Rabu, 20 Mei 2020

Hikmat Tuhan vs hikmat manusia


https://lenterakristiani.com/sumber-hikmat/

Nats: Ams 3:5-8
"3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. 3:6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. 3:7 Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; 3:8 itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.

Pada hakikatnya manusia memiliki akal budi untuk memecahkan masalah. Akal budi adalah satu dari tiga pokok penting (perasaan dan kehendak) dari diri manusia yang membedakannya dengan ciptaan lainnya (hewan dan tumbuhan). Namun demikian, banyak manusia yang sering membuat keputusan yang salah dalam hidup ini.  Ini terjadi akibat manusia tidak pernah mengandalkan hikmat Tuhan melainkan hikmat diri sendiri. Lebih lanjut, akal budi manusia sejatinya sudah tercemar akibat dosa Adam sebagai manusia pertama. Maka dari itu hikmat manusia juga sudah tercemar sehingga manusia tidak mampu membedakan mana kehendak Allah dan mana yang bukan.

Dalam KBBI hikmat diartikan sebagai kearifan atau kebijaksanaan. Hikmat sendiri bukan hanya kata yang terdapat dalam kekristenan melainkan juga dalam filsafat. Filsafat sendiri berasal dari dua kata yaitu philo: cinta dan sophos: hikmat. Jadi filsafat adalah cinta akan hikmat. Namun, hikmat dalam filsafat jelas berbeda dengan yang dimaksud dalam Alkitab. Hikmat dalam filsafat berpusat kepada manusia sedangkan hikmat dalam Alkitab hanya bersumber dari Allah saja.

Dari nats di atas kita dapat menarik dua pelajaran berharga. Pelajaran pertama adalah Hikmat dari Tuhan selalu diawali dengan takut kepada-Nya. Takut disini bukan diartikan sebagai takut seperti kalau kita ingin bertemu orang jahat melainkan lebih kepada menghormati-Nya dalam segala hal. Lebih lanjut, takut akan Tuhan adalah awal dimana manusia dapat memutuskan sesuatu dengan benar. Dengan takut akan Tuhan maka sejatinya manusia akan bertanya dan meminta petunjuk kepada Tuhan mengenai apa yang harus dilakukan (seperti Musa dan Daud)

Pelajaran penting yang kedua adalah percaya dengan segenap hati. Percaya disini mencakup setiap tindakan Tuhan atas diri kita serta janji-janji-Nya yang belum digenapi. Lebih lanjut, percaya dengan segenap hati juga berarti meletakkan seluruh hidup kita ke tangan Tuhan. Dengan demikian, kita tidak ragu bertidak karena Tuhan sendiri yang menuntun.

By: Felix Justian Harnanta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imanuel Di tengah Pandemi

 Nats: Ayb 2:10 "Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari A...