Selasa, 19 Desember 2017

Pendalaman Alkitab "Roma 16:1-27"

1. Roma 16:1-16, jika kita baca sekilas terkesan sangat membosankan karena isinya melulu tentang salam kepada seseorang. Tetapi kita renungkan ayat-ayat ini kita mendapat hikmat, bahwa dalam hubungan antara teman atau antara manusia, jika nama sesorang disebut, menunjukkan hubungan yang lebih intim, lebih dekat, dan yang menerima salam merasakan ada sesuatu yang lain. Jadi bacaan tentang penyampaian salam ini sebenarnya tidak membosankan. Paulus menunjukkan sesuatu yang khusus yaitu dia menyebut nama orang yang dia beri salam satu per satu. Saat kita bersalam-salaman, jika kita memanggil nama orang yang kita salami, akan ada sesuatu yang luar biasa.

Paulus ingin menunjukkan kasih yang nyata, ada perhatian, ingatan yang baik satu dengan yang lain, sehingga dia tidak bosan-bosannya menyebut nama orang satu per satu. Kita suka menitipkan salam secara borongan, “salam buat semua”.

Teladan Paulus ini merupakan satu kekhususan, dari hal-hal yang kecil kasih itu mengalir. Kasih tidak selalu harus mengalir dari “sungai yang besar”, tetapi juga bisa dari “kali yang kecil”. Dari hal-hal kecil yang tidak pernah kita pikirkan, bahkan hal-hal yang sering kita abaikan, kasih mengalir.

2. Ada 24 orang yang dikirimi salam. Dari 24 nama ini, ada yang budak, ada orang Yahudi, ada orang Romawi, sebagian besar Yahudi. Yang mendapat penghargaan ada 11 nama. Ini mengingatkan jika kita bertemu dengan Yesus nanti, saat nama kita tercatat di kitab kehidupan dan saat dibacakan apakah kita akan dapat pujian dari Tuhan?

Ada nama 7 perempuan yang menggambarkan bahwa peranan perempuan penting dan mereka ambil bagian dalam pelayanan. Roma 16:12, Trifena dan Trifosa, dua saudara, arti nama mereka adalah perempuan yang halus. Tetapi mereka bekerja membanting tulang dalam pelayanan mereka. Roma 16:5, Epenetus, buah pertama dari pelayanan Paulus di Asia. Makna yang paling dalam dari bacaan hari ini adalah rekonsiliasi, secara vertikal dan horizontal. Ada rekonsiliasi antara budak dan tuannya. Dalam Kristus ada pendamaian, antara kita dengan Allah dan antara kita dengan sesama, sehingga tidak ada perbedaan antara budak dan tuan, Yahudi dan non Yahudi, laki-laki dan perempuan.
3. Roma 16:1-16, merubah hati. Jika kita melayani di suatu tempat atau saat kita sharing seringkali kita mengharapkan rasa terima kasih dari jemaat. Tetapi Paulus melayani begitu banyak, tetapi pada akhirnya dia yang mengucapkan terima kasih. Dia tidak pernah mengharapkan terima kasih dari orang lain, tetapi dia bisa mengingat nama orang lain satu per satu, dan berterimakasih pada mereka. Berterimakasihlah pada mereka yang memberi kesempatan pada kita untuk melayani.
4. Jemaat Kristus terbagi dalam 2 kelompok:
a. Orang-orang yang diberi salam.
b. Jemaat yang menimbulkan perpecahan – Roma 16:17.
Salam pada setiap orang selalu disertai dengan penjelasan tentang orang itu, yang merupakan satu identitas dan penghargaan bagi orang yang disebut. Saat kita atau Paulus menyebut Allah, identitas Allah disebut. Roma 16:25, setiap Paulus mengucapkan tentang Tuhan, dia beri identitas dan penghargaan bagi Tuhan. Apa yang Paulus lakukan terhadap Tuhan, dia lakukan juga terhadap manusia. Ini merupakan bentuk penghargaan yang jarang muncul di antara kita.  Kita cenderung melihat kekurangan orang lain, hal-hal yang berbeda dengan diri kita. Tetapi Paulus selalu melihat hal yang positif dalam diri orang lain dan menonjolkan hal tersebut. Ini sangat membesarkan hati orang yang disebut. Sebaiknya ini juga kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Paulus ternyata lebih dulu melakukan dengan melihat sisi positif orang lain.

Peranan wanita ternyata sangat penting, bahkan yang pertama kali disebut adalah wanita. Orang banyak berhasil karena ada dukungan wanita yang mau berkorban. Wanita di Indonesia sudah mulai diberdayakan peranananya dan kita juga harus memulainya dalam pelayanan di tempat ini.
5. Roma 16:1-16, kita harus belajar dari cara mereka berhubungan. Mereka berhubungan begitu erat, satu sama lain saling memperhatikan. Hubungan kita hanya erat di pertemuan, di luar ini tidak ada apa-apa. Jadi kita perlu meneladani hubungan mereka. Sejak dulu ada pemanfaatan nama Tuhan, dan ini ditulis dalam perikop kedua. Saat ini tidak jelas apakah kita melayani untuk diri kita sendiri atau Kristus. Hubungan antara jemaat dari satu tempat dengan jemaat di tempat lain begitu indah. Sekretaris Paulus juga punya hati dan keberanian untuk terlibat dan ikut menitipkan salam, demikian juga teman-teman dekat Paulus. Ini membuat kita harus bercermin, apakah kita dekat pada jemaat di dalam gereja sendiri dan gereja lain. Teladan dalam Roma memperlihatkan satu kesatuan yang begitu indah yang membuat pelayanan ini berhasil. Ada pengorbanan dan sikap saling membantu. Mungkin kita membantu di gereja, acara seminar, kebangunan rohani, tetapi tidak membantu sesama kita.
6. Roma 16:1-16, Paulus tidak bosan-bosannya menyampaikan salam kepada setiap orang satu per satu. Di sini terlihat bahwa Paulus mengasihi orang lain dan bagaimana Paulus memperhatikan teman-teman sepelayanan, kasihnya tercermin kepada setiap orang, satu per satu. Dia tidak hanya titip salam melalui seseorang jika orang itu bertemu dengan mereka.

Hendaknya kita dengan kesungguhan dan perhatian kita juga saling mengasihi dan saling melayani. Paulus mengutarakan kepada teman-teman sepelayanannya, sehingga dapat meyalani satu dengan yang lain.

Paulus juga mengajar kita untuk saling mengampuni, terhadap orang yang memiliki ajaran yang tidak sama kita, atau jika kita tidak setuju dengan pendapat orang lain, kita harus dapat saling mengampuni. Mengasihi, melayani, mengampuni adalah makna yang terkandung dalam salam Paulus.

Pembahasan

Kita semua sepakat pasal 16 berbicara tentang salam. Tema sentral yang menjadi topik sharing adalah tentang salam.

Roma 16:1-16, Paulus bicara mengenai salam kepada beberapa orang.
Ayat 21-24, salam dari beberapa orang kepada jemaat di Roma.
Ayat 25-27, salam dari Allah Tritunggal kepada manusia.
Ayat 17-20, ada penyimpangan dari tema sentral, Paulus memberi warning supaya kita berhati-hati karena ada sekelompok orang yang mau membuat kita hidup tidak dalam situasi bersalam-salaman, tetapi menjadi saling curiga, pecah dan menjadi batu sandungan satu sama lain.
Tema perikop ini: Christian community (komunitas Kristen).
Ada berbagai macam komunitas di dunia ini, kita kelompokkan menjadi 2 kelompok besar: komunitas Kristen dan komunitas dunia.
Komunitas dunia: komunitas dalam pekerjaan, organisiasi sosial, lingkungan RT/RW, keluarga, suku dsb. Jika kita bandingkan berbagai komunitas ini dengan komunitas Kristen, maka timbul pertanyaan: Apa yang menjadi ciri khas dan keunikan komunitas Kristen, yang membedakannya dengan komunitas lain?
Jika tidak ada yang membedakan, maka tidak ada sesuatu yang signifikan dalam komunitas Kristen. Komunitas Kristen sangat berbeda dengan komunitas lain. Perbedaan paling mencolok adalah dasar yang membangun komunitas tsb.
Dasar yang membangun komunitas dunia adalah tujuan untuk saling menguntungkan (mutual relationship). Saat kita masuk dalam suatu komunitas, kita akan bertanya “benefit apa yang saya peroleh”. Kita tidak akan masuk dalam satu komunitas dan membuang waktu jika tidak mendapat benefit. Dalam komunitas RT/RW sekalipun, minimal kita bisa saling mengenal orang lain, membina relasi yang akhirnya untuk tujuan saling menguntungkan.
Dalam komunitas dunia, kita harus saling menguntungkan satu sama lain. Dalam proses untuk saling menguntungkan, ketika kita datang dalam komunitas itu, kita mulai memperhatikan, mengawasi dan bahkan mencurigai satu sama lain. Kita tidak masuk komunitas tersebut dengan langsung percaya atau menerima, langsung menjadi baik, menyambut orang dengan baik, percaya dengan orang itu dan punya hubungan yang baik dan indah dengan orang lain. Jika kita baru masuk, kita adalah orang asing, sehingga ada sikap saling mengawasi, saling memperhatikan gerak gerik orang lain.

Ketika Paulus bicara tentang salam, dan kita kaitkan dengan istilah komunitas, kita mendapati adanya komunitas yang indah. Salam-salam ini Paulus sebagian besar ditujukan pada orang-orang di kota Roma, 1-16, tetapi orang-orang ini tidak semuanya adalah jemaat di kota Roma. Ayat 1-2, Febe, melayani jemaat di Kenkrea, Kenkrea bukan di Roma, tetapi bagian dari Korintus. Kemungkinan besar Febe ini adalah orang yang sebenarnya wanita pebisnis yang berkeliling dalam perjalanan bisnisnya, dekat dengan Paulus dan mendukung pelayanan Paulus.

Priska dan Akwila juga bukan jemaat Roma, mereka adalah orang yang asing satu sama lain. Ketika Paulus memberikan salam-salam ini, Paulus mencoba mengajak jemaat Roma, untuk membentuk Christian community, Roma 16:16, satu kata yang menjadi ciri khas orang Kristen: bersalam-salamlah kamu dengan ciuman kudus. Pada saat itu orang saling bersalam-salaman dengan memberikan ciuman. Ini merupakan bentuk salam dalam kultur saat itu.  Saat ini bentuk salam-salaman dalam wujud jabat tangan. Ketika Paulus berbicara tentang salam, Paulus menggunakan istilah: bersambutlah, bersalam-salamlah kamu dengan ciuman kudus. Ciuman kudus yang dimaksud di sini merupakan interpretasi Paulus yang bersifat di luar atau melewati hal-hal yang bersifat fisik.

Ada 2 hal yang kita harus mengerti tentang ciuman kudus:
1. Roma 16:1-2, Menaruh perhatian, menyambut dan menerima.
2. Roma 16:2b. Saling menerima dan mendukung karena orang itu adalah orang yang betul-betul cinta Tuhan.

Menaruh perhatian, menyambut dan menerima. Dalam menaruh perhatian, menyambut dan menerima orang lain, ada batas-batas atau berbagai macam lapisan yang tanpa disadari mempengaruhi kita saat menerima orang lain. Biasanya kita menerima orang lain ada kategori-kategori tertentu yang menentukan, misalnya suku. Ketika kita menerima orang yang kulitnya berbeda, belum tentu kita bisa se-welcome jika kita menerima orang yang satu suku. Kategori lain: relasi keluarga. Prioritas utama pasti keluarga, jika dibanding dengan orang luar. Selain itu ada kateogori suku, kategori level strata kehidupan dalam masyarakat: kehidupan perekonomian yang baik, kurang baik atau orang dari kelompok buruh. Tanpa sadar, ketika kita menerima dan menyambut seseorang kita melihat latar belakang orang tsb. Bahkan seringkali kita menilai secara kasat mata melalui penampilan seseorang dan langsung men-judge orang tersebut dari penampilannya. Fenomena luar ini langsung menjadi kategori kita dalam menerima orang lain. Selain itu ada batasan jenis kelamin. Jaman dulu, penerimaan antara wanita dan pria berbeda. Kita akan menyambut orang dengan cara yang berbeda yang dipengaruhi oleh batasan dan kategori-kategori tertentu.

Paulus berkata, ketika kita bersalam-salaman dengan ciuman kudus, kategorinya adalah: menyambut dia dalam Tuhan sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus. Jika orang-orang itu adalah orang yang hidup dalam Tuhan, orang-orang kudus, dari kondisi sosial,  ekonomi, budaya atau suku apapun, siapaun dia, dia adalah saudara seiman kita, kita harus menerimanya, menyambutnya dengan hangat, buka tangan lebar-lebar, jangan dengan perasaan curiga atau cemas, tetapi dengan kesungguhan hati.

Fondasi penerimaan adalah karena Allah. Ketika Allah menyambut kita, kita bukan siapa-siapa. Tuhan tidak melihat latar belakang pendidikan ataupun level sosial ekonomi kita. Karena Allah demikian maka kita juga harus seperti Tuhan dalam menerima dan menyambut orang lain. Sebagai orang Kristen, tanpa sadar, kita masih dibatasi kategori-kategori tertentu dalam menyambut dan menerima orang lain.

Konteks waktu itu dalam hal menerima dan menyambut orang lain, artinya, siapkan tempat di rumahmu untuk dia menumpang, makanan dan semua fasilitas lainnya untuk menampung dia, bukan hanya sekedar salam-salaman, tetapi membantu memenuhi kebutuhan dia, menolong dia. Orang Kristen memang harus punya spirit untuk menerima, tetapi harus bijaksana juga dalam menerima orang lain. Ada satu kasus di seorang jemaat membantu seseorang di gerejanya yang menyatakan bahwa dia sudah percaya Tuhan dan hidupnya begini dan begitu. Orang itu diberi pekerjaan, tetapi akhirnya malah menipu orang yang menolongnya.

Tetapi jangan dengan kasus seperti ini, kita menjadi kapok dan kemudian menarik satu batas dalam hal mempercayai orang lain. Dalam kasus negatif, seringkali kita menutup hati, tidak mau menerima orang lain. Jika kita tidak menerima orang lain, kita yang akan jatuh dalam dosa kita sendiri. Contoh: komentar dosen saya, pendeta Yung Tik Yuk tentang pengamen di Jakarta. Pengamen di Jakarta sudah menjadi pengamen yang terorganisir, yang membuat kita akhirnya tidak memiliki sense of mercy, perasaan belas kasihan pada mereka, sehingga setiap kita bertemu pengamen, kita tidak mau memberi. Beliau berkata, “Saya tahu mereka punya kelompoknya sendiri, tetapi jika karena itu saya tidak mendukung dia, saya tidak benar. Saya harus tetapi memelihara hati saya, tetap mendukung dia dengan memberi uang. Jika dia salah dalam menggunakan uang itu, dia yang bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Tetapi jika  saya takut salah sehingga saya tidak berbuat baik, saya yang bertanggung jawab pada Tuhan.”

Karena kondisi sekitar, kita sering menjadi pasif. Pasif bukan sifat Christian community. Jangan karena pengaruh-pengaruh negatif, atau karena kategori-kategori tertentu membuat kita tidak mau terima dan menyambut orang lain. Kita ada dalam satu Tuhan, saudara seiman.

Roma 16:2b. Kita harus saling menerima dan mendukung Karena orang itu adalah orang yang betul-betul cinta Tuhan. Contohnya Febe, hatinya untuk Tuhan, sehingga membantu banyak orang dan membantu Paulus.

Roma 16:3-15, orang-orang yang diberi salam dan disebutkan namanya, selalu disertai dengan komentar dari Paulus. Paulus memberi penekanan bahwa orang itu telah bekerja giat, di rumahnya ada persekutuan rumah tangga, cinta Tuhan dsb, yang berkaitan tentang pelayanan.

Roma 16:17, kita harus hati-hati pada orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai guru-guru yang mengajar dengan kebenaran, menyampaikan Firman Tuhan, tetapi ternyata mereka adalah orang-orang yang tidak benar di hadapan Tuhan.

Orang-orang ini adalah orang yang mempunyai status kehidupan kekristenan sebagai hamba Tuhan, bukan kaum awam.
Orang-orang yang disebut dalam Roma 16: 1-16, kaum awam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pencobaan datang dari Diri Anda sendiri

  Nats: Yakobus 1:14-15 (TB)14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. 15 Dan apa...