Rabu, 08 Agustus 2018

Menaklukkan Tamu Tak Diundang Sebuah Tinjaun INTEGRATIF Psikotheologi


PENDAHULUAN
Oleh:Y. Aleng

Frasa  “Tamu Tak Diundang” pada judul karya tulis ini adalah penafsiran Saya pada narasi 2 Samuel 12, ketika Natan menyampaikan teguran Tuhan pada Daud. Dan nabi Natan memberikan perumpamaan dan memakai kata “mendapat tamu” dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Baru, sedangkan oleh KJV memakai kata “a traveler,” yang merujuk pada nafsu atau hawa nafsu yang memicu Daud melakukan dosa perzinahan atau hubungan sek dengan wanita bukan istrinya.

Alkitab mengajarkan kepada orang Kristen untuk memahami hidupnya sebagai orang-orang yang kudus dan melandaskan seluruh sikap dan tingkah lakunya dalam kerangka pengertian seperti itu.

Akar kata benda Ibrani kekudusan  קדש)) dan kata sifat kudus (קאדש) diartikan ‘dipisakan/set apart’ lawan katanya cemar, umum (Imamat 10:10). Istilah ini dipergunakan untuk mengartikan sifat dasar Pribadi atau aktifitas Allah  yang berbeda dari yang cemar atau umumnya, menandakan bahwa Allah wholly other, artinya berbeda dan terpisah dari segala sesuatu yang diciptakan-Nya, dan berbeda dari dewa-dewa dari khayalan manusia. Allah dalam Perjanjian Lama seringkali dikenal sebagai Holy One (Mahakudus - ITB), (Ayub 6:10; Yesaya 40:25; 43:15;  Hosea 11:9; Habakuk 1:12; 3:3;  Yehezkiel 39:7 atau the Holy One of Israel (2  Raja-raja 19:22;  Yesaya 1:4; 43:3; Yeremia 50:29).[1] 

Bahkan Yesus menegaskan posisi tersebut dalam doa yang dipanjatkan-Nya, supaya  hal tersebut terwujud atas kehidupan murid-murid dan semua orang yang percaya kepada-Nya (Yohanes 17:17-19). Ananias menyebut orang-orang percaya yang tinggal di Yerusalem dengan sebutan orang-orang kudus milik Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 9:13; Kpr. 9:32, 41; 13:35; 26:10), Paulus dalam surat-suratnya juga  menyematkan identitas sebagai orang kudus kepada jemaat Tuhan (Roma 1:1, 7; 8:27; 12:1, 13; 15:25, 26, 31; Roma 16:2, 15; I Korintus 1:2; 6:1-2, 11; 7:15; 14:34; 16:1, 15; 2 Korintus 1:1; 8:4; 9:1, 12; 13:13; Efesus 1:1, 4, 15, 18; 2:19; 3:8, 18; 4:12; 5:3, 27; 6:18; Filipi 1:1; 4:21-22; Kolose 1:2, 4, 12, 22, 26; 3:12; 1 Tesalonika 3:13; 2 Tesalonika 1:10; Filemon 1:5, 7; Ibrani 2:11; 3:1; 6:10; 10:10, 14; 12:14; 13:24). Demikian halnya Petrus, Yudas dan Yohanes (1 Petrus 1:2, 15; 2:5, 9; 3:5; Yudas 1:3, 14; Wahyu 5:8; 8:3, 4; 11:18; 13:7, 10; 14:12; 16:6; 17:6; 18:20, 24; 20:9).

Oleh karena itu,  pilihan dan praktek hidup kudus hendaknya menjadi norma yang dijalankan setiap hari oleh orang percaya, yang diwujudkan dalam perilaku kehidupan dimana dan kapanpun.
Praktek hidup kudus yang dimaksud disini adalah cara hidup yang tidak mendatangkan dosa, dan lebih khusus dosa sek diluar perkawinan atau perzinahan (Keluaran 20:14; Imamat 20:10; Ulangan 5:18; Yeremia 7:9; 29:23; Maleakhi 3:5). Karena perzinahan muncul dari pikiran jahat (Matius 15:19), itu menentang perintah Allah (Markus 10:19; Lukas 18:20; Yohanes 8:3, 4; Roma 13:9), orang yang melakukannya tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Korintus 6:9); dihakimi Allah (Ibrani 13:4).

Walaupun demikian,  kita mendapatkan cerita-cerita yang benar, tentang ketidakmampuan orang-orang percaya dalam menaklukkan nafsu atau Saya menyebutnya “Tamu Tak Diundang,” sehigga tidak sedikit yang terjebak kedalam jerat yang dibuat Iblis tersebut, lalu berlanjut pada perilaku-perilaku sek menyimpang yang mendatangkan dosa.

Sederetan kasus akrab dimata dan telinga kita beberapa waktu ini, seperti: “Pendeta Henderson Bunuh Anak Angkat: Cinta Terlarang, Reaksi Istri Sampai Respon PGI,”[2] 3 Anak di Kalteng Jadi Korban Pelecehan Seksual Oknum Pendeta,”[3]  “Oknum Pendeta Dilaporkan Jemaatnya Karena Pelecehan Seksual,”[4]Hampir 4.500 orang klaim jadi korban pelecehan seks pastor Katolik di Australia,”[5] dan di organisasi GSJA sendiri berbagai kasus pendisiplinan diberikan kepada oknum tertentu Pelayan Injilnya karena terjerat kasus yang dipicu oleh kegagalan menaklukan “Tamu Tak Diundang” .

Pertanyaan yang muncul di benak warga Kristiani secara khusus, di manapun, tentang apakah penyebab hakiki dari persoalan dosa semacam ini? Mengapa pengetahuan Alkitab yang dimiliki oleh para pelaku, yang seharusnya melandasi perilaku moral yang benar mereka, seolah kehilangan kuasanya? Atau, adakah faktor lain yang memicu perilaku seksual menyimpang dan berdosa semacam itu?

Oleh karena itu, Saya mencoba sebuah telaah kritis narasi Samson dalam kitab Hakim-hakim dan Daud dalam 2 Samuel 11-12, sebagai landasan untuk memahami penyimpangan seksual yang menyebabkan dosa dalam beberapa contoh kasus yang telah disebutkan diatas, dan memberikan solusi terkait langkah yang dapat diterapkan dalam membungkam “Tamu Tak Diundang” lewat apa yang Saya sebut dengan integrasi Psikologi-Teologi (Psikoteologi). Saya menambahkan narasi Simson selain Daud karena tampaknya ada kemiripin prinsip yang beroperasi dalam kehidupan kedua tokoh ini, yang kiranya akan mendatangkan manfaat bagi diri Saya sendiri dan juga rekan sekerja di ladang Tuhan, yaitu para hamba-hamba Tuhan yang sedang menjalankan tanggungjawab kepemimpinan mereka di gereja maupun para-church.


TINJAUAN KRITIS

Narasi Simson — Hakim-hakim 13-16

Simson lahir dari Zora keturunan Dan nama ayahnya adalah Manoah. Kelahirannya merupakan mujizat Tuhan karena ibunya mandul. Perintah malaikat itu kepada istri Manoah, “Peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram. Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penylamatan orang Israel dari tangan orang Filistin.” Hakim-hakim 13:4-5, 7, 14. Indikasi tentang landasan moral ditegaskan oleh Malaikat Tuhan tentang cara hidup istri Manoah dan anak yang kelak akan dilahirkannya. Gagasan ini tampak pararel dengan tata cara hidup yang Tuhan tetapkan lewat Musa bagi para imam (Imamat 10:9; Bilangan 6:3), dan orang-orang yang menazirkan atau mengkhusukan dirinya bagi Tuhan (Bilangan 6:1-3). Selain prinsip moral, Tuhan menaruh prinsip spiritual atas Simson yang tampak pada Roh Tuhan berkuasa dan menggerakkan hidupnya (Hakim-hakim 13:25; 14:6, 19; 15:14). Tidak dapat disangkali bahwa kunjungan Malaikat pada orang tua Simson untuk mengindikasikan prinsip moral yang harus ada padanya dan berkuasanya Roh Tuhan adalah penanda bahwa ia diangkat oleh Allah untuk tugas khusus. [6]

Prinsip moral menonjol sekali karena Malaikat Tuhan sendiri yang langsung menyatakannya lewat kedua orang tua Simson. Batasan dan pelarangan tentang norma moralitas bahkan dimulai bagi Simson sejak ia berada dalam kandungan ibunya (Hakim-hakim 13:4, 7). Prinsip moralitas ini telah ada sejak jaman Musa yang tertuang dalam kitab Bilangan 6:1-21, bukan hanya memastikan bahwa seorang nazir seperti Simson akan hidup berdasarkan hukum dan aturan yang  telah Tuhan tetapkan lewat Musa, tetapi yang lebih mendasar bahwa prinsip moralitas demikian dilandasi oleh sebuah takaran kekudusan yang ditetapkan Tuhan sebagai salah satu prasyarat untuk seseorang dipilih menjadi perantara ilahi dalam hal ini jabatan hakim (Bilangan 6:8).

Demikian juga dengan prinsip rohani, sama pentingnya dan sangat mendasar dalam diri seorang Simson karena  kehadiran ruah yhwh (Spirit of The Lord) dalam Hakim-hakim 13:25; 14:6, 19; 15:14, yang bertanggungjawab pada kuasa supranatural yang dipertunjukkan oleh para hakim, dan bukanlah ketrampilan khusus secara alamiah dan fisik yang biasanya telah dikembangkan atau dikenali oleh pribadi, dan umat Allah. Singkatnya,  para “hakim pembebas,” dibedakan oleh kualitas yang luar biasa dan karunia, tampak dalam penilaian dan pengabdian pribadinya sebagai perantara ilahi untuk membebaskan umat-Nya  dari krisis nasional, sebuah tindakan yang mengilhaminya dengan otoritas tertinggi dalam masyarakatnya. [7]

Akan tetapi kita dikejutkan dengan kenyataan bahwa Simson menunjukkan prilaku yang bertolak belakang dengan dua prinsip yang telah dimunculkan sebelumnya, “Pada suatu kali, ketika Simson pergi ke Gaza, dilihatnya di sana seorang perempuan sundal, lalu menghampiri dia” (Hakim-hakim 16:1). Kata Ibrani menghampiri dipergunakan kata זונה (dibaca zinah) berarti adulterous, become a harlot, commit adultery, prostitute, unfaithful. (Dan prostitusi dilarang oleh hukum bangsa Israel (Im.19:29; Ul. 23:18).[8]

Perzinahan Simson sangat mencolok tidak hanya karena identitas wanita sundal yang disebutkan dalam narasi Alkitab ini, melainkan bahwa ia adalah seorang suami yang sah dari istrinya (Hakim-hakim 14:1-2, 7-8; 15:1). 

Narasi Daud (2 Samuel 11-12; 2 Samuel 12: 4 (Tamu Tak Diundang) ; 2 Tawarikh 20:1;

Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem. - 2 Sam 11:1. Penggalan narasi tersebut mengindikasikan Daud tampaknya sedang berada pada masa-masa kejayaannya, sehingga termasuk tanggungjawabnya ia bisa delegasikan pada panglimanya Yoab.

Daud adalah seorang raja dan pemimpin yang besar dimasanya. Kebesaran itu tampak pada kemenangan dan ditaklukannya raja dan bangsa yang akhirnya tunduk padanya. Selain itu, Tuhan yang menetapkannya sebagai raja dan pimimpin sehingga legalitas kepemimpinannya sangat berotoritas, ordinasi ini lewat pengurapan dengan minyak (1 Samuel 13:14; 16:3,12; 2 Samuel 2:4; Mazmur 89:21) sebagai lambang penyertaan dan kehadiran Roh Allah,[9] sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh Tuhan atas Daud (1 Samuel 16;13b). Jika berkuasanya Roh Tuha pada Simson tampak seperti datang tiba-tiba, tetapi pada Daud berbeda, karena diawali dengan pengurapan dengan minyak oleh nabi Samuel dan disaksikan oleh khalayak ramai. Akan tetapi, bahwa keduanya diberikan kelengkapan sama yaitu prinsip spiritual.

Daud menjunjung prinsip moralitas yang sangat tinggi diawal kariernya. Walaupun ia telah dinubuatkan akan menggantikan Saul bahkan ketika Saul sedang memerintah sebagai raja Israel, ia orang yang berkenan kepada Tuhan (1 Samuel 13:14), Tuhan menyertai Dia (1 Samuel 18:14), namun, ia tidak memaksakan itu terjadi diluar waktu Tuhan. Bahkan ketika ia hendak dihabisi oleh Saul (1 Samuel 18:6-10; 19:10, dan ia memiliki kesempatan untuk membalas (2 Samuel 24:6-8), tetapi itu baginya bukanlah merupakan pilihan moral yang benar, dan dalam kepemimpinannya ia selalu menegakkan keadilan dan kebenaran bagi bangsanya (2 Samuel 8:15).

Daud menjemput kembali tabut Allah dari Baale-Yehuda di rumah Abinadab (2 Samuel 6:3) untuk di bawa ke Yerusalem di kota Daud (2 Samuel 6:16). Dengan diiringi rombongan berjumlah tiga puluh ribu orang banyaknya menunjukkan betapa penting dan seriusnya tabut Allah bagi Daud. Tabut Allah selain lambang kehadiran Allah tetapi juga bentuk hadirnya hukum Allah, yang diwakili oleh loh batu tempat dituliskannya hukum tersebut. Hukum Allah adalah norma bagi landasan moralitas Daud, kerajaan yang dipimpinnya bahkan seluruh bangsa Israel.[10]

Akan tetapi kita terperangah oleh kenyataan bahwa ia melakukan perbuatan yang tidak senonoh ketika mengambil Batsyeba, istri panglimanya Uria, dalam perbuatan zinah.

Daud melakukan tindakan yang sangat fatal karena melanggar firman Tuhan bahwa perbuatan zinah adalah tidak benar (Keluaran 20:14), bahkan tindakkan mengingini saja sudah tidak benar (Keluaran 20:17). Yesus menunjukkan dengan tegas keinginan adalah sumber dari kelakuan yang tidak benar (Matius 5:27-30). Hawa nafsu menjebaknya dalam komplotan pembunuhan (2 Samuel 11), bukan karena ketidaktahuannya akan hal yang benar, tetapi karena dorongan hati yang demikian mendesak oleh kebutuhan sesaat sehingga ia tidak memikirkan akibat-akibatnya.[11]

Ada penyalahgunaan kekuasaan yang sangat menonjol pada kasus perzinahan ini, yang akan selalu mengingatkan para pembaca narasi tentang bagiamana Daud melupakan siapa dirinya dan siapa Allah yang telah mempercayakan kekuasaan dan kedudukkan sebagai raja padanya, sebagai sebuah karunia Allah.  Saat ini sebagai raja, ia mengambil apa saja sesuka hatinya, termasuk istri orang lain. Bathsheba tidak memiliki kesempatan untuk lari dari pandangan pertama Daud. Bahkan Ia tidak memiliki pertahanan diri dan petunjuk bahwa dirinya telah menjadi objek tatapan hawa nafsu seorang penguasa.[12]

TINJAUAN TEOLOGIS

Narasi Alkitab tentang Simson dan Daud menegaskan bahwa permasalahan nafsu, seks dan potensi keduanya memicu perbuatan dosa tercampur baur dan ada dalam setiap pribadi manusia.

Nafsu pada hakekatnya adalah bagian yang hakiki pemberian dan ditempatkan Tuhan menjadi bagian di dalam diri seseorang, yang sedianya dipergunakan untuk memuliakan Tuhan, akan tetapi bisa menjadi alat Iblis yang merusak dalam rupa tamu tak diundang.

Akan tetapi, Alkitab sangat tegas bahwa perzinahan tidak hanya buruk tapi mendatangkan dosa. Menugutip tulisan Ellens bahwa dalam kitab Ulangan sek diluar pernikahan itu jahat karena itu pelanggaran atas hak milik laki-laki lain. Dalam kitab Imamat disebut jahat karena itu melanggar kekudusan wanita dan tatanan kebaikan dari sebuah komunitas, tidak hanya Perjanjian Lama namun Perjanjian Baru pun memandangnya demikian.[13]

Dalam keyakinan tradisional perkawinan adalah sebuah perjanjian di antara seorang pria dan wanita, yang didalamnya mereka sepakat berjanji untuk hidup bersama, saling peduli, dan memberikan kenyamanan serta kebahagiaan satu sama lain,[14] sedangkan sek adalah ungkapan secara fisik dari komitmen, kepercayaan, dan kebergantungan yang menjadi pengertian perkawinan,[15] sebuah lembaga suci yang ditetapkan Allah (Kejadian 2:1-25). Lima perintah pertama dalam Sepuluh Perintah Allah adalah tentang menghormati Allah dan orang tua. Dan lima yang terakhir tentang hukum perjanjian. Karena perkawinan adalah ikatan perjanjian maka sek diluar nikah disebut perzinahan dan dianggap sebuah kejahatan di Alkitab.[16]  

Kemungkinan ada jutaan alasan alasan mengapa Allah membuat perkawinan sebagai garis pemisah diantara mereka yang semestinya melakukan hubungan sek dan mereka yang tidak. Pertama, sek paling baik dilakukan dalam kontkes perkawinan. Kedua, pembatasan Allah menyediakan yang terbaik dan perlindungan dari hal terburuk. Cara Allah adalah yang terbaik. Tidak ada garis pemisah abu-abu. Itu adalah perkawinan.[17]

IMPLIKASI PRAGMATIS

Menyitir tulisan Katsoff bahwa apa pun ontologi yang anda anut, sudah pasti hal ini akan mempunyai pengaruh tertentu terhadap pendirian anda mengenai nilai kehidupan dan hakekat norma-norma kesusilaan.[18] Artinya setiap orang akan bertindak berdasarkan apa yang diyakininya benar.  Salah satu kebenaran dalam sebuah ikatan perkawinan bahwa ia merupakan lembaga yang suci, Yesus meneguhkan hal tersebut dalam kehadiran-Nya di perkawinan Kana. Tidak hanya meneguhkan, Ia bahkan hadir untuk mengatasi persoalan yang sedang terjadi di tengah suasana pesta perkawinan tersebut, dengan melakukan mujizat air pembasuhan kaki menjadi air anggur terbaik (Yohanes 2:1-11). Oleh karena itu, Yesus sangat tegas tentang sek di luar perkawinan (Matius 5:27-28, 32; 19:9; Yohanes 8:1-10), Paulus juga menegaskan hal yang sama (Roma 7:1-3), surat Ibrani juga sangat tegas menentang (Ibrani 13:4).

Beberapa pendekatan pragmatis (psikoteologi) berikut ini bisa diterapkan dalam menaklukkan ‘Tamu Tak Diundang’ yang bisa dialami oleh siapa saja, khususnya dalam konteks perkawinan.

Pertama, miliki pengertian yang benar tentang kekudusan. Alkitab mengajarkan bahwa kekudusan bagi orang percaya adalah sebuah status, tetapi juga proses yang dijalani setiap hari (Roma 12:1; 1 Korintus 1:2; 6:11; 2 Korintus 7:1; Efesus 4:12, 24). Akan tetapi, memiliki pengertian yang memadaipun kadang tidak cukup untuk membuat seseorang mampu membungkam tamu tak diundangnya, atau mencegahnya jatuh ke dalam sek diluar nikah. Oleh karena itu, mengasihi dengan tulus sangat disarankan, karena sek diluar nikah atau perzinahan akan selalu memunculkan intimitadasi atas kejiwaan bagi para pelaku, karena itu muncul dari pikiran yang jahat (Matius 7:22), maka memiliki pengertian yang benar tentang kasih atau mengasihi menjadi kabar baik untuk mematahkan hawa nafsu liar (tamu tak diundang), yang kerap menyeret seseorang kedalam perbuatan jahat. Selain itu, keputusan melakukan hubungan sek diluar perkawinan adalah sebuah keputusan dan bukan kecelakaan atau ketidak sengajaan melainkan pilihan[19] yang adalah dosa di hadapan Allah (Efesus 5:3; 1 Tesalonika 4:7). Sehingga, meningat orang-orang yang kita kasihi dan mengasihi mereka dengan sungguh dan tulus, hendaknya menjadi perilaku yang merupakan ekspresi dari kekudusan. Mungkin ada baiknya menyandingkan kutipan kalimat Bill Clinton yang pernah menjabat presiden Amerika dan tersandung skandal sek dengan Minica Lewinsky, yang ditulis Judd dan Merica, demikian:

“Clinton publicly acknowledged at the National Prayer Breakfast in 1998 that he had "sinned." "I don't think there is a fancy way to say that I have sinned. It is important to me that everybody who has been hurt know that the sorrow I feel is genuine -- first and most important, my family, also my friends, my staff, my Cabinet, Monica Lewinsky and her family, and the American people."[20]

Karena mengasihi akan selalu menjadi perilaku mementingkan, menghormati, menghargai, orang lain lebih dari diri sendiri.

Kedua,  pahami bahwa kuasa dan pencapaian adalah kepercayaan dan milik Tuhan. Kepercayaan dan pencapaian tertentu, selalu dilandasi prinsip rohani dan moral tertentu, merupakan hal utama bagi seorang pemimpin. Narasi kedua tokoh yang ditampilkan di atas, disatu sisi menyadarkan kita akan pentingnya kedua hal tersebut, yang seharusnya memberi dampak pada kepemimpinan seseorang. Akan tetapi, penyimpangan perilaku yang ditunjukkan oleh kedua pemimpin seakan mengaburkan peranan hakiki dari kedua prinsip tadi.

Kepemimpinan Simson dan Daud diperoleh karena anugerah Tuhan, hal ini tidak dapat disangkali. Tetapi kita mendapatkan bahwa pencapaian mereka digerakkan oleh prinsip rohani dan moral yang dijalankan mereka. Namun,  mereka tampaknya lupa tentang adanya sisi penyalahgunaan kuasa, kuasa yang bersumber dari Tuhan pada mulanya, itu memiliki potensi untuk menjadi kegagalan atas perjalanan karir mereka. Dan Oleh karena itu, penting sekali bagi para Pelayan Tuhan untuk memiliki pengertian tentang adanya kecenderungan alamiah abuse of power maupun spiritual abuse dalam sebuah tanggungjawab pelayanan dan kepemimpinan. Bahkan Frail dan O’Dea dalam buku mereka menyebutkan bahwa most of the priests and all of the bishops involved in the contemporary sexual abuse crisis up to 2002 were trained when seminaries maintained a dualistic view of body and soul.[21]

Tentu tidak ada seorangpun pelayan atau pemimpin jemaat berniat merekayasanya demikian, tetapi ingatlah seringkali dipuja jemaat dan menjadi tolak ukur kebenaran.[22]Dan situasi seperti ini pun seringkali terjadi secara alamiah pula, celakanya, jika itu menjadi dambaan pemimpin.


DAFTAR PUSTAKA

Alkitab:

Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 2017
Alkitab Elektronik SABDA, http://android.alkitab.org

Buku:

Alexander, T. Desmond, Brian S. Rosner, D. A. Carson, Graeme Goldsworthy, ed., New Dictionary of Biblical Theology, Holiness, D. G. Peterson, Illionis: Inter-Varsity Press, 2000.

Enroth, Ronald M., Churches that Abuse, Michigan: Zondervan Publishing House, 1992

Ellens, J. Harold, Sex In The Bibile: A New Consideration, Westport: Praeger Publihers, 2006

Gail, Marry and Frawley O’ Dea, Perversion of Power: Sexual Abuse In The Catholic Church, Nashville: Vanderbilt University Press, 2007

Hill, Andrew E. dan John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 1996

Hilderbrandt, Wilf, An Old Testament Theology of The Spirit of God, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1995

Walton, John H., Victor H. Matthews & Mark W. Chavalas, The IVP Bible Background Commentary Old Testament, Illinois: Intervarsity Press, 2000.


Katsoff, Louis O., Pengantar Filsafat, alih bahasa: Soejono Soemargono, Kopen Banteng: Tiara Wacana Yogya, 1996.

Ebook:

Judd, Donald and Dan Merica, “Bill Clinton addresses his remarks on Lewinsky scandal, says he supports #MeToo,” June 5, 2018 Source: https://edition.cnn.com/2018/06/04/politics/bill-clinton-monica-lewinsky-apology/index.html, (accessed: July 29, 2018.)

Norfleet, Agnes W., “David and Bathsheba Fourth in Summer Series on King David,”  July 12, 2015 https://www.bmpc.org/images/sermons/Norfleet_Sermon_PDF_2015.07.12.pdf, (accessed: July 30, 2018).

Garland, David E. and Diana R. Garland, “Bathsheba’s Story: Surviving Abuse and Loss, Baylor University School of Social Network,” https://www.baylor.edu/content/services/document.php/96029.pdf.


Stenzel, Pam and Crystal Kirgiss, Sex Has a Price Tag:  Discussions about Sexuality, Spirituality, and Self Respect (Zondervan.com)


Kamus:

“Marriage,” Theological Dictionary, Belarus: Wiktoria Boroch App. Developer, 2014

Internet:

Pendeta Henderson Bunuh Anak Angkat: Cinta Terlarang, Reaksi Istri Sampai Respon PGI,” sumber internet: http://jakarta.tribunnews.com/2018/06/02/pendeta-henderson-bunuh-anak-angkat-cinta-terlarang-reaksi-istri-sampai-respon-pgi?page=all, diakses, 18 Juli 2018

3 Anak di Kalteng Jadi Korban Pelecehan Seksual Oknum Pendeta,” sumber: https://kumparan.com/@kumparannews/3-anak-di-kalteng-jadi-korban-pelecehan-seksual-oknum-pendeta, diakses 18 Juni 2018

Oknum Pendeta Dilaporkan Jemaatnya Karena Pelecehan Seksual,” sumber: http://www.tribunnews.com/regional/2016/03/02/oknum-pendeta-dilaporkan-jemaatnya-karena-pelecehan-seksual, diakses 18 Juli 2018

Hampir 4.500 orang klaim jadi korban pelecehan seks pastor Katolik di Australia,” sumber: https://www.bbc.com/indonesia/dunia-38877912, diakses 18 Juli 2018




[1] T. Desmond Alexander, Brian S. Rosner, D. A. Carson, Graeme Goldsworthy, ed., New Dictionary of Biblical Theology, Holiness, D. G. Peterson, Illionis: Inter-Varsity Press, 2000, 545
[2]Pendeta Henderson Bunuh Anak Angkat: Cinta Terlarang, Reaksi Istri Sampai Respon PGI,” sumber internet: http://jakarta.tribunnews.com/2018/06/02/pendeta-henderson-bunuh-anak-angkat-cinta-terlarang-reaksi-istri-sampai-respon-pgi?page=all, diakses, 18 Juli 2018
[3]3 Anak di Kalteng Jadi Korban Pelecehan Seksual Oknum Pendeta,” sumber: https://kumparan.com/@kumparannews/3-anak-di-kalteng-jadi-korban-pelecehan-seksual-oknum-pendeta, diakses 18 Juni 2018
[4]Oknum Pendeta Dilaporkan Jemaatnya Karena Pelecehan Seksual,” sumber: http://www.tribunnews.com/regional/2016/03/02/oknum-pendeta-dilaporkan-jemaatnya-karena-pelecehan-seksual, diakses 18 Juli 2018
[5]Hampir 4.500 orang klaim jadi korban pelecehan seks pastor Katolik di Australia,” sumber: https://www.bbc.com/indonesia/dunia-38877912, diakses 18 Juli 2018
[6] Andrew E. Hill dan John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 1996, 287
[7] Wilf Hilderbrandt, An Old Testament Theology of The Spirit of God, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1995, 113.
[8] John H. Walton, Victor H. Matthews & Mark W. Chavalas, The IVP Bible Background Commentary Old Testament, Illinois: Intervarsity Press, 2000, 359
[9]Hilderbrandt, 123.
[10] Agnes W. Norfleet, “David and Bathsheba Fourth in Summer Series on King David,”  July 12, 2015 https://www.bmpc.org/images/sermons/Norfleet_Sermon_PDF_2015.07.12.pdf, (accessed: July 30, 2018).
[11] Hill, Teologi Perjanjian Lama, 319
[12] David E. Garland and Diana R. Garland, “Bathsheba’s Story: Surviving Abuse and Loss, Baylor University School of Social Network,” https://www.baylor.edu/content/services/document.php/96029.pdf,  (accessed: July 30, 2018)
[13] J. Harold Ellens, Sex In The Bibile: A New Consideration, Westport: Praeger Publihers, 2006, 86.
[14] “Marriage,” Theological Dictionary, Belarus: Wiktoria Boroch App. Developer, 2014
[15]Ellens, 40
[16]Ellens, 86
[17] Pam Stenzel and Crystal Kirgiss, Sex Has a Price Tag:  Discussions about Sexuality, Spirituality, and Self Respect (Zondervan.com, 33)
[18] Louis O. Katsoff, Pengantar Filsafat, alih bahasa: Soejono Soemargono, Kopen Banteng: Tiara Wacana Yogya, 1996, 213
[19]Ellens, 49
[20] Donald Judd and Dan Merica, “Bill Clinton addresses his remarks on Lewinsky scandal, says he supports #MeToo,” June 5, 2018 Source: https://edition.cnn.com/2018/06/04/politics/bill-clinton-monica-lewinsky-apology/index.html, (accessed: July 29, 2018.)
[21] Marry Gail and Frawley O’ Dea, Perversion of Power: Sexual Abuse In The Catholic Church, Nashville: Vanderbilt University Press, 2007, 60
[22] Ronald M. Enroth, Churches that Abuse, Michigan: Zondervan Publishing House, 1992, 42

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makna Sebuah Kemerdekaan

Nats: Gal 5:4-15 5:4 "Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih k...