, Creative Stewardship (Nashville: Abingdon, 1984)

Dalam Walker, "Tithing: What Should the Church Teach its Members about Giving?"

Douglas W. Johnson, The Tithe, Challenge or Legalism (Nashville: Abingdon, 1984.

Genc A. Getz, A Biblical Theology of Material Possession (Chicago: Moody, 1990

Herlianto, "Perpuluhan ... ? 10%," Majalah Sahabat Awam9 (Januari 1989)

J. Hampton Keathley, III, "Kejujuran Keuangan," http://www.bible.org/page. php?page_id=3690; diakses pada 26 April 2011.

John R. Muther. "Money and the Bible," Christian Histo/y Vl/2, 1987

Ken Walker, "Tithing: What Should the Church Teach its Members About Giving?" http://www.bpncws.net/bpnews. asp?ID = 16275; diakses pada 26 April 2011

Neither Poverty nor Riches. Grand Rapids: Ecrdmans, 1999.

Tithing: A Call to Serious Biblical Giving. Grand Rapid: Zondcrvan, 1983.

Tithing-Tod ay?"The Origin of Tithing," http://www.letusreason.org/doct54.htm; diakses pada 26 April 2011.

Tithing-Today?" http://www.cogeternal.org/tcxtAB5tithingtcKlay.htm; diakscs pada 26 April 2011.

Vischer, Tithing in the Early S. 30Juga dicatat dalam Lukas 11:42.

YLSA, SABDA/OLBversi 7.03 1997-1999.

“Why Modern Churches are Carnal God's Plan for a Scriptural New Testament Church," http://cnview.comychurches_today/chapter_6_truth_about_the_church.htm; diakses pada 26 April 2011).

Lukas Vischer, Tithing in the Early Church (Philadelphia: Fortress, 1966.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengawasi Hidup dengan Iman yang Teguh

Nats: 1 Ptr 5:8-9 Lawanmu, si Iblis , berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 5:9 Law...