Mengevaluasi ajaran HyperGrace


 

Kasih Karunia bukan untuk Berkuasa

            Penjelasan Joseph Prince mengenai kasih karunia untuk berkuasa perlu mendapat evaluasi.  Evaluasi yang dimaksud berhubungan dengan ayat yang digunakan yaitu Rm 5:17.  Mengenai ayat ini Moo mengatakan, “Paulus ingin menekankan mengenai kasih karunia Allah.[1]  Kasih karunia yang dimaksud adalah pembenaran yang dilakukan Allah melalui karya Kristus di kayu salib.[2]  Pada akhirnya pembenaran tersebut membawa suatu persekutuan yang baru antara Allah dengan manusia.[3]  Dengan demikian, pembenaran tersebut mendamaikan hubungan antara Allah dengan manusia.

             Frase selanjutnya yang perlu mendapat evaluasi adalah akan hidup dan berkuasa.  Menurut Edwards kata berkuasa menunjuk kepada otoritas untuk mengatur seperti seorang raja.[4]  Ia menambahkan, “Kata kasih karunia dan kebenaran menunjuk kepada pemberian dari Allah yang menghancurkan kuasa dosa akibat kejatuhan Adam.[5]  Maka dari itu dapat dikatakan bahwa hidup dalam kasih karunia Allah bukan hidup untuk menguasai dosa melainkan hidup berdasarkan pembenaran Kristus.

Kasih Karunia tidak Menegasikan Kepentingan Hukum Taurat

            Penjelasan Joseph Prince mengenai kasih karunia menegasikan Hukum Taurat perlu mendapat evaluasi.  Evaluasi yang dimaksud berhubungan dengan ayat yang digunakan yaitu Yoh 1:17.  Mengenai ayat ini Michaels mengatakan, “Ayat ini tidak menjelaskan mengenai perbedaan antara keselamatan berdasarkan hukum atau anugerah.[6]  Ridderboss menambahkan, “Allah menyatakan diri-Nya kepada Musa melalui hukum Taurat.[7]  Dalam pemberian hukum tersebut Allah menyatakan diri-Nya kepada Musa ketika lewat di depannya (Kel 34:6) sebagai Allah anugerah dan kebenaran, kasih setia dan kesetiaan.”[8]  Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tidak ada pertentangan antara hukum Taurat dan anugerah.  Ini dikarenakan keduanya sama-sama menekankan kebenaran Allah.

            Penekanan Yohanes menjadi penting berhubungan dengan ayat ini.  Menurut Keener Kristus adalah model dari hukum Taurat.[9]  Hukum Taurat dan Musa beberapa kali memberi kesaksian mengenai Yesus (Yoh 7:49, 9:28-29, 18:31, 19:7).[10]  Ia menambahkan, “Yohanes menerima keaslian hukum Taurat.  Namun demikian yang menjadi penekanan dalam hukum tersebut bukan Musa melainkan Yesus.  Artinya Yesus merupakan pemberian terbaik lebih dari sekedar hukum Taurat.[11]  Dengan demikian, hidup dalam kasih karunia tidak menegasikan hukum Taurat.  Ini dikarenakan antara Taurat dan Kristus tidak ada kontradiksi melainkan saling melengkapi.

Kasih Karunia tidak meniadakan Dosa.

            Prince melihat bahwa kisah Yesus diurapi oleh perempuan berdosa mengindikasikan ketidakpentingan manusia mengakui dosa untuk bisa mendekat kepada Allah (Luk 7:36-50).  Namun demikian, kisah ini perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut.  Menurut Evans isu penting dalam kisah ini terdapat pada ayat 39.[12]  Ia menambahkan, “Orang-orang Farisi berasumsi bahwa sebagai nabi Yesus tidak akan mengizinkan perempuan berdosa itu mendekat atau bahkan mengusirnya bila diperlukan.”[13]  Namun demikian, yang terjadi adalah sebaliknya.  Yesus mengizinkan perempuan berdosa tersebut mengurapinya.  Perbuatan Yesus tersebut pada akhirnya membuat orang-orang Farisi menyimpulkan bahwa Yesus bukan seorang nabi.[14]

            Isu terakhir pada kisah ini terdapat pada pernyataan Yesus yaitu “dosamu sudah diampuni (ay 48-50).”[15]  Mengenai frase di atas Green mengatakan, “Frase di atas paralel dengan pernyataan imanmu telah menyelamatkan engkau dan dapat diartikan sebagai proklamasi keselamatan dari Yesus.”[16]  Marshall menambahkan, “Proklamasi tersebut pada akhirnya memimpin perempuan berdosa tersebut kepada pertobatan dan kehidupan yang baru di dalam Kristus.”[17]  Lebih lanjut Green mengatakan, “Pernyataan dosamu telah diampuni juga berhubungan dengan status dari perempuan berdosa tersebut.”[18]  Artinya pada waktu Yesus mengucapkan dosamu sudah diampuni pada hakekatnya bertujuan agar perempuan itu diterima kembali di komunitas.[19]  Dengan kata lain perempuan tersebut sudah tidak lagi dianggap berdosa dan dapat masuk ke dalam komunitas.  Singkatnya, kasih karunia tidak bisa dipandang sebagai konsep yang menegasikan dosa melainkan membuat orang sadar bahwa dirinya perlu bertobat.



[1] Douglas J Moo, The Epistle to the Romans (NICNT), (Michigan: Eerdmans Publishing, 1996), 339.

 

[2] Ibid.

 

[3] Ibid.

 

[4] James R Edwards, Romans: New International Biblical Commentary, (USA: Hendrickson Publisher, 1992), 151.

 

[5] Ibid.

[6] J Ramsey Michaels, John: New International Biblical Commentary, (USA: Hendrickson Publisher, 1989), 24.

 

[7] Herman Ridderboss, Injil Yohanes: Suatu Tafsiran Teologis, diterjemahkan oleh Lanna Wahyuni, (Surabaya: Penerbit Momentum, 2012), 63.

 

[8] Ibid.

 

[9] Craig S Keener, The Gospel Of John: A Commentary, (USA: Hendrickson Publisher, 2003), 431.

 

[10] Ibid.

 

[11] Ibid, 432.

[12] Craig A Evans, Luke: New International Biblical Commentary, (USA: Hendrickson Publisher, 1990), 121.

 

[13] Ibid.

 

[14] Ibid, 122.

 

[15] Ibid.

 

[16] Joel B Green, The Gospel Of Luke: NICNT, (Michigan: Eerdmans, 1997), 314.

 

[17] I Howard Marshall, The Gospel Of Luke (NIGTC): a Commentary on The Greek Text, (Michigan: Eerdmans Publishing, 1978), 314.

 

[18] Ibid.

 

[19] Green, The Gospel Of Luke: NICNT, 314.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Kucari Damai (Lirik & Chord)

Pribadi Yang Mengenal Hatiku (Lirik & Chord) Jacqlien Celosse

Mengampuni (Lirik & Chord) Maria Shandi