Evaluasi terhadap Tertawa dalam Roh Versi Toronto Blessing ditinjau dari Karunia membedakan Roh


EVALUASI TERHADAP
TERTAWA DALAM ROH VERSI TORONTO BLESSING
DITINJAU DARI KARUNIA MEMBEDAKAN ROH



 Pendahuluan

           Doktrin mengenai Roh Kudus sangat penting untuk dipahami secara luas.  Salah satu teolog Injili non Pentakosta Millard Erickson mengungkapkan, “Terdapat berbagai alasan mengapa penelitian mengenai Roh Kudus sangat penting bagi kita.”[1]  Ia melanjutkan, “Salah satunya ialah bahwa melalui karya Roh Kudus inilah Allah Tritunggal menjadi nyata bagi orang percaya.”[2]  Sejalan dengan Millard Erickson, Stephen Tong mengatakan, “Doktrin Roh Kudus merupakan doktrin yang penting sekali, selain sebagai standar iman di dalam pengakuan Iman Rasuli juga merupakan doktrin tentang oknum Allah Tritunggal, Allah yang maha Esa.”[3]  Melalui pernyataan di atas maka kaum injili non Pentakosta memandang Roh Kudus sebagai salah satu oknum dalam Tritunggal.
            Kalangan Pentakosta mempunyai pandangan sendiri mengenai doktrin Roh Kudus.  Sebagaimana yang diungkapkan Stanley Horton, “Dengan tegas dan mutlak Alkitab memandang Roh Kudus sebagai satu Pribadi yang khas.”[4]  Kemudian dalam kaitannya dengan karyanya ia mengatakan, “Roh Kudus diakui sebagai Pribadi yang nyata, yang berakal, berperasaan dan berkehendak.”[5]  Maka dari itu Roh Kudus bukan hanya sebagai salah satu oknum dari Tritunggal tetapi sebagai pribadi yang khas.
            Teolog pentakosta lainnya Robert Menzies mengatakan, “Penganugerahan Roh Kudus yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 2 telah memberikan definisi kepada gerakan itu.”[6]  Ia menambahkan, “Pengalaman dinamis yang telah memberikan kohesi atau keterpaduan terhadap gerakan itu- sebuah pengalaman yang leh kaum pentakosta dinamakan sebagai baptisan Roh Kudus- berakar dari janji kuasa yang diasosiasikan dengan anugerah pentakosta (Kisah Para Rasul 1:8).”[7]  Maka dari itu kaum pentakosta menempatkan doktrin Roh Kudus sebagai sentral dari teologinya berdasarkan (Kis 1:8) dan perhatian khusus yang diberikan kepada baptisan Roh Kudus.
            Melalui karya tulis ini penulis akan membahas mengenai tertawa dalam Roh yang menjadi isu kontemporer dalam kalangan pentakosta kharismatik.  Penulis juga akan meninjau sejarah toronto blessing, ayat-ayat pendukung serta evaluasi dari pandangan pentakosta terhadap tertawa dalam roh.


Sejarah Toronto Blessing

            Membahas mengenai tertawa dalam Roh maka tidak bisa dilepaskan dari fenomena Toronto Blessing.  Toronto Blessing adalah gejala kebangunan yang dipercayai oleh para pendukungnya sebagai lawatan roh Tuhan yang dicirikan ibadat yang diiringi dengan pengalaman-pengalaman emosional seperti menangis, menjerit, rebah, bergulingan, menari-nari, berjatuhan, mabuk dan mengaum-ngaum seperti singa.[8]  Gejala mutakhir yang dipopulerkan dalam ibadat ini adalah gejala tertawa terbahak-bahak yang disebut sebagai holy joy (sukacita kudus) atau holy laughter (tertawa kudus).[9]  Ciri khas inilah yang membuat Toronto Blessing begitu terkenal sampai sekarang
            Salah satu pemimpin utama di belakang Toronto Blessing adalah Rodney Howard Browne.[10]  Rodney (lahir tanggal 12 Juni 1961) dilaporkan sebagai anak dari keluarga Pentakosta yang taat yang tingga di Port Elisabeth, Afrika Selatan.[11]  Dia memainkan peranan sentral sehubungan dengan asal mula Toronto Blessing.[12]  Dia percaya bahwa Allah sudah memberikan kepadanya urapan khusus untuk membaharui gereja dengan kuasa Roh Kudus.[13]  Dia bahkan menyebut dirinya sebagai “The Holy Ghost Bartender”, atas dasar klaimnya ini dia memberikan anggur baru Roh Kudus.[14] 
            Yang menjadi kontroversi dari Rodney Howard Browne adalah kedekatannya dengan pengajar Word Of Faith.  Bj Oropeza menjelaskan, “Word Faith teaching emphashizes positive confession  to the extent that faith in one’s confession actually become the driving force, Word Faith teacing asserts that confession will sovereignly get you whatever you want.”[15]  Herlianto menamahkan, “Word of Faith Movement juga banyak dikenal sebagai Faith Movement, Faith Formula, dan mungkin lebih dikenal dengan semboyan-semboyan seperti Hyper Faith, Positive Conffession, Name it and claim it dan ajaran Health -Wealth & Prosperity.”[16]  Singkatnya teologi word of faith melihat seseorang mampu mendapatkan apapun yang diinginkan melalui iman seseorang tersebut dan hadir dalam berbagai wujud pengajaran dewasa ini. 


Analisa terhadap ayat pendukung
Tertawa dalam Roh
di PL

            Untuk membuktikan praktek tertawa ayat-ayat berikut dipakai yaitu Sara yang tertawa waktu kelahiran Ishak (Kej 21:5-6), dan gejala tertawa pada waktu Tuhan memulihkan Sion (Maz 126:1-3).[17]  Ayat pertama yang dipakai untuk mendukung tertawa dalam Roh adalah Kej 21:5-6[18].  Mengenai ayat ini Claus Westermann mengatakan, “Tertawa disini bersinonim dengan sukacita.”[19]  Ia menambahkan, “Frasa semua yang mendengar 6b sama dengan 6a karena mendengar disini mengacu kepada sebuah kejadian bukan suatu penafsiran.”[20]  Artinya bahwa tertawa disini merupakan ekspresi karena suatu peristiwa yaitu kelahiran Ishak. 
            Bahasa Ibrani yang dipakai disini ada 2 yaitu sehok[21] dan yishaq[22].  Victor P Hamilton memberikan penjelasan mengenai dua kata ini, “Beberapa penafsir yang mengartikan sehok sebagai tertawa gembira adalah tidak konsisten dengan penggunaan kata yishaq[23]  Ia melanjutkan, “Di satu sisi tertawa gembira tetapi di sisi yang lain tertawa mengejek, kecuali mengartikan yishaq li sebagai bersukacita denganku sebagai ganti tertawa kepadaku.”[24]  Ini menegaskan bahwa pada ayat 6 b bukanlah mengacu kepada Sarah yang ditertawai tetapi bersukacita bersama atas kelahiran Ishak.
            Herlianto membandingkan konsep tertawa Toronto Blessing dengan kejadian Sarah tertawa, “Dalam Kej 21:6-7 tidak disebutkan bahwa Sara ketawa lagi (jadi yang keduakali), tetapi Sara hanya mengenang bahwa ia pernah mengetawai (dalam hati) pernyataan tamunya tentang melahirkan anak di usia tuanya yang menunjukkan ketidakpercayaannya karena itulah maka sekarang setiap orang akan mengetawainya.”[25]  Ia kemudian melanjutkan, “Bisa saja sesudah itu Sara tertawa karena sukacita di luar yang dicatat Alkitab, tetapi tentu tertawanya berbeda sekali dengan tertawa Toronto yang di luar kesadaran dan bukan karena sesuatu yang keluar dari kesadaran diri.”[26]  Berdasarkan analisa di atas maka ayat ini tidak bisa menjadi pendukung untuk konsep tertawa dari Toronto Blessing.
            Ayat lain yang menjadi contoh adalah Maz 126:1-3.  Hill dan Walton menggolongkan mazmur 126 ini kepada nyanyian-nyanyian ziarah ke Yerusalem: 120-134.[27]  Kitab Mazmur dalam bahasa Inggris diterjemahkan dari Septuaginta(Psalmos) melalui vulgata.[28]  Kata Yunani yang digunakan untuk menerjemahkan kata Ibrani mizmor berasal dari akar kata zamar (untuk menyanyi, atau untuk menarik) yang berhubungan dengan buku itu dan musik.[29]  Maka bisa dikatakan bahwa kitab Mazmur adalah kitab yang berisi nyanyian.
            Mengenai Maz 126: 1-3, Matthew Henry mengatakan, “Ditulisnya mazmur ini merujuk kepada suatu peristiwa pembebasan umat Allah secara besar-besaran dan mengejutkan dari perbudakan dan kesusahan, kemungkinan besar pada waktu mereka kembali dari Babel pada masa Ezra.”[30]  Ini menegaskan bahwa inti dari mazmur 126 adalah sukacita karena pembebasan dari Allah.
            Bahasa Ibrani yang dipakai untuk kata tertawa pada Mzm 126:2 adalah sehok (will laughter).  Leslie C Allen berkomentar, “Reversal of nation fortunes need not be a single or isolated event rendering of Hos 6:11 whenever I restored the fortunes of my people and his reference to an event which happened repeatedly in the course of Israel History.”[31]  Ia menambahkan, “Then vv 1-3 constitute a historical retrospect to Yahweh’s praiseworty intervention in the past.”[32]  Bisa dikatakan bahwa tertawa dan sukacita ini terjadi karena perbuatan Allah di masa lampau yang membebaskan memulihkan umatNya dan tidak ada indikasi harus tertawa di dalamnya.
            Herlianto juga memberikan perbandingan antara konsep tertawa dalam Maz 126:1-3 dengan konsep tertawa versi Toronto Blessing.  Ia mengatakan, “Tertawa dalam pemulihan Sion adalah tertawa penuh kebahagiaan, tertawa yang menggantikan tangisan kesedihan dan duka dan tertawa yang keluar dari hati yang telah dibebaskan dan dipulihkan Tuhan.”[33]  Sedangkan menurutnya konsep tertawa Toronto Blessing, “...... tertawa yang disebabkan oleh histeria dan sugesti masa, bahkan ada yang tidak bisa dikendalikan sampai berhari-hari.[34]  Berdasarkan penjelasan di atas maka ayat ini juga tidak bisa dipakai untuk mendukung konsep tertawa dalam Roh versi Toronto Blessing.


Ayat pendukung dalam PB

            John Arnott[35] seorang pelopor tertawa kudus yang juga berperan dalam perkembangan Toronto Blessing memulai pemahamannya dengan sebuah kesaksian dari sepasang suami dan istri
“Setelah itu Roh Kudus tercinta melawat kami dan selama empat puluh menit kami tertawa.  Kami mengakhiri sampai di lantai dengan tertawa begitu kerasnya.  Oh betapa, kesembuhan dan pemulihan sudah pernikahan kami.  Dan hanya itu cita rasa dari apa yang Allah sediakan bagi kami.  Kami percaya mukjizat sudah terjadi bagi pernikahan kami.  Puji Tuhan.”[36]
       
             Ia kemudian melanjutkan dengan mengatakan, “Beberapa orang mengatakan bahwa tawa bukanlah sukacita, tetapi kita semua setuju bahwa tertawa adalah ekspresi sukacita yang sangat umum.  Ia menghendaki kita untuk mempunyai sukacita dan memenuhi mulut kita dengan tertawa.”[37]  Dalam PB ia memakai landasan 1 Ptr 1:8-9, Yoh 15:10-11 dan Yoh 16:24 dengan kata sukacita penuh, sukacita yang tak terkatakan.[38]
            Kata sukacita dalam Yoh 15:10-11 bersasal dari bahasa Yunani khara (Noun Sing Fem Nom)[39]  Mengenai hal ini George L Beasley Murray mengatakan, “Jesus experienced it, even when facing the dread hour of sacrifice, he revealed these things to his disciples that they might have the same joy in fullest measure, they too are know it is they walk in the same path as he.”[40]  Artinya bahwa sukacita yang Yesus jelaskan berhubungan dengan saat terakhirnya di dunia dan para murid perlu memiliki sukacita yang sama karena mereka juga akan meninggalkan dunia.
            Kata disempurnakan disini berasal dari kata plerothe (Yoh 15:11) (Aor Pass Sub 3S)[41] dan he pepleromene (Yoh 16:24) (Verb Perf, Pass, Part, Fem , Sing, Nom.)[42]  Cleon L Rogers Jr memberikan arti kepada plerothe yaitu to fulfill[43] sedangkan kepada he pepleromene yaitu expresses purpose.[44]  Disini tidak ditemukan sama sekali indikasi bahwa sukacita yang disempurnakan dikaitkan dengan ekspresi tertawa
Mengenai Yoh 15:11 Herman Ridderboss mengatakan, “Ungkapan supaya sukacitamu penuh merupakan gambaran Yohanes yang khas akan implikasi tertinggi dari pewahyuan diri Yesus kepada miliknya.”[45]  Ia menambahkan, “Di sini semua penekanan terletak kepada murid-murid yang terserap ke dalam sukacita Tuhan mereka dalam menggenapi pekerjaan Allah di bumi, jika mereka tinggal di dalam kasihNya.”[46]
            Mengenai Yoh 16 :24 Craig Kenner mengatakan, “Sukacita yang penuh bukan hanya merefleksikan tentang kebangkitan Yesus (16:20-22, 17:13) tetapi sebagai akibat dari kehidupan bersama Dia (15:10-11, 16:24).”[47]  Disini sekali lagi tidak ditemukan indikasi bahwa sukacita penuh selalu dimanifestasikan dengan tertawa
            Kata sukacita yang tidak terkatakan dalam 1 Ptr 1:8-9 memakai bahasa Yunani khara aneklaleto ( Noun Fem Sing Dat, Adj Fem Sing Dat)[48].  Mengenai ini J Ramsey Michels mengatakan, “The Joy awaiting Christian community at the last day in inexpressible and glorious.”[49]  Senada dengan Ramsey, Scott Knight mengatakan, “Peter sees this response to the Lord that he describes it as the inauguration of their final salvation........”[50]  Artinya bahwa sukacita yang tidak terkatakan ini berkaitan dengan penantian akan hari akhir dan tidak ada kesinambungan dengan keharusan tertawa
            Berdasarkan penjelasan di atas maka setiap ayat dalam Perjanjian baru yang dikutip oleh John Arnott tidak bisa dipakai menjadi landasan teori.  Hal ini dikarenakan sukacita yang dimaksud selalu berkaitan dengan konteks dimana ayat itu berada dan tidak selalu dikaitkan dengan tertawa.


Evaluasi dari terang membedakan Roh

            Daniel Lukas Lukito menjelaskan bahwa tujuan akhir dari karya Roh Kudus adalah selalu memuliakan Allah.[51]  Sejalan dengan Daniel Lukas Lukito, Hans Marris mengatakan, “Oleh kekayaan Roh Kudus, Anda akan menikmati persekutuan dengan Kristus yang dimuliakan.”[52]  Evaluasi pertama yang bisa diberikan untuk tertawa dalam Roh adalah fenomena ini tidak membawa kepada persekutuan dengan Kristus.  Maka tepatlah yang dikatakan oleh Lyod Peterson bahwa tertawa dalam Roh adalah “extraordinary phenomenon of ecstatic laughter”[53]  Artinya dengan keadaan di luar kesadaran diri.[54]  Dengan kata lain orang yang tertawa dalam Roh mengalaminya di luar kesadarannya.
            Daniel Lukas Lukito memberikan cara kedua untuk membedakan karunia roh yaitu Otoritas tertinggi dari Roh Kudus adalah Firman Allah.[55]  Ia kemudian menambahkan, “Orang yang memiliki Roh kebenaran harus memiliki suatu kesadaran bahwa mereka memiliki senjata firman Allah, mereka harus menguasai firman Allah dan menjadikan firman Allah sebagai alat untuk mendeteksi ajaran-ajaran yang tidak benar dan menyesatkan.”[56]  Artinya bahwa setiap manifestasi yang terjadi tidak boleh bertentangan dengan Alkitab.
            Masih dalam pokok yang sama seperti di atas James E Baverly mengatakan, “Kepopuleran dari sesuatu tidak menjadikan hal itu benar.”[57]  Ia menambahkan, “Kenyataan bahwa ribuan orang sudah datang ke Toronto untuk mengalami berkat tidaklah secara otomatis menjadikan hal itu otentik.”[58]  Artinya bahwa meski tertawa dalam roh dialami oleh banyak orang, tidak secara otomatis menjadikan hal itu otentik melainkan Firman Allah adalah satu-satunya sumber yang otentik.  Dengan kata lain semua manifestasi harus tunduk kepada Alkitab sebagai sumber kebenaran.
            Kriteria ketiga yang diberikan Daniel Lukas Lukito adalah Berita utama Roh Kudus adalah selalu penebusan atau Karya Allah yang menebus manusia yang berdosa di dalam Kristus.[59]  Ia juga menambahkan, “Hamba-hamba Tuhan, pemberita-pemberita Tuhan yang benar akan memberikan prioritas yang tinggi terhadap keselamatan atau penebusan Allah di dalam Kristus, dalam segala pelayanan dan kesaksiannya.”[60]  Sementara di pihak pelopor tertawa dalam Roh, karya Roh Kudus dimaknai secara berlebihan oleh John Arnott.  Menurutnya, “Manakala beberapa orang mengadakan kontak dengan urapan Roh Kudus, mereka mengalami sukacita dan gelak tawa yang eksplosif.”[61]  Ia menambahkan, “Pengamatan saya menunjukkan bahwa gelak tawa yang intensif seringkali mendampingi kesembuhan yang emosional.”[62]  Dua pernyataan dari John Arnott jelas tidak bisa dibenarkan karena bertentangan dengan inti berita Roh Kudus. 
Berita utama Roh Kudus seperti yang sudah dijelaskan di atas tidak dijumpai dalam fenomena tertawa dalam Roh.  Hal ini dikarenakan fenomena ini sama sekali tidak kristosentris seperti yang dipaparkan oleh John Arnott di atas.  Maka dari itu tepatlah seperti yang dikatakan oleh BJ Oropeza mengenai tertawa dalam roh, “Holy laughter may be the result of frail human expressing limited and faulty reaction to a true move of the spirit.”[63]
            Masih dalam konteks kriteria yang ketiga, berkaitan dengan berita utama dari Roh Kudus Wayne Grudem mengatakan, “The Work of the Holy spirit is to manifest the active presence of God in the world and especially in the church.”[64]  Donald Gee menambahkan, “Though a spiritual gift, the humblest believer may contribute to the whole body of Christ.[65]  Berdasarkan dua penjelasan di atas maka bisa dikatakan bahwa berita utama Roh Kudus juga terkait dengan karyaNya yaitu memanifestasikan kehadiran Allah serta membuat setiap orang percaya mengambil bagian dalam tubuh Kristus.
            Kriteria keempat yang diberikan oleh Daniel Lukas Lukito adalah Sarana dari Karya Roh Kudus adalah Hamba Tuhan yang konsisten dengan Firman Allah.[66]  Ia menambahkan, “Ia akan konsisten kalau ia terus menerus menyadari bahwa yang harus ia beritakan bukan dirinya melainkan firman Allah.”[67]  Ini mengindikasikan bahwa konsistensi dalam Firman Allah sangatlah penting dan harus dilakukan dengan disiplin ilmu dan tanpa motivasi yang salah.
John Arnott adalah seseorang yang memaksakan pengalamannya kedalam teks Alkitab.  Ia mengatakan, “Saya secara pribadi telah mendiskusikan hal sukacita dan gelak tawa ini dengan Dr John White, seorang psikiater dari Vancouver Kanada.”[68]  Ia melanjutkan, “Ia mengamati bahwa sukacita yang baru kembali ditemukan ini begitu memperkokoh dan menguatkan seseorang dengan kasih Allah sehingga, dalam banyak kasus, mereka dengan demikian sanggup membenahi secara positif berbagai luka berbagai luka dan isu batiniah yang sangat serius dari masa lalu mereka.”[69]  John Arnott memasukkan ayat Alkitab berdasar kepada penelitian yang dilakukan.  Salah satunya adalah Ams 15:13.[70]  Ayat -ayat tersebut berbeda karena dilakukan penelitian dengan Dr John White, sedangkan ayat- ayat yang lainnya (seperti yang sudah dijelaskan pada topik ayat pendukung di PB) tidak dilakukan penelitian.
Jelas sekali terlihat bahwa John Arnott tidak melakukan disiplin hermeneutik sehingga terjebak ke dalam penafsiran yang salah.  Mengenai hermeneutik Hasan Sutanto mengatakan, “Kata hermeneutik pada umumnya menunjuk proses teoretis dan metodologis yang ingin memahami makna yang terdapat dalam tanda-tanda dan simbol-simbol yang dipakai dalam komunikasi tertulis atau komunikasi lisan.”[71]  Ia menambahkan, “Hermeneutik berperan penting dalam penafsiran Alkitab, karena merupakan disiplin yang memikirkan konsep-konsep,prinsip-prinsip dan hukum-hukum yang dipakai secara universal untuk memahami dan menafsir Alkitab.”[72]  Melalui penjelasan di atas maka semakin jelas bahwa John Arnott bukan hanya tidak melakukan disiplin hermeneutik yang baik namun memaksa teks untuk mendukung pengalamannya.


Pandangan Pentakosta

Kaum Pentakosta memakai injil Lukas sebagai landasan Teologi Roh Kudus.  Robert Menzies mengatakan, “Teologi tentang Roh Kudus yang benar-benar Alkitabiah harus seimbang dalam ajaran tentang Roh Kudus (Pneumatologi) dari setiap penulis Alkitab.”[73]  Berdasarkan pernyataan di atas maka bisa dikatakan bahwa ajaran tertawa dalam Roh terlalu ekstrem.  Hal ini terlihat dari pemaparan para pencetusnya yang cenderung memaksakan teks dan mengagungkan pengalaman tanpa memahami doktrin Roh Kudus dengan benar.
Teolog Pentakosta lainnya Roger Stronstad dalam bukunya Charismatic Theology of Saint Luke mengatakan, “As we have seen, Luke describes the gift of the Spirit by a variety of terminology; for example: filled, anointed, clothed, baptized, and empowered by the Spirit.”[74]  Ia menambahkan, “The terms “anointed” and “baptized” describe the consecrating work of the Holy Spirit in inaugurating one’s public ministry. The terms “filled, ” “clothed,” and “empowered” describe the actual equipping by the Spirit for that ministry.”[75]  Melalui pernyataan dari Stronstad maka bisa dikatakan bahwa ajaran tertawa dalam Roh tidak bisa disebut manifestasi karunia rohani karena bertentangan dengan pemahaman Pentakosta mengenai Roh Kudus. 


 Kesimpulan

            Berdasarkan setiap data yang sudah dipaparkan maka penulis menyimpulkan bahwa tertawa dalam Roh tidak bisa disebut sebagai manifestasi karunia rohani karena banyak sekali kesalahan di dalamnya.  Kesalahan pertama berkaitan dengan kesalahan hermeneutik.  Kesalahan yang dimaksud disini adalah para pencetus tertawa dalam Roh memaksakan pengalaman mereka ke dalam teks Alkitab.  Ini merupakan kesalahan yang fatal mengingat Alkitab tidak boleh ditundukkan kepada pengalaman.
            Kesalahan kedua terletak pada penekanan yang salah.  Penekanan tokoh-tokoh yang meyakini tertawa dalam Roh adalah manifestasi bukan berita tentang keselamatan.  Tidak jarang akhirnya mereka cenderung menganggap karya Kristus bersifat marginal.
            Kesalahan yang ketiga adalah setiap tokoh tidak konsisten sehingga menyebabkan fokus mereka salah.  Mereka cenderung terlalu membanggakan manifestasi, bahkan tak jarang yang jadi fokus adalah diri sendiri bukan Tuhan.
            Ditinjau dari sudut pandang Pentakosta maka tertawa dalam Roh tidak pernah ada di dalam sejarah teologi Pentakosta.  Penulis berpendapat bahwa fenomena ini hanyalah sugesti.  Terbukti karena beberapa orang yang mengalaminya mengaku tidak sadarkan diri







Daftar Pustaka


Allen, Leslie C.  Word Biblical Commentar: Psalm 101-150.  Texas: Word Book Publisher,
1983.

Arnott, John  Berkat Bapa.  Jakarta: Harvest Publication House, 1996.

Beasley Murray, George L Word Biblical Commentary vol 36, (USA: Word, 1987

Beverly,John A.  Holy Laughter and Toronto Blessing, diterjemahkan oleh Paulus Trimanto W.  Yogyakarta: Yayasan Andi, 1997.

Dillard, Raymond B& Tremper Longman III.  An Introduction to the Old Testament.  Grand
Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1994.

Erickson,Millard J.  Teologi Kristen: volume 3.  Malang: Penerbit Gandum Mas, 2004.

Gee, Donald.  Pentacostal Experience.  Springfield, Missouri: Gospel Publishing House,
1993.

Grudem, Wayne.  Systematic Theology.  Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing
House, 1994.

Hamilton, Victor P.  The Book of Genesis: Chapter 18-50 The New International
Commentary on the Old Testament, (Grand Rapids, Michigan: Wm Eerdmans Publishing House, 1995

Henry, Matthew.  Tafsiran Mathew Henry: Kitab Mazmur 101-150.  Surabaya; Peneerbit
Momentum, 2012.
Herlianto.  Toronto Blessing: Lawatan Roh Allah masa kini.  Bandung: Yabina, 1992.

Hill, Andrew & John H Walton.  Survei Perjanjian Lama.  Malang: Penerbit Gandum Mas,
1996.
Horton, Stanley.  Oknum Roh Kudus.  Malang: Penerbit Gandum Mas, 2000.

Kenner, Craig S.  The Gospel Of John vol 2:A Commentary.  United States: Hendrickson
Publisher, 2003.

Lukito,Daniel Lukas.   Fenomena Lawatan Ilahi di bawah terang kriteria membedakan Roh;
diambil dari Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan.  Malang: Literatur SAAT,2007.

Marris, Hans.  Gerakan Kharismatik dan Gereja kita, cet 5, diterjemahkan oleh Gerrit Riemer.  Surabaya: Penerbit Momentum, 2014.

Mc Knight, Scott.  1 Peter NIV Application Commentary.  Grand Rapids, Michigan:
Zondervan Publishing House, 1996.

Menzies,Robert P.  Pentacost: This is Our Story: Teologi Pentakosta.  Malang: Penerbit
Gandum Mas, 2015.

Michels, J Ramsey.  Word Biblical Commentary 1 Peter vol 49.  Waco, Texas: Word
Publishers, 1988.

Oropeza, BJ.  A Time to Laugh The Holy Laughter Phenomenon Examined.  United States:
Hendrickson Publisher, 1995

Peterson, Llyod(ed).  The Mark of The Spirit?: A Charismatic Critique of the Toronto
Blessing, United Kingdom: Paternoster Press, 1998.

Ridderboss, Herman N.  Injil Yohanes: Suatu Tafsiran Theologis.  Surabaya: Penerbit
Momentum, 2012.

Stronstad, Roger.  The Charismatic Theology of St. Luke.  USA: Hendrickson Publisher,
1984.

Sutanto, Hasan.  Hermeneutik: Prinsip dan metode penafsiran Alkitab (edisi revisi.  Malang:
Literatur SAAT, 2011.

Tong,Stephen.  Roh Kudus, Doa dan Kebangunan.  Surabaya: Penerbit Momentum, 1995.

Westermann, Claus. Genesis 12-36.  Minneapolis: First Fotress Press, 1995.

William, Robert Menzies.  Roh Kudus dan Kuasa: Dasar-dasar pengalaman Pentakosta,
diterjemahkan oleh Magda L Toruan, (Batam: Gospel Press, 2005.


[1] Millard J Erickson, Teologi Kristen: volume 3, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2004), 14.

[2] Ibid.

[4] Stanley Horton, Oknum Roh Kudus, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2000), 8.
[5] Ibid.

[6] William Menzies dan Robert Menzies, Roh Kudus dan Kuasa: Dasar-dasar pengalaman Pentakosta, diterjemahkan oleh Magda L Toruan, (Batam: Gospel Press, 2005), 6.

[7] Ibid.

[9] Ibid, 2.

[11] Herlianto, 2.

[12] Beverly, 5

[13] Ibid.

[14] Ibid

[15] BJ Oropeza, A Time to Laugh The Holy Laughter Phenomenon Examined, (United States: Hendrickson Publisher, 1995), 31.

[16] Herlianto, 19.

[17] Ibid, 45.

[18] Kej 21:5-6: Adapun Abraham berumur seratus tahun ketika Ishak, anaknya lahir baginya.  Berkatalah Sara: Allah telah membuat aku tertawa, setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku.”

[19] Claus Westermann, Genesis 12-36, (Minneapolis: First Fotress Press, 1995), 334.

[20] Ibid.

[21] http://biblehub.com, Diakses 9 Oktober 2017

[22] http://biblehub.com. Diakses 9 Oktober 2017

[24] Ibid.

[25] Herlianto, 46.

[26] Ibid.

[27] Andrew Hill&John H Walton, Survei Perjanjian Lama, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1996), 447.

[28] Raymond B Dillard&Tremper Longman III, An Introduction to the Old Testament, (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1994), 211.

[29] Ibid.

[31] Leslie C Allen, Word Biblical Commentar: Psalm 101-150, (Texas: Word Book Publisher, 1983), 172.

[32] Ibid.

[33] Herlianto, 46.

[34] Ibid.

[35] John arnott dan Istrinya Carol adalah gembala senior dari Toronto Air Port Vineyard, Toronto, Canada pusat dari berkat Toronto.  Sejak bulan Januari 1994 ratusan ribu orang telah mengunjungi kebaktian-kebaktian gereja setiap malam dimana mereka mengalami manifestasi- manifestasi Roh Kudus yang penuh kuasa.  Dikutip dari John Arnott, Berkat Bapa, (Jakarta: Harvest Publication House, 1996)

[36] John Arnott, Berkat Bapa, (Jakarta: Harvest Publication House, 1996), 59

[37] Ibid, 61.

[38] Ibid, 60-61.

[39] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani Indonesia dan Konkordasi Perjanjian Baru, jilid 1, sv “khara”, (Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2010), 582.

[40] George L Beasley Murray, Word Biblical Commentary vol 36, (USA: Word, 1987), 274

[41] Susanto, 582.

[42] Ibid, 588.

[43] Cleon L Jr & Cleon L Rogers, The New Linguistic and Exegetical Key of the Greek New Testament, (Grand Rapids, Michigan : Zondervan Publishing House, 1998), 218.

[44] Ibid, 220.

[45] Herman N Ridderboss, Injil Yohanes: Suatu Tafsiran Theologis, (Surabaya: Penerbit Momentum, 2012), 565.

[46] Ibid.

[47] Craig S Kenner, The Gospel Of John vol 2:A Commentary, (USA: Hendrickson Publisher, 2003), 1047.

[48] Sutanto, 1226.

[49] J Ramsey Michels, Word Biblical Commentary 1 Peter vol 49, (Waco, Texas: Word Publishers, 1988), 34.

[50] Scott Mc Knight, 1 Peter NIV Application Commentary, (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1996), 72.

[51] Daniel Lukas Lukito, Fenomena Lawatan Ilahi di bawah terang kriteria membedakan Roh; diambil dari Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, (Malang: Literatur SAAT,2007), 54.

[52] Hans Marris, Gerakan Kharismatik dan Gereja kita, cet 5, diterjemahkan oleh Gerrit Riemer, (Surabaya: Penerbit Momentum, 2014), 29.

[53] Llyod Peterson(ed), The Mark of The Spirit?: A Charismatic Critique of the Toronto Blessing, (United Kingdom: Paternoster Press, 1998), 75.

[54] Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, sv “ekstase,” oleh Anton M Moeliono

[55] Lukito, 55.

[56] Ibid, 56.

[57] Beverly, 39.

[58] Ibid.

[59] Lukito, 59.

[60] Ibid.

[61] Arnott, 199.

[62] Ibid.

[63] Oropeza, 104.

[64] Wayne Grudem, Systematic Theology, (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1994), 634.

[65] Donald Gee, Pentacostal Experience, (Springfield, Missouri: Gospel Publishing House, 1993), 131.

[66] Lukito, 60.

[67] Ibid.

[68] Arnott, 199.

[69] Ibid.

[70] Ayat lain yang ia masukkan adalah Ams 15:15, 17:22.

[71] Hasan Sutanto, Hermeneutik: Prinsip dan metode penafsiran Alkitab (edisi revisi), (Malang: Literatur SAAT, 2011), 3.

[72] Ibid.

[73] Robert P Menzies, Pentacost: This is Our Story: Teologi Pentakosta, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2015), 40.

[74] Roger Stronstad, The Charismatic Theology of St. Luke, (USA: Hendrickson Publisher, 1984), 80.

[75] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pencobaan datang dari Diri Anda sendiri

  Nats: Yakobus 1:14-15 (TB)14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. 15 Dan apa...