Artikel: Berkenalan dengan ajaran Hypergrace

 

Beberapa tahun yang lalu Gereja sempat dihebohkan dengan munculnya ajaran Hyper Grace yang dipelopori oleh Joseph Prince. Ajaran ini dengan cepat mampu menarik banyak peminat bahkan tak sedikit pendeta-pendeta yang akhirnya mengajarkannya di Gereja mereka. Namun demikian, ternyata banyak dijumpai ajaran-ajaran Hyper Grace yang bertentangan dengan Alkitab. Ajaran-ajaran tersebut akan dijabarkan dalam tiga poin penting:

Menurut Prince hyper grace pertama-tama memiliki ciri yaitu hidup penuh kekuasaan. Prince menjelaskan bahwa hidup penuh kekuasaan tidak ditentukan dari latar belakang pendidikan, keluarga dan sebagainya.[1]  Ia menambahkan bahwa hidup yang penuh dengan kekuasaan berhubungan dengan janji Kristus.  Janji yang dimaksud adalah janji untuk berkuasa.[2] 

Prince menggunakan Rm 5:17 untuk mendukung argumentasinya perihal hidup dengan kekuasaan.[3]  Ia menjelaskan bahwa kata berkuasa berasal dari bahasa Yunani yaitu basileia.  Kata ini paling tepat diterjemahkan sebagai hidup berkuasa sama seperti Raja.[4]  Artinya manusia yang dipenuhi kasih karunia akan memerintah seperti seorang raja.  Memerintah yang dimaksud adalah memiliki sikap pemenang terhadap setiap penyakit, dosa dan sebagainya.[5]  Dengan demikian, hidup dengan kekuasaan dapat diartikan sebagai hidup yang tidak lagi terikat dengan sakit-penyakit, dosa, rasa bersalah, dan sebagainya.  

Kedua, Hyper Grace mengajarkan bahwa hidup harus lepas dari hukum taurat. Prince menjelaskan bahwa pada hakekatnya kehidupan manusia sudah ditebus oleh darah Kristus.  Implikasi dari penebusan Kristus adalah manusia bebas dari hukum.  Maka dari itu bagi Prince hukum tidak lagi diperlukan.[1]  Ini dikarenakan penebusan Kristus membuat hukum tidak lagi berlaku.  Demi mendukung argumentasinya Prince memakai ayat Alkitab.[2]  Ayat yang dimaksud adalah Yoh 1:17 (KJV).[3]  Prince menjelaskan bahwa kuasa dari hukum sudah berhenti sejak zaman Musa.  Dengan demikian, hukum sudah tidak berkuasa di masa sekarang.[4]  Ia menambahkan, “Allah tidak tertarik kepada ketaatan hukum melainkan lebih menyukai sebuah kasih dan hubungan yang erat.  Ini dikarenakan Allah pada hakekatnya adalah kasih.[5]  Maka dari itu dapat dikatakan bahwa kasih perlu menjadi yang terutama dalam kehidupan manusia

 Penebusan Kristus tidak hanya menegasikan kepentingan hukum melainkan membebaskan manusia dari dosa.[6]  Yang dimaksud adalah kematian Kristus di kayu salib membayar lunas semua dosa sehingga manusia dapat berkuasa atas kehidupan.  Ia menambahkan, “Pada waktu menerima Yesus sebagai Tuhan maka secara langsung manusia dibenarkan oleh Allah.[7]  Pembenaran tersebut mengakibatkan manusia dapat bersekutu dengan Allah tanpa adanya rasa bersalah.[8]  Rasa bersalah yang dimaksud adalah konsekuensi dosa yang dibuat oleh manusia sehingga mendatangkan penghukuman Allah.[9]  Dengan demikian, hidup tanpa hukum dapat diartikan sebagai hidup dalam kebenaran Kristus yang memerdekakan dari dosa dan penghukuman Allah.

Ketiga, Hyper Grace mengajarkan bahwa hidup berdasar kasih karunia berarti hidup tanpa dosa. Menurut Prince gagasan yang mengajarkan bahwa manusia harus terlebih dahulu benar kemudian bisa menghadap hadirat Allah adalah gagasan yang dibuat manusia.[1]  Prince melandasi argumentasinya pada Luk 7.  Menurutnya Luk 7 merupakan gambaran yang tepat untuk menjelaskan bahwa manusia tidak perlu mengakui dosanya kemudian bisa menghadap Allah.[2]  Lebih lanjut ia mengatakan, “Perempuan dalam Luk 7 adalah perempuan berdosa.  Perempuan tersebut tidak berdoa meminta pengampunan melainkan datang kepada Yesus dengan apa adanya.[3]  Pada akhirnya Yesus mengatakan dosanya telah diampuni.[4]  Dengan demikian, manusia tidak perlu mengakui dosanya agar mendapat kasih karunia Allah melainkan cukup datang dengan apa adanya.

By: Felix Justian Harnanta

 Sumber:

Prince, Joseph.  Destined To Reign: The Secret to Effortless Success, Wholeness and Victorious Living.  USA: Thomas Nelson Publisher, 1982.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Kucari Damai (Lirik & Chord)

Pribadi Yang Mengenal Hatiku (Lirik & Chord) Jacqlien Celosse

Mengampuni (Lirik & Chord) Maria Shandi