Sabtu, 06 Mei 2017

REFLEKSI TENTANG TUJUAN PERNIKAHAN KRISTEN DAN MANAJEMEN KONFLIK DALAM PERNIKAHAN

Pendahuluan

Berbicara mengenai pernikahan pada dewasa ini tidak asing lagi sebab berita-berita di TV, radio bahkan di media cetak sangat menggetarkan.  Banyak kasus yang di bahas di berita mengenai pernikahan.  Baik itu pernikahan secara Kristen maupun non-kristen.  Dengan ini kami menggambarkan bahwa setiap orang di dunia ini memiliki perspektif mengenai tujuan pernikahan yang sangat beraneka ragam.

Para penganut agama Islam mengatakan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk Memenuhi tuntutan Naluri Manusia yang Asasi.[1]  Menurut pemahaman mereka pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan ‘aqad nikah (melalui jenjang pernikahan), bukan dengan cara yang amat kotor dan menjijikkan, seperti cara-cara orang sekarang ini; dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.  Dan tujuan pernikahan menurut mereka yang kedua adalah untuk Membentengi Akhlaq yang Luhur dan untuk Menundukkan Pandangan.[2]  Sasaran utama dari disyari’atkannya pernikahan dalam Islam di antaranya adalah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang dapat merendahkan dan merusak martabat manusia yang luhur.  Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efektif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan.

Oleh sebab itu pada kesempatan yang berbahagia ini penulis akan mengevaluasi tujuan pernikahan dari perspektif Alkitabia serta manajemen konflik sehingga kami sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus memiliki pandangan tentang tujuan pernikahan yang benar sesuai dengan apa yang Allah sudah tetapkan.

Tujuan Pernikahan Kristen dan Manajemen Konflik dalam Pernikahan

Latar Belakang Masalah Dalam Pernikahan Kristen

Apa tujuan dari pernikahan Kristen? Untuk maksud apa orang Kristen menikah dan berkeluarga? Pertanyaan yang sering kita dengar ini sudah coba dijawab, baik melalui konseling pranikah, ceramah-ceramah, maupun seminar-seminar.  Bahkan hampir setiap buku tentang pernikahan dan keluarga Kristen selalu dimulai dengan membahas pertanyaan ini.  Meskipun demikian selalu saja pertanyaan ini ditanyakan.  Rupanya keragu-raguan tak dapat disingkirkan dari dalam hati banyak orang karena mungkin realitanya mereka sendiri menjalani kehidupan pernikahan dan keluarga yang sekali-kali tidak berbeda dari orang-orang non-Kristen.  Yaitu kehidupan pernikahan dan keluarga "yang alami/natural" di mana orang bertemu, saling mencinta, membuat tekad bersama, meresmikan ikatan mereka, hidup bersama, bekerja mengumpulkan uang dan harta benda (untuk dinikmati bersama sampai hari tua), melahirkan anak-anak, mendidik, membesarkan, dan mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang mandiri dan bahagia.  Yah suatu kehidupan dengan tujuan kebahagiaan.

Inilah tujuan dari pernikahan dan keluarga "yang alami" yang memang secara praktis sudah coba dijalani oleh hampir setiap orang, termasuk umat Kristiani.  Tidak heran jikalau pergumulan mereka dalam pernikahan dan keluarga seringkali hanyalah untuk mengatasi dan menyelesaikan hambatan-hambatan dalam proses pernikahan dan keluarga mereka yang “alami” tersebut.  Sulit bagi mereka untuk mengerti dan mempercayai mereka , dari perspektif iman kristen , usaha mereka untuk membentuk pernikahan dan membangun keluarga yang bahagia adalah suatu kesia-siaan jikalau itu semata-mata manifestasi proses alami, tanpa tujuan seperti yang telah ditetapkan oleh Allah.
Pernikahan dan keluarga Kristen mempunyai tujuan yang jelas karena memang untuk maksud itulah Allah menciptakan lembaga pernikahan.  Bahkan Allah menetapkan bahwa lembaga pernikahan dan keluarga menjadi pusat kehidupan manusia seutunya.

Maka kami bisa simpulkan bahwa yang menjadi latar belakang permasalahan di dalam pernikahan kristen adalah bahwa ketika kedua pasangan kurang memahami pernikahan dari perspektif Allah.  Mereka hanya mengerti tujuan pernikahan dari perspektif sekuler sehingga sering terjadi ketidak harmonisan didalam keluarga.

Dan juga kurangnya pembinaan mengenai pernikahan Kristen sebelum masuk di dalam hubungan yang intim.  Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya perhatian dari pihak keluarga secara khusus orang tua[3].  Kurangnya pembekalan mengenai pernikahan Kristen.  Bahkan juga karena kurang ada perhatian dari para pemimpin rohani.  Mungkin di dalam gereja para pemimpin rohani mengabaikan pengajaran mengenai pernikahan.  Dan mereka lebih condong kepada pengejaran mengenai berkat dan berkat.  Sehingga para calon suami dan istri bahkan orang-orang yang ada di dalam gereja tersebut mencari informasi tentang pernikahan di luar gereja.  Sehingga ada yang dari mereka mempelajarinya dari sahabat yang tidak beriman.  Ada juga yang belajar dari situs-situs online yang tidak terkontrol.  Oleh sebab itu sangatlah penting untuk memberi pengajaran yang Alkitabiah kepada jemaat Tuhan.

Konflik Dalam Pernikahan Kristen

Dalam sebuah survei yang dilakukan terhadap pasangan-pasangan yang hendak menikah, jawaban mereka tentang tujuan pernikahan ternyata bermacam-macam diantaranya; sebagian tujuan menikah karena ingin mempunyai keturunan[4], ingin mendapat kebahagian, ingin diperhatikan, ingin mendapatkan kepuasan seksual dll.  Menikah dengan tujuan diatas tentunya sangat berbahaya karena mungkin saja apa yang diinginkan tidak tercapai dan kalau tidak tercapai bagaimana?  Hal ini akan menimbulkan problem dalam rumah tangga.  Secara umum pasangan yang akan menikah berharap pernikahannya akan bahagia dan sesungguhnya harapan itu tidaklah salah, hanya saja bagaimana memperoleh kebahagiaan itu ?

Cara pandang mengenai pernikahan sangat mempengaruhi kehidupan keluarga.  Jika seorang memandang pernikahan sebagai objek seksual maka ia akan lebih kepada kepuasan seksual, dan jika seorang memandang pernikahan sebagai langkah awal untuk menghasilkan keturunan maka ia akan berusaha sampai mendapatkan anak.  Pertanyaannya “jika ia tidak mencapainya?  Maka apa yang akan terjadi? Inilah masalah yang dihadapi dewasa ini.

Ada orang yang selingkuh karena keinginannya tidak tercapai[5].  Misalnya alasan tidak mendapat anak .  Sebab ia menganggap bahwa tujuan menikah adalah untuk mendapatkan keturunan  Sehingga orang yang bersangkutan akan memiliki pasangan “simpanan” sampai istri itu hamil lalu ia mulai bercerai dengan istri lamanya, sehingga mulai terjadi konflik dalam keluarga yang sudah nikah.

Ada juga orang yang bercerai karena kurang sejahtera di dalam rumah tangga.  Orang-orang seperti ini adalah mereka yang memiliki perspektif pernikahan dari aspek perekonomian.  Mereka menganggap bahwa ketika nikah pasti kebutuhan dalam perekonomian tercapai secara maksimal.  Tetapi ketika mereka melihat fenomena yang begitu bertentangan dengan apa yang mereka inginkan sebelumnya sehingga terjadi problema dalam keluarga.  Jadi dari sini kami bisa menyimpulkan bahwa cara pandang seseorang terhadap sesuatu akan menentukan tindakannya.  Jika seorang memandang pernikahan dari perspektif dunia maka ia akan bertindak seperti apa yang dunia praktekkan mengenai nikah, tetapi sebaliknya jika seorang memandang pernikahan dari perspektif Allah maka ia akan bertindak sesuai dengan apa yang Allah sudah tetapkan sebelumnya mengenai pernikahan.  Oleh sebab itu sangat penting bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus perlu mengetahui tujuan pernikahan dari perspektif Allah.

Tujuan pernikahan Kristen

Karena itu tujuan pernikahan Kristen bukanlah sekedar mendapatkan keturunan[6]. kebahagiaan tetapi tujuan pernikahan Kristen yang benar adalah pertumbuhan (growth). Ketika masing-masing pasangan bertumbuh maka akibatnya adalah kebahagiaan.  Jadi kebahagiaan merupakan akibat dari sebuah pertumbuhan dalam rumah tangga.  Mengutip pernyataan Pdt. Julianto “ syarat untuk bertumbuh adalah: pertama  masing-masing sudah menerima pengampunan dari Kristus, sehingga masing-masing mampu saling mengampuni, kedua adaptability, artinya masing-masing tidak memaksa atau menuntut pasangannya, sebaliknya saling memahami dan memberi sebab identitas manusia ditetapkan sedemikian tinggi, hormat dan mulia, karena diciptakan mirip Allah.[7]

Disisi lain tujuan pernikahan Kristen secara teologis adalah sebuah lembaga yang dirancang Allah dalam memultiplikaskan  atau melipat gandakan gambar diri-Nya lewat keturunan manusia.[8]  Sebagaimana Allah menciptakan manusia segambar dengan diri-Nya, Maka keturunan manusia tersebut adalah representasi gambar Allah.  Dengan menyadari akan hal ini maka kelak ketika pasangan-pasangan sudah menikah akan menghargai arti sebuah anak dalam keluarga dan berusaha mendidik dengan benar dan bertanggung jawab.

Manajemen Konfli

1. Pencegahan selalu lebih baik daripada pemulihan

Caranya? Dengan memahami kebutuhan dasar pasangan. Seorang suami atau pria memiliki satu kebutuhan dasar, yaitu ingin merasa dihormati[9]. Sedangkan, istri ingin merasa dikasihi. Apabila kebutuhan masing-masing ini terpenuhi, maka baik suami maupun istri akan merasa bahagia.  Dua prinsip ini sesuai dengan ayat Alkitab, yakni:

Kolose 3:19, “Dan para suami, hendaklah Saudara mengasihi istri dan bersikap baik kepadanya serta janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (FAYH)

1 Petrus 3:1, “PARA istri, sesuaikanlah diri dengan rencana-rencana suami Saudara; sebab sekalipun pada mulanya mereka tidak mau mendengar Saudara berbicara tentang Tuhan, kemudian mereka akan ditundukkan oleh kelakuan Saudara yang patut dihargai dan tidak bercela. Kehidupan yang saleh jauh lebih besar pengaruhnya terhadap mereka daripada kata-kata.” (FAYH)

Efesus 5:33, “Jadi, sekali lagi saya katakan, seorang laki-laki harus mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri; dan istri harus menghargai suaminya, mematuhi serta menghormatinya.” (FAYH)

Apabila tiap-tiap kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, pasangan mungkin akan bereaksi secara negatif. Dr. Emerson Eggerichs mengatakan, pasangan akan membentuk satu pola yang disebut dengan The Crazy Cycle atau “Siklus Kegilaan”.

Di saat pasangan tidak mendapatkan kebutuhan yang diinginkannya, ia akan merasa terluka, frustrasi, merasa tak dikasihi dan tak dihormati[10].  Pertanyaan yang sering kaum wanita ajukan adalah, apakah pasanganku mengasihiku seperti aku mengasihi dia? Jika jawabannya tidak, wanita cenderung ingin mengubah pasangannya dengan cara mengeluh dan mengkritik agar pasangannya lebih bisa mengasihi. Namun, cara itu pasti gagal karena saat pria mendengar kritik tajam dan sikap menentang, maka ia akan menganggapnya sebagai penghinaan, lalu hal itu memunculkan perasaan tidak dihormati.

Sebaliknya, pria cenderung bertanya, apakah aku dihargai? Jika tidak, maka pria mengambil tindakan mendiamkan dengan tujuan agar wanita berubah. Sekali lagi, itu juga pasti gagal karena sikap ini membuat wanita merasa tidak dikasihi.
Akhirnya, tanpa kasih, wanita bereaksi tidak hormat; dan tanpa hormat, pria bereaksi tidak mengasihi.

Pertanyaannya, sejauh mana kita menyadari pola the crazy cycle mendasari konflik di dalam kehidupan rumah tangga? Apakah kita mengasihi dan menghormati pasangan? Apakah kita pun merasa dihormati dan dikasihi oleh pasangan? Untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, maka perlu adanya kesediaan untuk melihat ke dalam pola lingkaran tersebut dan belajar mengungkapkan perasaan terhadap pasangan.

Kunci untuk mengatasi the crazy cycle ada pada Efesus 5:22-33.
Melalui tulisannya, Paulus sangat tegas menyatakan agar suami mengasihi istri, serta istri harus menghormati suami. Jika setiap suami-isteri Kristen memberlakukan prinsip ini ke dalam rumah tangganya, dapat dipastikan bahwa tak ada suami yang menindas istri, tidak ada istri yang tak menghormati suami, karena mereka saling memperlakukan dengan penuh kasih sayang dan penghormatan.

Mengerti kebutuhan mendasar pasangan—kasih & hormat—dapat menolong suami-istri keluar dari zona the crazy circle. Agar dapat memahami kebutuhan mendasar ini, suami dan istri dapat mengajukan pernyataan ini kepada pasangan:

“Aku merasa dikasihi/dihormati jika kamu …” dan
“Aku mau mengasihi/menghormati kamu dengan …

2. Bersedia mengakui kesalahan tanpa harus menyalahkan

Reaksi beberapa pasangan terhadap beberapa perubahan-perubahan yang terjadi dalam pernikahan adalah menciptakan jarak; pisah ranjang atau cerai[11].  Oleh sebab itu jika ada masalah oleh karena terjadi perubahan dalam pernikahan maka jangan mengatakan, “Aku akui tadi aku memang salah, tetapi aku tidak akan begitu kalau kamu tidak seperti itu,” atau “Iya, aku yang salah, tapi kamu juga salah…” Dalam hal ini, sebaiknya kata tetapi dihilangkan. Belajarlah untuk mengakui kesalahan kepada pasangan secara tulus.

3. Saling mengizinkan untuk berbicara secara bebas dan mendengarkan dengan sikap yang terbuka tanpa membela diri (active listening)
Belajar untuk menciptakan suasana yang penuh pengalaman positif, yaitu pasangan dengan bebas mengungkapkan perasaan serta pikirannya. Misalnya, “Saya sangat senang kalau saya bercerita, kamu mendengarkan saya,” atau “Saya merasa khawatir kalau kamu tidak memberi saya kabar.”

4. pecahkan masalah pada waktu dan tempat yang tepat

Usahakan secara teratur merencanakan waktu dan tempat bersama pasangan untuk membicarakan masalah berdua karena kesembuhan tidak datang dari luar, tetapi datang dari dalam diri seseorang yang telah dilukainya.[12]  Jangan terburu-buru dalam pemecahan masalah, carilah waktu yang tepat untuk membicarakannya.

5. Saling mengerti; jangan saling menghakimi

Tujuan pasangan adalah mengatasi konflik, bukan adu argumentasi yang dapat menyerang pasangan. Perilaku, tuduhan, kata-kata yang kasar, tidak sopan dan menyerang secara pribadi merupakan cara-cara yang tidak bisa dibenarkan dalam konflik dan yang menghancurkan pernikahan atau relasi! Bersikaplah rendah hati dan bersedia untuk mengampuni (lih. Efesus 4:31-32).

6. Menetapkan prinsip time out

Isteri Anda adalah karunia Allah untuk Anda.[13]  Di dalam membicarakan masalah, pasangan saling mengizinkan untuk meminta time out (waktu sejenak) jikalau tidak siap untuk menyelesaikan pembicaraan saat itu.  Pihak yang meminta time out harus mengatakan kapan pembicaraan diteruskan.

7. Jika tidak bisa menemukan solusi dari konflik, carilah pertolongan

Carilah seseorang yang Anda berdua hormati dan Anda dapat menemukan jalan keluar.  Tentunya cari orang yang memang bisa dipercayai dan bertanggung jawab dalam masalah tersebut.  Bisa itu dia seorang gembala sidang di gereja atau staf dan sebagainya, yang penting orang tersebut bisa mengarahkan kedua pasangan kepada jalan yang benar.

Akhirnya, mengatasi konflik adalah keterampilan yang membutuhkan waktu serta latihan untuk melakukannya. “However, each one of you also must love his wife as he loves himself, and the wife must respect her husband.” (lihat Efesus 5:33, New International Version).

Kesimpulan

Cara pandang seseorang mengenai sesuatu objek akan mempengaruhi tindakan dan sikapnya terhadap objek tersebut.  Jadi jika seorang memandang pernikahan sebagai objek seksual, maka ia akan memperlakukan pasangannya hanya untuk memuaskan keinginan seksual nya.  Dan jika seorang memandang pernikahan adalah suatu lembaga yang ditetapkan oleh Allah sehingga melaluinya akan menggenapi rencana-Nya, maka orang tersebut akan memperlakukan pasangannya berdasarkan kasih yang bersumber dari Allah, yaitu kasih agape.

Kurangnya pengetahuan mengenai pernikahan kristen adalah salah satu penyebab konflik di dalam pernikahan kristen.  Maka itu para calon pengantin diharapkan untuk terlebih dahulu membekali dirinya dengan pengetahuan tentang pernikahan Kristen yang benar, sehingga ketika masuk dalam pernikahan kudus maka kedua pasangan tersebut bisa mengatur rumah tangganya secara maksimal.

Maksimal kedua pasangan sebelum menikah harus mengerti tujuan pernikahan kristen, yaitu untuk bertumbuh.  Bertumbuh bisa secara spiritual maupun intelektual.  Dan tujuan pernikahan Kristen secara teologis adalah sebuah lembaga yang dirancang Allah dalam memultiplikaskan  atau melipat gandakan gambarmdiri-Nya lewat keturunan manusia.  Jadi pernikahan adalah bagian dari rencana Allah yang mulia yang harus dihormati.  Sebab untuk melakukan perintah Allah di dalammkejadian 1:28 “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."  Semestinya harus melalui satu fase yang sangat sakral yaitu pernikahan.

Penutup

Di akhir dari refleksi tentang tujuan pernikahan Kristen dan manajemen konflik ini, dihimbau kepada para calon pengantin bahkan yang sudah nikah agar jangan lupa melibatkan Tuhan di dalam segala perencanaan keluarga sebab yang mencetuskan lembaga pernikahan adalah Allah, dan Dia jugalah yang memiliki rencana yang ilahi di dalam setiap pernikahan.

Daftar Pustaka

Artikel on-line.  Diambil dari http://almanhaj.or.id/content/3232/slash/0/tujuan-pernikahan-dalam-islam/; Internet; diakses 18 Agustus 2014.

Chapman, Gary. The Five Love Laguages of Teenagers “Lima Bahasa kasih untuk Remaja.” Batam: Interaksara, 2003.

Then, Debbie . Jika Suami Anda Berselingku. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.

Munroe, Myles. The Purpose and power of Loe & Marriage. Jakarta: Imanuel, 2011.

Tong, Stephen PDT. DR. Keluarga Bahagia “seri mimbar reformed Injili Indonesia.” Jakarta: Lembaga Reformed Indonesia, 1995.

Geisler, Norman L. Etika Kristen “pilihan dan isu Kotemporer” Edisi kedua. Malang: SAAT, 2010.

Hopson, Darlene powell. menuju kelauarga kompak “8 prinsip praktis menjadi orang tua yang sukses” Bandung: Kaifa, 2002.

Romance, MRS.  Mengapa Orang Jatuh Cinta (Batam: Interaksara, 1986) 

Wright, H. Norman. So You’re Getting Married “Persiapan pernikahan” Yogyakarta: Yayasan Gloria, 1998.

Christenson, Nordis. Pasangan Kristen. Surabaya: Citra pustaka, 1977.

Rosberg, Barbara. Lima Kebutuhan Wanita yang perlu dipahami oleh setiap pria. Jakarta: Indo Gracia, 2001.

Catatan Kaki

[1]  [Artikel on-line]; diambil dari http://almanhaj.or.id/content/3232/slash/0/tujuan-pernikahan-dalam-islam/; Internet; diakses 18 Agustus 2014.

[2]  Ibid 1.,
[3]  Gary Chapman, The Five Love Laguages of Teenagers “Lima Bahasa kasih untuk Remaja” (Batam: Interaksara, 2003), 60.
[4] Ibid., 2.
[5]  Debbie Then Jika Suami Anda Berselingku (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 3.
[6]  Myles Munroe The Purpose and power of Loe & Marriage (Jakarta: Imanuel, 2011), 17.
[7]  PDT. DR. Stephen Tong Keluarga Bahagia “seri mimbar reformed Injili Indonesia” (Jakarta: Lembaga Reformed Indonesia, 1995) 12.
[8]   Norman L. Geisler, Etika Kristen “pilihan dan isu Kontemporer” Edisi kedua (Malang: SAAT, 2010), 355.
[9]  Darlene powell Hopson, Ph. D. & Derek S. Hopson, Ph.D. menuju kelauarga kompak “8 prinsip praktis menjadi orang tua yang sukses” (Bandung: Kaifa, 2002) 115.
[10]   MRS. Romance, Mengapa Orang Jatuh Cinta (Batam: Interaksara, 1986) 60.
[11]  H. Norman Wright, So You’re Getting Married “Persiapan pernikahan” (Yogyakarta: Yayasan Gloria, 1998) 64.
[12]  Larry & Nordis Christenson, Pasangan Kristen (Surabaya: Citra pustaka, 1977) 53.
[13]  DR. Gary & Barbara Rosberg, Lima Kebutuhan Wanita yang perlu dipahami oleh setiap pria (Jakarta: Indo Gracia, 2001) 20.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lemah bukan Berarti Kalah

 Nats: 1 Sam 17:12-39 12 Daud adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-lak...