Yesus: Sang Anak Allah (part 1 )

 

Gelar sebagai anak Allah dalam diri Yesus paling jelas terdapat di dalam injil Yohanes.  Gelar ini berasal dari kata monogenes. Kata monogenes berasal dari kata monos yang artinya tunggal atau sendirian dan genos yang artinya jenis atau keturunan.[1]  Jadi monogenes menunjuk pada Yesus sebagai Anak Tunggal Allah yang mempunyai arti jenis keturunan yang unik dimana Allah sebagai Bapa-Nya.[2]  Roy B Zuck menambahkan, “Yohanes memakai frasa hyios theou  untuk menggambarkan Yesus dalam hubunganNya yang unik dengan Bapa.” [3]

Gelar “Anak Allah” berbicara mengenai misiNya

            Sebagai Anak Allah Yesus ditunjuk untuk menggenapi satu misi ilahi.[4]  Unsur yang paling sering diulangi dalam misi ini ialah untuk menjadi perantara kehidupan kepada manusia.[5]  David imam Santoso menambahkan, “Ia datang dari sorga sebagai utusan Allah Bapa ke dalam dunia untuk menunaikan tugas yang mulia yaitu menyatakan kasih Allah kepada dunia.[6]  Hal serupa juga diungkapkan oleh Thomas R Scheiner, “Hal yang hendak disampaikan Allah kepada dunia dengan mengutus anak-Nya adalah kedalaman dan kebesaran kasih-Nya.”[7]

            Melalui pemaparan di atas maka bisa dilihat bahwa inti misi Yesus adalah menyatakan kasih Allah yang menyelamatkan.  Mengenai inti kasih Allah yaitu keselamatan, I Howard Marshall mengatakan, “Although he is the judge (Jn 5:22;cf Jn 9:39), nevertheless he came to save the world and confer life (Jn 3:17; 5:21,26).[8]  Leon Morris menambahkan, “The offer of salvation looks for a response in faith, and for this reason John speaks of believing in Jesus (3:18, 36, 6:40, 11:27,20:31).[9]  Dengan kata lain keselamatan yang adalah inti kasih Allah melalui Yesus perlu mendapat respon dari manusia yaitu percaya kepadaNya. 

            Kepercayaan kepada Yesus juga membawa dampak, seperti yang diungkapkan oleh Leon Morris.  Ia mengatakan, “His gift of salvation means setting people free (8:36).”[10]  Artinya misi Allah yaitu keselamatan dalam Yesus ini membawa kemerdekaan yang sejati.  Da Carson menyimpulkan, “True freedom is not the liberty to do anything we please, but the liberty to do what we ought and it is genuine liberty because doing what we ought now pleases us.”[11]  Dengan kata lain kemerdekaan sejati yang diberikan Yesus tidak membuat manusia bebas melakukan segalanya tetapi membuat manusia melakukan yang seharusnya dilakukan.

Sumber:

Ladd,George Eldon.  Teologi Perjanjian Baru jilid 1, diterjemahkan oleh Urbanus Selan dan Henry Lantang,  Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2010.

 

Morris,Leon.  New Testament Theology.  Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House,1995.

 

Marshall,I Howard , New Testament Theology: Many Withnesses, One Gospel.  Downers Grove, Illinois: Intervasity Press,2004.

 

Zuck,Roy B ed.  A Biblical Theology of the New Testament, diterjemahkan oleh Paulus Adiwijaya Malang: Penerbit Gandum Mas,2011.

 

Scheiner,Thomas R.  New Testament Theology: Memuliakan Allah dalam Kristus.  Yogyakarta: Penerbit Andi,2015.


[1] Ibid.

              [2] Ibid 

[3] Roy B Zuck ed, A Biblical Theology of the New Testament, diterjemahkan oleh Paulus Adiwijaya (Malang: Penerbit Gandum Mas,2011)209.

[4] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru jilid 1, diterjemahkan oleh Urbanus Selan dan Henry Lantang, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,2010),331 

[5] Ibid. 

[6] Santoso,46.

[7] Thomas R Scheiner, New Testament Theology: Memuliakan Allah dalam Kristus, (Yogyakarta: Penerbit Andi,2015),461.

[8] I Howard Marshall, New Testament Theology: Many Withnesses, One Gospel, (Downers Grove, Illinois: Intervasity Press,2004),515.

[9] Leon Morris, New Testament Theology, (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House,1995),234

[10] Ibid.

[11] Da Carson, The Gospel According to John, (Grand Rapids, Michigan: Wm Eerdmans Publishing Company,1991),350.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Kucari Damai (Lirik & Chord)

Ujilah Aku Tuhan (Lirik & Chord)

Pribadi Yang Mengenal Hatiku (Lirik & Chord) Jacqlien Celosse