Sabtu, 23 November 2019

PENDERITAAN, Siapa yang Menginginkannya?

Part 1,...
Alkitab tidak menyebutkan secara rinci berapa lama Ayub mengalami penderitaan. Akan tetapi pernyataan firman Tuhan berikut menunjukkan bagaimana ujung dari hari-hari Ayub menjalaninya: 

Ayub 42:10, 12-16
“Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina. Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan; dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh. Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki.Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat.”

“Happy Ending” adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan hidup Ayub. Setiap orang yang diperhadapkan pada penderitaan tentu saja mengharapkan kebahagiaan dan kemenangan di penghujung jalan derita, tetapi apakah setiap orang akan mengalaminya demikian? Tidak ada seorangpun bisa memberi jawab secara pasti. Akan tetapi, di dalam Kristus setiap orang percaya hendaknya menaruh iman dan harapannya bahwa yang TERBAIKLAH yang akan dialami.
Di waktu menjalani penderitaan hidupnya, Ayub bergulat dengan serentatan peristiwa yang bergejolak di dalam diri dan dari rekan-rekan terdekatnya, sepertinya jatuh bangun juga. Akan tetapi imannya tidak goyah, ia tetap taat dan jalani hari-hari hidupnya. Bagaiman dengan Saudara, apakah engkau sedang diperhadapkan pada sebuah situasi yang menjadi penderitaan bagi hidupmu?

Ikon foto di pojok adalah potongan foto dari kaki anak Saya yang ketiga. Saya capture itu pada tengah malam menjelang hari ulang tahunnya yang kelima. Kaki yang Tuhan berikan pada putri kecil kami sejak 18 November 2014 yang lalu dan belum pernah dipergunakan sama sekali, jangankan untuk melangkah, untuk berdiri saja belum pernah. Bukan karena ia tidak mau mempergunakannya untuk berdiri, berjalan, melompat, berlari seperti anak lain seusianya, tetapi itulah kenyataan yang dialaminya. Lantas sebagai orangtua, bagaimana kami harus memahami keadaan putri kecil kami tersebut?

Pembacaan dan perenungan tentang hidup Ayub melahirkan refleksi bahwa Tuhan yang memulai segala sesuatu. Katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"  Saya, Saudara, kita semua tidak pernah dan tidak bisa memilih lahir dari orang tua siapa, suku mana, jenis kelamin apa, kulit dan rambut model apa, dan lainnya. Akan tetapi, kita bisa memilih dengan cara bagaimana akan menjalani dan menyikapi semua hal tersebut. Pilihanmu akan menggerakan keputusan hidup mu hari ini dan seterusnya.

Walaupun Tuhan yang memulai segala sesuatu atas hidup kita, itu tidak berarti kita lepas tangan atas penderitaan yang terjadi dan menganggap itu sebagai sebuah akhir perjalanan hidup yang permanen, yang bisa melahirkan kepasrahan sebagai balutan kekecewaan. Kita hendaknya memahami, masa penderitaan adalah ruang dimana Tuhan juga memberi kesempatan untuk kita memperjuangkan segala upaya yang terbaik untuk meringankan bahkan lepas dari penderitaan yang sedang dialami.

Kami harus mendatangi delapan dokter spesialis anak dengan berbagai spesifikasi keahliannya masing-masing dan satu dokter umum, jadi sembilan dokter untuk mencari pemahaman dan konfirmasi dari sisi medis tentang apa sebenarnya yang terjadi pada putri kecil kami. Upaya kami yang terakhir adalah memeriksakan putri kami dengan menggunakan teknologi ct scan yang paling canggih. Hasil pemeriksaan dari kepala sampai ke tulang ekornya tidak didapatkan kelainan apapun. Lantas, apa selanjutnya?...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makna Sebuah Kemerdekaan

Nats: Gal 5:4-15 5:4 "Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih k...