Kolom Opini: Kemah Pertemuan sebagai simbol Transendensi Allah

 

        Konsep kemah pertemuan pada hakekatnya merupakan simbol transendensi.  Yang dimaksud adalah kemah suci merupakan simbol berdiamnya Allah yang benar-benar berbeda dengan allah yang lain.[1]  Kaiser mengatakan, “Kata kemah pertemuan berasal dari bahasa Ibrani mishkam yang memiliki akar kata shakam dan diartikan sebagai tinggal atau berdiam.[2]  Ia menambahkan, “Kata shakam juga dapat diartikan sebagai kemuliaan Allah.[3]  Sependapat dengan Kaiser, Geisler mengatakan, “Kemah Suci merupakan simbol kehadiran Allah di tengah umatnya.”[4]  Jika dua arti ini dihubungkan maka kemah suci merupakan simbol transendensi Allah yang dinyatakan melalui kemuliaanNya.

            Secara spesifik perintah untuk membangun kemah suci terdapat pada Kel 25:8.  Mengenai ayat ini Hamilton mengatakan, “Kata tempat kudus (Kel 25:8) memakai bahasa Ibrani yaitu miqdas.[5]  Kata ini tidak hanya menunjuk kepada area yang kudus namun juga kepada objek yang kudus.”  Ia menambahkan, “Tabernakel juga menunjukkan tempat yang paling kudus diantara yang kudus atau benda yang paling kudus.”[6]  Maka dari itu dapat dikatakan bahwa tabernakel atau kemah suci merupakan simbol kekudusan Allah.

            Pembangunan kemah suci bertujuan agar Allah tinggal di tengah-tengah umat Israel.  Kaiser melihat bahwa frase “Aku akan diam di tengah-tengah mereka” mengindikasikan keperluan suatu penyembahan kepada Allah.[7]  Mengenai frase ini Anderson berkomentar, “Umumnya penyembahan mengundang Allah ditengah-tengah sidang jemaat.”[8]  Maka dari itu dapat dikatakan bahwa penyembahan adalah aspek yang tidak bisa diabaikan dalam konsep kemah suci.  Ini dikarenakan penyembahan berhubungan dengan kehadiran Allah di tengah-tengah perkumpulan umat.

            Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dikatakan bahwa kemah suci berhubungan transendensi Allah.  Transendensi yang dimaksud meliputi kemuliaan dan kekudusan Allah.  Kemuliaan berhubungan dengan penyembahan manusia, sedangkan kekudusan berhubungan dengan natur Allah yang berbeda dari manusia.



[1] Kaiser, The Christian and The Old Testament (California: William Carey, 1998), 94.

 

[2] Ibid.

 

[3] Ibid.

 

[4] Norman L Geisler, A Popular Survey Of The Old Testament, (USA: Baker Books, 1995), 60.

 

[5] Victor P Hamilton, Exodus: An Exegetical Commentary, (Michigan: Baker Books, 2011), 495.

[6] Ibid.

 

[7] Kaiser, The Christian and The Old Testament, 94.

[8] Bernhard W Andersen, The Countours Of The Old Testament Theology, (Minneapolis: August Fotress, 1999), 110.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Kucari Damai (Lirik & Chord)

Ujilah Aku Tuhan (Lirik & Chord)

Pribadi Yang Mengenal Hatiku (Lirik & Chord) Jacqlien Celosse