Kamis, 14 November 2019

PENDERITAAN? Tak Seorangpun Menginginkannya

PENDERITAAN,... tidak ada seorang pun yang menginginkannya. Penderitaan adalah keadaan yang menyedihkan yang harus ditanggung; penderitaan mental. Kata menderita diartikan mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan seperti kekalahan, kehilangan atau kehancuran; menjadi sangat buruk disebabkan sesuatu. (KBBI, Merriam Webster Dictionary).

Tetapi penderitaan tidak pandang bulu, ia bisa menghampiri siapa saja bahkan orang saleh, jujur, takut akan Allah sekalipun. Ayub mungkin salah satu contoh yang paling spektakuler yang dicatat dalam Alkitab. Beginilah permulaan kisahnya:

Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur. Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka. Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis. Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi." Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah. Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu." Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN. Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: "Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

Penggalan kisah di atas bukan fiksi tetapi sebuah cerita kehidupan yang mewakili siapapun yang pernah atau sedang dan mungkin akan mengalami penderitaan.
Dimensi penderitaan bisa beragam. Bagi seseorang kehilangan harta benda mungkin saja menjadi sisi penderitaan hidupnya, ada yang kehilangan investasi menjadi wujud penderitaan dalam langkah hidupnya, bagi orang lainnya mengalami sakit dan penyakit yang tak kunjung sembuh mungkin saja menjadi penderitaan baginya, bagi sebagian lagi kehilangan orang-orang yang dicintai bisa menjadi penderitaan yang dirasakan secara berkepanjangan. 

Tidak hanya dimensinya yang beragam, setiap orang bahkan memiliki caranya sendiri dalam menjustifikasi penyebab penderitaan tersebut. Sebagain orang mungkin memahami itu sebagai takdir, ada juga yang melihatnya sebagai kutukan, atau ada yang mungkin memahaminya sebagai buatan orang lain yang memiliki rasa tidak suka atau dendam (santet, teluh atau tenung, guna-guna, mantra, dsb). Akan tetapi, bagaimana dengan penderitaan yang dialami Ayub? Apakah penilaian Ayub terhadap penderitaan yang dialaminya? Ingat Saudara, Ayub mengalami tidak hanya kehilangan bisnis, usaha, investasi, aset, tetapi bahkan ia kehilangan semua anak laki-laki dan perempuan yang sangat dicintainya. Sepengetahuan Saya, sepanjang usia yang sudah terlewati, maka Saya belum pernah mendengar, membaca tentang kisah hidup seseorang yang mengalami perisitiwa seperti narasi Ayub, yaitu kehilangan secara total apabila ditambah dengan istri yang selama ini mendampinginya, pun pada akhirnya mencela dan menyindirnya supaya mengutuki Allah yang Ayub sembah, selain penyakit yang dideritanya pula.

Jika Saudara diperhadapkan pada suatu perisitiwa yang dianggap sebagai penderitaan, maka apa dan bagaimanakah reaksi atau respon yang akan muncul? 

Sampai disini Saya ingin berpesan: "Jangan buat keputusan dan tindakan yang bodoh ketika engkau sedang diperhadapkan pada suatu penderitaan!!" Seolah-olah penderitaan adalah kambing hitam atau alibi atas kebodohan yang terjadi. 

lanjutannya... "Saya ingin menceritakan kisah dibalik "caption" berikut...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Iman yang Sehat

Nats: Titus 1:5-9 "Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan su...