Jumat, 29 Mei 2020

Jangan Memandang Muka


https://cahayapengharapan.org/yakobus-10-jangan-memandang-muka/

Nats: Yak 2:1-7
2:1 "Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka 2:2 Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, 2:3 dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!", 2:4 bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat? 2:5 Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia? 2:6 Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan? 2:7 Bukankah mereka yang menghujat Nama yang mulia, yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah?

Memandang muka atau fisik seseorang adalah sesuatu yang dianggap lumrah oleh mayoritas manusia. Tak jarang pemikiran seperti ini pada akhirnya mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil seseorang. Contoh yang paling mencolok adalah dalam memilih jodoh dan pekerjaan. Acapkali dalam memilih jodoh dan pekerjaan penampilan fisik berada di nomer satu dari pada keahlian dan usaha. Dengan demikian, fisik menjadi kriteria yang tak bisa diabaikan sama sekali atau dengan demikian bersifat mutlak

Kejadian seperti di atas sudah ada sejak zaman pelayanan Yakobus kepada suku-suku perantauan. Banyak orang Kristen pada zaman itu yang memandang orang lain dari dua hal yaitu fisik dan ekonomi. Yakobus mencatat bahwa jika seseorang datang dengan penampilan menarik dan memakai perhiasan, maka orang-orang Kristen disana menyambut dengan hormat. Sebaliknya, jika penampilannya tidak menarik serta tidak memiliki perhiasan maka sikap yang muncul adalah merendahkan dan menghina.

Sikap seperti orang-orang Kristen di perantauan janganlah sampai kita contoh. Sikap-sikap tersebut (merendahkan dan menghina) pada hakikatnya tidak menunjukkan karakter Kristus dalam hidup kita. Dalam berhubungan dengan sesama seharusnya anak-anak Tuhan kita harus memiliki sikap yang berbeda. Sikap pertama adalah penerimaan. Yang dimaksud penerimaan adalah tidak mempermasalahkan status kelemahan seseorang (fisik, status sosial, ekonomi, dan sebagainya). Sikap seperti inilah yang perlu dikembangkan agar karakter Kristus terpancar dalam kehidupan kita.

Sikap terakhir yang perlu dilakukan adalah mengasihi. Penerimaan akan kekurangan saja tidaklah cukup, melainkan kita perlu untuk mengasihi orang-orang yang berkekurangan. Mengasihi tersebut bisa dilakukan dengan banyak cara. Misalkan: untuk orang yang miskin kita bisa mencarikan lapangan pekerjaan, tidak menerima pekerjaan hanya dari fisik begitu pun jodoh, dan sebagainya. Dengan melakukan kedua hal di atas kita sudah menjadi seorang anak Tuhan yang tidak memandang muka dan memancarkan karakter Kristus.

By: Felix Justian Harnanta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imanuel Di tengah Pandemi

 Nats: Ayb 2:10 "Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari A...