LGBT ditinjau dari Perspektif Kristen


LGBT ditinjau dari Perspektif Kristen

By: Felix Justian Harnanta

   Pendahuluan


            Presiden Amerika Serikat sebelumnya yaitu Barrack Obama pernah mengatakan pernyataan yang kontroversial.  Menurutnya same-sex couples should be able to get married.[1]  Ia melanjutkan argumennya dengan mengatakan, The thing at root that we think about is, not only Christ sacrificing himself on our behalf, but it’s also the golden rule — you know, treat others the way you would want to be treated.”[2]  Kedua pernyataan di atas menjadi indikasi bahwa LGBT mulai mendapat tempat di dalam dunia ini.
            Salah satu pendukung Obama dalam menegakkan toleransi terhadap LGBT adalah Paus Fransiskus.  Menurut Paus Fransiskus Gereja tidak punya hak untuk menghakimi komunitas gay, dan harus menghormati mereka..[3]  Artinya Kaum LGBT tidak boleh dianggap lebih rendah daripada komunitas yang lain. 
            Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dikatakan bahwa LGBT perlu dikaji dari perspektif iman Kristen.  Dalam hal ini penulis akan mengkaji fenomena LGBT dari terang teologi Perjanjian lama.  Pengkajian ini dilakukan agar orang Kristen dapat mengambil sikap yang tepat terhadap LGBT. 

  Fakta

Pesta Gay Kelapa Gading


            Insiden penggerebekan 141 pria diduga homoseksual, di ruko yang diduga sebagai lokasi pesta seks gay di Kelapa Gading, Jakarta Utara menjadi sorotan dunia.[4]  Setelah penggerebekan di Jakarta pada Minggu malam, polisi merilis beberapa gambar laki-laki bertelanjang dada yang ditahan polisi di situs berita lokal.  Aktivis hak asasi manusia mengkhawatirkan teman-teman dan keluarga yang mengenali.[5]


Hukum Cambuk di Aceh

            Terdakwa pasangan gay (liwath) berinisial MH (20) dan pasangannya, MT (24), menjalani 80 kali hukuman cambuk di depan umum.  Eksekusi hukuman cambuk itu dilaksanakan pada Selasa (23/5/2017) di halaman Masjid Syuhada, Lamgugob, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh.[6]
Pasangan sejenis itu didakwa melanggar Pasal 63 ayat 1 juncto Pasal 1 angka 28 Qanun Nomor 6 Tahun 2014 mengenai hukum jinayah.  Pasal itu berbunyi, "Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan liwath diancam hukuman paling banyak 100 kali cambuk atau denda paling banyak 1.000 gram emas murni atau penjara paling lama 100 bulan."[7]


Pernikahan Gay di Bali

            Pada September 2015, warga Bali dihebohkan dengan pernikahan pasangan dua pria di sebuah hotel di daerah Ubud Kabupaten Gianyar, Bali.  Pernikahan itu dihadiri seorang pemangku (pemimpin upacara agama Hindu) dan dihadiri oleh kedua orang tua salah satu mempelai pasangan sejenis itu.[8]  Pernikahan menjadi kontroversial karena dihadiri oleh seorang pemuka agama umat Hindu.  Kesan yang muncul adalah seakan-akan pemimpin umat tersebut mendukung LGBT.


Pesta Gay di Surabaya.

            Pada awal Mei masyarakat Surabaya dikejutkan dengan pesta gay yang diduga dilakukan di dua kamar di Hotel Oval Surabaya.  Pesta seks gay di Ruang 203 dan 314 itu digerebek jajaran unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, Minggu 30 April 2017.[9]  Dalam kejadian tersebut sebanyak 14 orang ditangkap.  Satreskrim Polresta Surabaya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menggelar tes Infeksi Menular Seksual (IMS) terhadap belasan peserta pesta itu.[10]  Dari hasil tes itu ditemukan fakta mengejutkan.  Di mana lima dari 14 orang peserta pesta seks gay itu positif mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV).[11] 


 Pendapat para Ahli

          Menurut Karl Maria Kertbeny LGBT adalah salah satu dari tiga tipe karakteristik seksual.  Tiga karakteristik itu meliputi monoseksual, heteroseksual dan heterogen.[12]  Lain halnya dengan Kertbeny, Ulrich mengatakan bahwa LGBT atau Homoseksual adalah merupakan orang yang memiliki jiwa feminim.  Menurutnya laki laki yang mencintai laki laki merupakan gender ketiga yang berkembang atau disebut juga wanita yang penuh semangat.[13]
            Berdasarkan uraian dua ahli di atas maka dapat dikatakan bahwa LGBT atau homoseksual merupakan jenis lain dari seksualitas.  Oleh karena itu tak heran jika kedua ahli di atas melihat bahwa fenomena LGBT adalah sesuatu yang normal.


Ayat pendukung LGBT.

            Kaum LGBT memiliki Alkitab sendiri yang disebut Queen James Version.  Ayat perjanjian Lama dalam QJV yang acapkali menjadi pendukung argumentasi LGBT adalah Kej 19:5[14], Im 18:22[15] dan Im 20:13.[16]  Ketiga ayat ini nantinya akan dikaji dalam perspektif kekristenan khususnya dalam hal ini teologi perjanjian Lama. 
            Vines salah satu pendukung LGBT mengatakan bahwa dosa Sodom dan Gomora (Kej 19:5) bukanlah hubungan sesama jenis, melainkan ancaman pemerkosaan yang dilakukan oleh sekelompok orang.[17]  Ia menambahkan bahwa dalam dunia kuno pemerkosaan yang dilakukan seorang pria merupakan kejahatan tertinggi.[18]  Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dosa sodom dan Gomora adalah bukan hubungan sesama jenis melainkan pemerkosaan.
            Dua ayat berikutnya sangat berkaitan satu dengan yang lain (Im 18:22, 20:13.)  Bagi Vines dua ayat tersebut tidak mengindikasikan adanya larangan terhadap hubungan sesama jenis(LGBT).[19]  Ia menambahkan, “Yang dilarang dalam pasal-pasal ini adalah hubungan antar saudara, perzinahan dan sifat kebinatangan.”[20]  Singkatnya dua ayat di atas bagi Vines tidak ada kaitannya sama sekali dengan perihal menjalin hubungan sesama jenis.


Evaluasi terhadap Pandangan LGBT

                Ketiga ayat di atas perlu ditafsirkan dengan benar dari sudut pandang kekristenan khususnya teologi Perjanjian Lama.  Ayat pertama yang perlu ditafsirkan dengan benar adalah Kej 19:5.  Pada Kej 19:5 terdapat kata Yada[21].  Memang secara literal kata ini berarti mengenal[22], namun dalam Theological Dictionary of The Old Testament kata yada mencerminkan hubungan antara laki-laki dan perempuan(Gen 4:1, 17, 25, 38:26,..........)[23], perempuan dan laki-laki(Gen 19:8, Jgs 11:39, .....).[24]  Kata ini juga dipakai untuk menunjukkan hubungan sejenis atau homoseksual (Gen 19:5, Jud 19:22)[25].  Maka bisa dikatakan bahwa kata yada ini mengacu kepada hubungan sesama jenis bukan sekedar berkenalan.
            Untuk menafsirkan Kej 19:5 dengan benar pertama-tama perlu melihat argumentasi dari Lukito, “Dalam konteks Kejadian 19 demi memproteksi dua malaikat yang datang ke rumahnya itu, Lot sampai tega menyerahkan dua anak perempuan-nya kepada orang-orang Sodom yang tentunya bukan dimaksudkan untuk berkenalan, tetapi bersetubuh.”[26]  Mengenai kata yadha sendiri Brueggeman berkomentar, “Kata ini paling tepat diartikan sebagai hasrat untuk hubungan seksual dengan sesama jenis.”[27]  Hamilton menambahkan, “Lot tidak akan pernah menyampaikan saran tentang penawaran anaknya jika yang diminta hanyalah mengobrol.[28]  Berdasarkan data di atas maka dapat dikatakan bahwa penafsiran hubungan sesama jenis lebih dapat diterima daripada hanya mengenal.
            Dua ayat berikutnya(Im 18:22 dan Im 20:13) juga perlu ditafsirkan dengan benar.  Harrison memulai argumentasinya dengan mengatakan, “perilaku sesama jenis sering dilakukan di Timur dekat kuno sejak zaman dahulu.”[29]  Ia menambahkan, “Beberapa aktivitas hubungan sesama jenis terjadi di Mesopotamia seperti yang disarankan oleh pemimpin umat
merupakan bagian dari penyembahan kepada dewa cinta dan perang yaitu Ishtar.”[30]  Singkatnya, perilaku homoseksual(LGBT) merupakan perilaku yang sudah umum terjadi di Timur dekat Kuno dan erat kaitannya dengan penyembahan dewa tertentu. 
            Bellinger melihat bahwa Im 18:22 merupakan larangan bagi hubungan sesama jenis.[31]  Brown menambahkan bahwa larangan terhadap homoseksualitas adalah larangan yang bersifat universal.[32]  Sejalan dengan Brown, De Young mengatakan, “Teks tersebut tidak bicara tentang laki-laki yang lebih tua dan pemuda.  Teks itu menggunakan istilah laki-laki yang umum di dalam menggariskan bahwa seorang laki-laki tidak boleh berhubungan seks dengan sesama jenisnya seperti dengan seorang perempuan.”[33]  Singkatnya perilaku homoseksual merupakan sesuatu yang melanggar perintah Allah, berlaku sampai hari ini serta bersifat umum.
            Kata yang menjadi permasalahan adalah dalam Im18:22 dan Im 20:13 to evah.  Vines(pendukung LGBT) mengartikan toevah sebagai praktek penyembahan perhala yang dilakukan oleh orang-orang di luar Yahudi.[34]  Vines menganalogikan kekejian seperti yang terdapat dalam Ul 7:25-26, dimana kekejian dikaitkan dengan penyembahan kepada dewa-dewa Kanaan.”[35]  Singkatnya, menurut Vines kekejian yang dimaksud bukan menunjuk kepada praktek homoseksual melainkan penyembahan berhala kepada dewa asing. 
            Pandangan Vines di atas jelas tidak bisa dibenarkan secara kekristenan.  Budd melihat bahwa kata kekejian ini menunjuk kepada tindakan homoseksual.[36]  Sejalan dengan Budd, Young mengatakan bahwa kita tidak bisa mereduksi kata to ebah menjadi sekadar perilaku tabu sosial atau kenajisan ritual biasa.[37]  Ia menambahkan, “Kata ini secara umum menunjuk kepada sesuatu yang Tuhan benci.”[38]  Dengan kata lain perilaku homoseksual merupakan perilaku yang melanggar kekudusan Allah.  Oleh sebab itu, tepatlah argumentasi Hartley, “Homoseksual membawa seseorang menuju hukuman mati.”[39] 
            Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dikatakan bahwa LGBT merupakan tindakan kekejian di mata Allah.  Ini dikarenakan LGBT melanggar kekudusan Allah.  Artinya kekudusan Allah merupakan standar tertinggi untuk mengukur kapasitas benar atau salahnya tindakan manusia. 







Kesimpulan

            LGBT merupakan suatu fenomena kelainan yang seksual dan bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan.  Kelainan seksual ini bukanlah hal yang wajar namun perlu untuk dicarikan suatu solusi.  Oleh sebab itu perilaku homoseksual atau LGBT merupakan masalah serius yang harus ditangani oleh gereja.
            Dewasa ini gereja sudah terbagi menjadi dua kelompok.  Kelompok pertama adalah pro LGBT, sedangkan kelompok kedua adalah menolak LGBT.  Namun demikian halnya, LGBT sama sekali tidak bisa dibenarkan.  Ini dikarenakan LGBT melanggar kekudusan Allah sendiri.  Singkatnya, LGBT merupakan dosa di mata Allah.
            Penulis melihat bahwa Gereja harus mengambil sikap tegas terhadap perilaku LGBT.  Yang dimaksud disini adalah gereja tidak boleh bertoleransi terhadapa dosa LGBT.  Namun demikian halnya, Gereja harus menolong orang yang mengalami kelainan seksual tersebut(LGBT).  Dengan demikian kaum LGBT merasa lebih diterima dan tidak menutup kemungkinan akan meninggalkan LGBT itu sendiri.







Daftar Pustaka


Buku

Bellinger Jr, W.H .  Leviticus, Numbers: New International Biblical Commentary.  Massachusets: Hendrickson Publisher, 2001.

Brown, Michael L Bisakah Anda Gay dan Kristen: Menyikapi Homoseksual dalam Kasih dan Kebenaran, diterjemahkan oleh Yorry Anderson Nathan.  Jakarta: Penerbit Nafiri Gabriel, 2016.

Brueggemann, Walter.  Genesis: Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching. 
Atlanta: John Knox Press, 1982.

Budd, Philip J.  The New Century Bible Commentary: Leviticus.  Michigan: Eerdman , 1996

De Young, Kevin.  Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan mengenai Homoseksual, diterjemahkan oleh Jovita Desinta D.  Surabaya: Penerbit Momentum, 2016.

Hamilton, Victor P.  The Book Of Genesis: Chapter 18-50 The New International Commentary on The Old Testament.   Michigan: Eerdman, 1995.

Harrison, R.K.  Leviticus: An Introduction and Commentary: Tyndale Old Testament Commentaries.  Leicester: Intervasity Press, 1980.

Hartley, John E.  Leviticus: Word Biblical Commentary 4.  Texas: Word Book Publisher, 1992.

Lukito, Daniel Lukas.  Rupa-rupa Angin Pengajaran: Pergumulan 30 tahun membaca arah Teologi Kekinian.  Malang: Literatur SAAT, 2017..

Vines, Matthew.  God and The Gay Christian: The Biblical Case in Support of Same Sex
Relationship.  U.S.A: Convergent Books, 1992.


Internet

Calmes, Jackie dan Peter Baker.  Obama Says Same-Sex Marriage Should Be Legal, “[artikel on-line]; https://www.nytimes.com/2012/05/10/us/politics/obama-says-same-sex-marriage-should-be-legal.  Internet: Diakes 8 Agustus 2018.


Nn, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Gereja harus meminta maaf kepada kaum Gay, “[artikel on-line]; www.bbc.com.  Internet: Diakses 10 Agustus 2018.

Nn, Pengertian LGBT menurut Para Ahli, “[artikel on-line]”; www.dosenpsikologi.com.  Internet: Diakses 12 Agustus 2018.


[1] Jackie Calmes dan Peter Baker, Obama Says Same-Sex Marriage Should Be Legal, “[artikel on-line]; https://www.nytimes.com/2012/05/10/us/politics/obama-says-same-sex-marriage-should-be-legal.  Internet: Diakes 8 Agustus 2018.


[2] Calmes dan Baker, Obama Says Same-Sex Marriage Should Be Legal.

[3] Nn, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Gereja harus meminta maaf kepada kaum Gay, “[artikel on-line]; www.bbc.com.  Internet: Diakses 10 Agustus 2018.

[4] Andreas Tuwo Gerry, 4 Kasus LGBT di Indonesia yang Disorot Dunia, “[artikel on-line]; www.liputan6.com.  Internet: Diakses 12 Agustus 2018.

[5] Ibid, Gery..

[6] Ibid, Gery.

[7] Ibid, Gery.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[13] Ibid.

[14] https://carm.org/queen-james-bible, And they called unto Lot, and said unto him, Where are the men which came in to thee this night? Bring them out unto us, that we may rape and humiliate them." (QJV).  Internet: Diakses 12 Agustus 2018.

[15] https://carm.org/queen-james-bible Thou shalt not lie with mankind as with womankind in the temple of Molech: it is an abomination." (QJV).  Internet: Diakses 12 Agustus 2018

[16] https://carm.org/queen-james-bible If a man also lie with mankind in the temple of Molech, as he lieth with a woman, both of them have committed an abomination: they shall surely be put to death; their blood shall be upon them." (QJV).  Internet: Diakses 12 Agustus 2018.

[17] Matthew Vines, God and The Gay Christian: The Biblical Case in Support of Same Sex Relationship, (U.S.A: Convergent Books, 1992), 58.

[18] Ibid.

[19] Ibid., 73.

[20] Ibid.

[21] http://biblehub.com/text/genesis/19-5.htm, Internet: Diakses 13 Agustus 2018

[22] ____________________________________, Internet: Diakses 13 Agustus 2018.

[23] Theological Dictionary Of The Old Testament volume 5, sv “yada”, G Johannes Botterweck(ed), (Grand Rapids, Michigan: Wm Eerdman Publishing House, 1986), 464.

[24] Ibid.

[25] Ibid.

[26] Daniel Lukas Lukito, Rupa-rupa Angin Pengajaran: Pergumulan 30 tahun membaca arah Teologi Kekinian, (Malang: Literatur SAAT, 2017), 279.

[27] Walter Brueggemann, Genesis: Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching, (Atlanta: John Knox Press, 1982), 164.

[28] Victor P Hamilton, The Book Of Genesis: Chapter 18-50 The New International Commentary on The Old Testament, (Grand Rapids, Michigan: Wm Eerdman Publishing House, 1995), 34.

[29] R.K Harrison, Leviticus: An Introduction and Commentary: Tyndale Old Testament Commentaries, (Leicester: Intervasity Press, 1980), 191.

[30] Ibid.

[31] WH Bellinger Jr, Leviticus, Numbers: New International Biblical Commentary, (Massachusets: Hendrickson Publisher, 2001), 113.

[32] Michael L Brown, Bisakah Anda Gay dan Kristen: Menyikapi Homoseksual dalam Kasih dan Kebenaran, diterjemahkan oleh Yorry Anderson Nathan, (Jakarta: Penerbit Nafiri Gabriel, 2016), 148.

[33] Kevin De Young, Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan mengenai Homoseksual, diterjemahkan oleh Jovita Desinta D, (Surabaya: Penerbit Momentum,2016), 39.

[34] Vines, God and The Gay Christian: The Biblical Case in Support of Same Sex Relationship, 75.

[35] Ibid.

[36] Philip J Budd, The New Century Bible Commentary: Leviticus, (Michigan: Eerdman , 1996), 294.

[37] De Young, Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan mengenai Homoseksual, 43.

[38] Ibid.

[39] John E Hartley, Leviticus: Word Biblical Commentary 4, (Texas: Word Book Publisher, 1992), 339.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Segarkan Hidup Setiap Hari

 Nats: Mzm 52:8-9 Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya r   akan kasih setia Allah untuk s...