Artikel: Yesus sebagai Anak Manusia yang Menderita


 

Gelar Anak Manusia dalam diri Yesus berkaitan erat dengan penderitaanNya.  Menurut Wenham secara keseluruhan penderitaan Yesus ini terdapat pada (Markus 8:31; 9:12, 31; 10:33, 45; 14:21, 41).[1]  Keseluruhan ayat di atas berbicara mengenai Anak Manusia yang harus menderita dan mati.  Mengenai konsep Anak Manusia yang menderita Susanta mengatakan, “Petrus dan para murid yang lain meyakini bahwa Yesus adalah Mesias yang sedang menggenapi nubuat pengharapan Israel.  Namun sebaliknya, Yesus justru mengutarakan suatu konsep yang baru yaitu Anak Manusia harus mengalami penderitaan dan kematian: suatu konsep yang bertentangan dengan pemahaman Yahudi pada masa itu.”[2]  Singkatnya, gelar Anak Manusia yang menderita dalam diri Yesus tidak bisa dimaknai dalam kerangka pengharapan Israel akan raja yang membebaskan mereka.

            Penderitaan Yesus dalam injil Markus diawali dengan kisah penolakan (Markus 8:31).  Kata penolakan berasal dari bahasa Yunani yaitu apodokimazo.[3]  Kata ini secara literal berarti menolak setelah mencoba.[4]  Mengenai kisah penolakan Yesus, Hutardo mengatakan, “Penolakan Yesus dilakukan oleh penatua, imam kepala dan ahli Taurat.”[5]  Ia menambahkan, “Penyebutan ketiga jenis kelompok yang menolak Yesus mengindikasikan bahwa penolakan tersebut merupakan keputusan tertinggi pada zaman Yesus.”[6]  Sejalan dengan Hutardo, Wolff mengatakan, “penolakan tersebut terjadi setelah diadakan pengawasan dengan seksama oleh ketiga kelompok tersebut.”[7]  Singkatnya, penolakan yang dialami Yesus merupakan kesepakatan bersama dan sudah dilakukan dengan seksama oleh ketiga kelompok di atas. 

            Kisah penderitaan Yesus mencapai puncak ketika Ia berseru: Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Markus 15:34).[8]  Mengenai ayat ini Cole mengatakan, “Tidak ada penjelasan yang lebih baik daripada pandangan tradisional yang melihat bahwa seruan tersebut terjadi karena Yesus merasakan murka ALLAH.”[9]  Sependapat dengan Cole, Leks mengatakan, “Yesus benar-benar mengalami tragedi pemutusan hubungan dengan Allah, walaupun hubungannya dengan Allah tidak pernah terputus.[10]  Ia menambahkan, “Inilah harga yang harus dibayar oleh Yesus sebagai penebus (10:45).”[11]  Maka dari itu dapat dikatakan bahwa seruan tersebut menandakan Kristus menanggung murka Allah yang sebenarnya akan dicurahkan kepada manusia.

            Berdasarkan pemaparan di atas, Strecker menyimpulkan bahwa penderitaan Yesus sebagai Anak Manusia merupakan jalan untuk sampai kepada keselamatan.[12]  Ia menambahkan bahwa penderitaan Kristus ini merupakan ekspresi kondisi manusia yang tidak layak dan tersembunyi.[13]  Singkatnya, penderitaan Kristus merupakan agenda Allah untuk menyelamatkan manusia.



[1] David Wenham& Steve Walton, Exploring The New Testament Volume 1: Guide to the Gospel and Acts, (Illnois: Intervasity Press, 2001), 214.

 

[2] Yohanes Krismantyo Susanta, “Anak Manusia: Suatu Reinterpretasi terhadap Konsep Mesianis Yahudi, Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan: Volume 15 No 2, 2014, 197.

 

[3] The New Linguistic  and Exegetical Key To The Greek New Testament, sv “apodokimazo”, oleh Cleon Rogers Jr& Cleon L.I

 

[4] Ibid.

 

[5] Larry W Hurtado, Mark: New International Biblical Commentary Volume 2, (USA: Hendrickson Publisher, 1989), 137.

[6] Ibid.

 

[7]Richard Wolff, The Gospel According to Mark: Contemporary Commentaries, (Illnois: Tyndale House Publisher, 1969), 60.

 

[8] Santoso, Theologi Markus: Intisari dan Aplikasinya, 149.

 

[9] R.A Cole, The Gospel According to St Mark: Tyndale New Testament Commentaries, (Michigan: Eerdmans Publishing, 1982), 243.

 

[10] Stefan Leks, Tafsir Injil Matius, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003), 487.

 

[11] Ibid.

 

[12] Georg Strecker, Theology of The New Testament, (Louisville: John Knox Press, 2000), 356.

[13] Ibid.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Kucari Damai (Lirik & Chord)

Pribadi Yang Mengenal Hatiku (Lirik & Chord) Jacqlien Celosse

Ujilah Aku Tuhan (Lirik & Chord)