Rabu, 19 Desember 2018

Memahami Penderitaan: Kesulitan-kesulitan Finansial (Bagian 1)

Bacaan Alkitab
Ayub 1:1-22

Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur. Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lekaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah Saudara mereka yang sulung, datanglah seorang pengaush kepada Ayub dan berkata: "Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan di sebelahnya, datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga memberitahukan hal itu kepada Tuan." Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata, "Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan kepada tuan." Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata, "Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." Sementara orang itu berbicar, datanglah orang lain dan berkata: "Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada kamu."
     Percakapan di atas adalah penggalan dari sebuah narasi panjang dari kehidupan seorang tokoh fenomenal di Alkitab, yaitu Ayub. Alur narasinya penuh dengan kesedihan, walaupun dibukan dengan sekelumit biografi tentang status sosial Ayub dan integritasnya di hadapan Tuhan Allah. Mungkin para pembaca Alkitab khususnya setelah membaca kitab Ayub akan bertanya-tanya, mengapa hal buruk atau situasi dukacita, kehilangan, kesedihan, kegagalan menimpa mereka yang justru memiliki integritas moral dan rohani yang baik? Sebuah kenyataan hidup yang menegaskan bahwa ada bagian dari kehidupan yang kita jalani merupakan sebuah misteri yang hanya Tuhan yang mengetahuinya.
     Kehilangan harta-benda, kekayaan, simpanan, pekerjaan, sumber-sumber mata pencaharian bahkan bisnis, sudah barang tentu  bukan situasi yang diinginkan oleh setiap orang yang hidup di bawah kolong langit; sebuah kenyataan yang sulit untuk dihadapi apalagi diakui. Bahkan tidak jarang orang yang mengalami persitiwa demikian berusaha menyembunyikan serapat mungkin, seolah-olah ia baik-baik saja, namun berakibat memicu tingkat tekanan pada pikiran dan jiwa semakin dalam. Dalam pilihan seperti itu, seringkali perilaku yang dicerminkan adalah perasaan marah, takut, kehilangan gambar diri bahkan rasa percaya diri; menggerutu pada diri sendiri atau pun pada tindakan-tindakan yang telah terjadi.
     Ayub pernah mengalami krisis ekonomi dan keuangan sangat dalam, bukan hanya kehilangan bisnis (peternakkan) yang dijalankannya, tetapi bahkan seluruh harta kekayaannya pun habis untuk alasan yang benar-benar tidak dipahaminya. Tentu saja apa yang dialaminya bukan sebuah peristiwa hidup yang mudah, karena pasal demi pasal di kitab Ayub memberikan kepada kita gambaran betapa sukarnya situasi ketika seseorang sedang diperhadapkan pada krisis finansial. Lantas apa yang ia lakukan untuk keluar dari krisis tersebut?
"Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, 
kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: 
'Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, 
terpujilah nama Tuhan!' Dalam kesemuanya itu 
Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut."
     Sesungguhnya, Ayub dapat memilih untuk putus asa, kecewa, marah berkepanjangan, akan tetapi ungkapannya di ayat di atas menjadi jelas bahwa iman kepada Tuhan adalah kekuatan untuk memahami penderitaan yang dialami dan meyakini bahwa semua harta, kekayaan, uang, jabatan, pencapaian hanyalah kepercayaan semata. 
     Oleh karena itu, ketika engkau mengalami atau sedang diperhadapkan pada krisis finansial maka jangan biarkan perasaan menjerumuskanmu kedalan situasi yang lebih buruk secara mental, percayalah engkau tidak sendirian, Tuhan Yesus menyertai untuk engkau bisa melewati situasi tersebut, dan disitu juga IA menyediakan hikmat dan kebijaksanaan yang baru untuk engkau sanggup memberi jawab atas krisis demikian, dan engkau semakin kuat dan tangguh melewati peristiwa-peristiwa sukar dalam hidup yang engkau sedang dan akan jalani.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imanuel Di tengah Pandemi

 Nats: Ayb 2:10 "Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari A...