Konsep Yesus sebagai Anak Manusia dalam Injil Markus



KONSEP YESUS SEBAGAI ANAK MANUSIA
DALAM INJILMARKUS
Oleh: Felix Justian Harnanta
           Dalam keempat Injil, Yesus senantiasa menyebut diri-Nya Anak Manusia.[1]  Menurut Iman Santoso istilah Anak Manusia ini muncul lebih dari 80 kali.[2] Ia menambahkan bahwa kecuali di dalam Injil Yohanes 12:34 dan Kisah Rasul 7:56, istilah itu selalu keluar dari mulut Tuhan Yesus sendiri.[3]  Sejalan dengan Santoso, Dunn mengatakan, “Gelar Anak Manusia dalam diri Yesus tidak pernah muncul dari pengakuan para muridNya.”[4]  Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa istilah Anak Manusia merupakan pengakuan Yesus atas diriNya sendiri.
            Gelar Yesus sebagai Anak Manusia mengalami serangan hebat dari kalangan doketisme.[5]  Menurut Krumm doketisme melihat bahwa Yesus merupakan sosok menyerupai manusia yang hadir dalam sejarah dan bentuk fisik.[6]  Singkatnya, doketisme memandang kemanusiaan Yesus bersifat maya dan tidak nyata.
            Karya tulis ini akan menjawab keberatan(seperti dalam doketisme) yang muncul terhadap gelar Yesus sebagai Anak Manusia.  Dalam karya tulis ini penulis akan menjelaskan mengenai konsep Anak Manusia dalam Injil Markus.  Penjelasan ini mencakup konsep Anak Manusia yang menderita, menyelamatkan dan mengajarkan kebenaran. 

 Anak Manusia yang Menderita

         Gelar Anak Manusia dalam diri Yesus berkaitan erat dengan penderitaanNya.  Menurut Wenham secara keseluruhan penderitaan Yesus ini terdapat pada (Markus 8:31; 9:12, 31; 10:33, 45; 14:21, 41).[7]  Keseluruhan ayat di atas berbicara mengenai Anak Manusia yang harus menderita dan mati.  Mengenai konsep Anak Manusia yang menderita Susanta mengatakan, “Petrus dan para murid yang lain meyakini bahwa Yesus adalah Mesias yang sedang menggenapi nubuat pengharapan Israel.  Namun sebaliknya, Yesus justru mengutarakan suatu konsep yang baru yaitu Anak Manusia harus mengalami penderitaan dan kematian: suatu konsep yang bertentangan dengan pemahaman Yahudi pada masa itu.”[8]  Singkatnya, gelar Anak Manusia yang menderita dalam diri Yesus tidak bisa dimaknai dalam kerangka pengharapan Israel akan raja yang membebaskan mereka.
          Penderitaan Yesus dalam injil Markus diawali dengan kisah penolakan (Markus 8:31).  Kata penolakan berasal dari bahasa Yunani yaitu apodokimazo.[9]  Kata ini secara literal berarti menolak setelah mencoba.[10]  Mengenai kisah penolakan Yesus, Hutardo mengatakan, “Penolakan Yesus dilakukan oleh penatua, imam kepala dan ahli Taurat.”[11]  Ia menambahkan, “Penyebutan ketiga jenis kelompok yang menolak Yesus mengindikasikan bahwa penolakan tersebut merupakan keputusan tertinggi pada zaman Yesus.”[12]  Sejalan dengan Hutardo, Wolff mengatakan, “penolakan tersebut terjadi setelah diadakan pengawasan dengan seksama oleh ketiga kelompok tersebut.”[13]  Singkatnya, penolakan yang dialami Yesus merupakan kesepakatan bersama dan sudah dilakukan dengan seksama oleh ketiga kelompok di atas. 
            Kisah penderitaan Yesus mencapai puncak ketika Ia berseru: Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Markus 15:34).[14]  Mengenai ayat ini Cole mengatakan, “Tidak ada penjelasan yang lebih baik daripada pandangan tradisional yang melihat bahwa seruan tersebut terjadi karena Yesus merasakan murka ALLAH.”[15]  Sependapat dengan Cole, Leks mengatakan, “Yesus benar-benar mengalami tragedi pemutusan hubungan dengan Allah, walaupun hubungannya dengan Allah tidak pernah terputus.[16]  Ia menambahkan, “Inilah harga yang harus dibayar oleh Yesus sebagai penebus (10:45).”[17]  Maka dari itu dapat dikatakan bahwa seruan tersebut menandakan Kristus menanggung murka Allah yang sebenarnya akan dicurahkan kepada manusia.
            Berdasarkan pemaparan di atas, Strecker menyimpulkan bahwa penderitaan Yesus sebagai Anak Manusia merupakan jalan untuk sampai kepada keselamatan.[18]  Ia menambahkan bahwa penderitaan Kristus ini merupakan ekspresi kondisi manusia yang tidak layak dan tersembunyi.[19]  Singkatnya, penderitaan Kristus merupakan agenda Allah untuk menyelamatkan manusia.

Anak Manusia yang Menyelamatkan

           Yesus datang sebagai Anak Manusia untuk menyelamatkan manusia(Markus 10:45).[20]  Mengenai ayat ini Gundry berkomentar, “Pada ayat ini Yesus memberikan model pelayanan kepada kedua belas muridNya yang nantinya akan menjadi model mereka juga.[21]  Ia menambahkan, “Kata kai sebelum gar mengindikasikan bahwa Markus lebih menunjukkan sikap menghamba dari Anak Manusia dari pada dominasinya.”[22]  Sikap menghamba dari Yesus inilah yang nantinya akan diteruskan oleh para muridNya dalam pelayanan.  Yang dimaksud disini adalah para murid tidak takut kehilangan nyawa dan tetap setia dalam pelayanan.
            Markus 10:45 memberikan dua pokok penting dalam karya keselamatan yang dilakukan Yesus.  Pokok pertama adalah Anak Manusia datang untuk melayani.[23]  Kata yang dipakai disini adalah diakonesai.[24]  Mengenai ini France berkomentar, “Dalam septuaginta kata diakonesai parelel dengan kata ebed YHWH (Yesaya 53).”[25]  Ia menambahkan, “Akar kata dari diakonesai yaitu diakoneo dapat diartikan sebagai melayani ALLAH bukan melayani manusia.”[26]  Sejalan dengan France, Evans mengatakan, “Mencoba mengartikan bahwa arti kata ini menunjuk kepada seseorang yang melayani sesama sangatlah tidak cocok dengan konsep hamba dalam kitab Yesaya.[27]  Baginya kata ini lebih cocok jika diartikan sebagai melayani TUHAN.[28]  Singkatnya, Yesus disini memposisikan diriNya sebagai seseorang yang menaati Bapa dalam hal pelayanan. 
Pokok yang terakhir dalam karya keselamatan Kristus adalah pengorbananNya.[29]  Pengorbanan ini diwujudkan ketika Ia sebagai Anak Manusia memberikan nyawaNya.[30]  Kata yang perlu mendapat perhatian pada frasa Anak Manusia akan memberikan nyawaNya adalah kata lytron.[31]  Mengenai kata ini Garland mengatakan, “Kata tebusan digunakan sebagai kompensasi bagi orang yang terluka (Kel 21:30), atau mengalami kejahatan (Bil 35: 31-32), sebagai pembelian untuk membebaskan budak dari perbudakan (Im 25: 51-52), dan kata tebusan ini paralel dengan pengorbanan anak pertama yang dilahirkan (Bil 18:15).[32]  Lane menambahkan, “Yesus sebagai Mesias yang menghamba, mempersembahkan diri-Nya sebagai korban penebusan salah bagi manusia (Im 5:14-6:7; 7:1-7; Bil 5:5-8).”[33]  Anthony menyimpulkan, “Yesus ingin mengajarkan suatu hal yang penting mengenai maksud kedatangan-Nya yaitu untuk menebus dosa manusia.  Untuk itu Mesias harus menderita dan mati.”[34]  Pengorbanan Kristus inilah yang pada akhirnya mendamaikan hubungan antara manusia dengan ALLAH.
            Sifat dari karya penebusan Kristus adalah universal.  Mengenai ini Ladd mengatakan bahwa tujuan misi Yesus adalah memberikan hidup-Nya sebagai harga tebusan supaya mereka yang kehilangan hidup dapat memperolehnya kembali.[35]  Artinya karya penebusan Kristus disediakan kepada setiap orang yang mau menemukan kembali kehidupannya yang telah hilang.
            Karya keselamatan Kristus juga mengandung dimensi Eskatologis.[36]  Mengenai dimensi Eskatologis dalam karya keselamatan Kristus, Ladd mengatakan, “Kematian Kristus memiliki satu makna Eskatologis karena ia berkata: Aku berkata kepadamu, Sesungguhnya Aku  tidak akan minum pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya yaitu yang baru dalam Kerajaan Allah (Markus 14:25).[37]  Bagi Gould kalimat ini merupakan ungkapan kesedihan karena akan terjadi perpisahan, namun di sisi yang lain kalimat ini mengindikasikan ungkapan sukacita karena di masa depan nanti akan ada persekutuan yang indah dalam kerajaan Allah.[38]  Plummer menambahkan bahwa kata baru pada teks ini mencerminkan suatu persekutuan di langit yang baru.[39]  Singkatnya, karya keselamatan Kristus memberikan jaminan kekekalan kepada manusia yang percaya kepada-Nya.

Anak Manusia yang Mengajarkan Kebenaran


            Gelar Yesus sebagai Anak Manusia yang mengajarkan kebenaran memiliki kaitan erat dengan pribadi-Nya sebagai seorang guru.[40]  Mengenai pribadi Yesus sebagai Guru, Welford mengatakan, “Gelar Guru(didaskalos) muncul sebanyak dua belas kali dalam konteks kata benda pada injil Markus (4:38; 5:35; 9:17,38; 10:17, 20, 35; 12:14, 19, 32; 13:1, 14:14).[41]  Dari beberapa ayat di atas dapat dilihat bahwa Yesus adalah sosok guru yang dihormati karena otoritasnya pada masa itu
            Dalam Theology Dictionary of New Testament dijelaskan bahwa seorang guru (didaskalos) adalah sesorang yang memiliki murid-murid di sekitarnya.[42]  Gundry menjelaskan bahwa gelar Guru mengindikasikan bahwa Yesus telah mengajar dengan otoritas kepada para murid-Nya.[43]  Sejalan dengan Gundry, Brooks menegaskan bahwa Markus menampilkan sosok Yesus sebagai guru yang penuh dengan otoritas.[44]  Singkatnya, para murid memandang Yesus sebagai Guru yang memiliki otoritas.
Otoritas yang dimiliki Yesus muncul dalam peranNya sebagai seorang Guru yang mengajarkan kebenaran.  Peran Yesus sebagai Guru yang mengajarkan kebenaran terlihat dalam beberapa teks injil Markus (4:1, 6:2, 34, 8:31, 10:1).[45]  Mengenai peran Yesus sebagai Guru Santoso berkomentar, “Markus memperkenalkan Yesus sebagai guru sebanyak dua belas kali, sebagai Rabbi tiga kali dan tujuh belas kali menunjuk kepada peran Yesus sebagai guru yang mengajar.”[46]  Telford melihat bahwa banyaknya penjelasan Markus mengenai Yesus sebagai sosok guru mengindikasikan bahwa peran Yesus sebagai seorang guru sangat signifikan bagi Markus.[47]  Maka dari itu dapat dikatakan bahwa otoritas dalam pengajaran Yesus sangat penting dalam Injil Markus. 
            Otoritas Yesus sebagai Guru yang mengajarkan kebenaran, Yesus juga disebut Anak Manusia yang mengajarkan kebenaran.  Ini terlihat dalam kuasa-Nya untuk mengampuni dosa (Markus 2:1-12).[48]  Mengenai ini France mengatakan bahwa kata eksousia tidak menunjuk kepada dosa yang diampuni, melainkan otoritas untuk mengampuni.[49]  Guelich menambahkan bahwa otoritas untuk mengampuni tersebut berasal dari Allah dan bersifat aktif.[50]  Dengan kata lain otoritas Yesus di bumi sama dengan otoritas Allah sendiri.  Maka dari itu tepatlah ungkapan Hutardo yang menyatakan bahwa gelar Anak Manusia pada Yesus tidak bisa dimaknai seperti manusia pada umumnya, melainkan Anak Manusia dengan otoritas ilahi.[51]
            Otoritas Yesus sebagai Anak Manusia yang mengajarkan kebenaran juga terlihat dalam ajaran-Nya mengenai tradisi (Markus 2:27-28).[52]  Tradisi yang dimakusud disini adalah tradisi hari Sabat.[53]  Menurut Hutardo pernyataan Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat tidak mengindikasikan bahwa Yesus menganggap lebih penting manusia dari pada aturan.[54]  Ia menambahkan, “Disini Yesus menegaskan nilai-nilai yang lebih tinggi daripada sekedar aturan yaitu kebaikkan tertinggi bagi manusia.”[55]  Maka dari itu tepatlah ungkapan yang disampaikan Fu, “Dengan demikian, Yesus Kristus tidak pernah mengubah esensi hari Sabat sebagai berkat yang Allah berikan bagi manusia.”[56]
            Perumpamaan merupakan salah satu metode yang dilakukan Yesus dalam menyampaikan pengajaran yang benar.  Menurut Guelich perumpamaan adalah sarana yang dipakai Yesus untuk menyampaikan nilai-nilai pengajarannya.[57]  Salah satu perumpamaan yang penting dalam Injil Markus adalah perumpamaan tentang seorang penabur (Markus 4:1-20).[58]  Kistemaker menjelaskan bahwa pada zaman Yesus kata kerja menabur dapat diartikan secara metafora yang berarti mengajar.[59]  Blomberg menambahkan, “Mungkin yang dimaksud menabur menunjuk kepada perintah dalam diri Yesus dan para murid-Nya untuk menjadi penabur Firman Allah ( lih Luk 8:11).[60]  Maka dari itu dapat dikatakan bahwa bertumbuh di dalam FirmanNya adalah tujuan Yesus menyampaikan pengajaranNya kepada para pendengarNya. 




Kesimpulan


            Dewasa ini idiom Anak Manusia jelas tidak bisa diabaikan.  Ini dikarenakan idiom Anak Manusia sangat penting untuk memahami esensi dari Yesus Kristus sendiri.  Esensi yang dimaksud berkaitan dengan karya Kristus selama hidup di bumi
            Karya Yesus pertama di bumi berkaitan dengan penderitaanNya.  Penderitaan yang dialami oleh Yesus merupakan rencana awal Allah agar manusia dapat berdamai denganNya  Yang dimaksud disini adalah dunia yang penuh dosa membutuhkan korban penebusan yang sama sekali tidak berdosa.  Kristus adalah korban penebusan yang dimaksud tersebut. 
            Karya Yesus yang kedua adalah pengorbanan.  Pengorbanan Kristus diwujudkan selama pelayanan-Nya di bumi dan mencapai klimaks pada kematian-Nya di kayu salib.  Selama di bumi Yesus menaati Bapa dalam hal melayani manusia.  Ketaatan ini juga mencapai klimaksnya pada kematian Kristus di kayu salib.  Pengorbanan Kristus menandakan runtuhnya jarak antara ALLAH dengan manusia.  Yang dimaksud disini adalah manusia memasuki persekutuan yang baru dengan Allah.
            Selama hidup di bumi Yesus juga disebut sebagai seorang yang memiliki otoritas.  Otortitas Yesus terlihat dalam hal pengajaran-Nya mengenai dosa dan tradisi.  Pengajaran yang dimaksud berkaitan dengan perbuatan Yesus yang mengampuni dosa dan menyatakan bahwa Anak manusia adalah Tuhan atas Hari Sabat.  Kedua pengajaran ini mengindikasikan bahwa kuasa Yesus di bumi sama dengan kuasa ALLAH.












Daftar Pustaka


Buku

Anthony, Yan.  Teologi Perjanjian Baru: Mengungkap Siapakah Yesus Sebenarnya.  Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2014.

Blomberg, Craig L.  Interpreting Parable.  Illnois: Intervasity Press, 1990.

Brooks, James A.  Mark: The New American Commentary.  Tenesse: Broadman Press, 1991.

Cole, R.A.  The Gospel According to St Mark: Tyndale New Testament Commentaries.  Michigan: Eerdmans Publishing, 1982.

Dunn, James D.G.  Unity and Diversity in The New Testament: An Inquiry into Character of Earliest Christianity,third edition.  Valley Forge: Trinity Press International, 1997.

Evans, Craig A.  Word Biblical Commentary: Mark 8:27- 16:20.  Nashville: Thomas Nelson Publishers, 2001.

France, R.T.  Gospel Of Mark(The New International Greek Testament Commentary): A Commentary on The Greek Text.  Michigan: Eerdmans Publishing, 2002.

Garland, David E.  Mark: New International Version Application Commentary.  Michigan: Zondervan Publishing, 1996.

Gould, Ezra P.  A Critical and Exgetical Commentary on the Gospel According to Saint Mark, (Edinburg: George Street, 1969.

Guelich, Robert A.  Word Biblical Commentary: Mark 1-8:26.  Texas: Word Books Publisher, 1989.

Gundry, Robert H.  Mark: A Commentary on His Apology of the Cross.  Michigan: Eerdmans Publishing, 1993.

Hurtado, Larry W.  Mark: New International Biblical Commentary Volume 2.  USA: Hendrickson Publisher, 1989.

Kistemaker, Simon.  Perumpamaan-Perumpamaan Yesus.  Malang: Literatur SAAT, 2001.

Krumm, John M.  Modern Heresies: A Guide to Straight Thinking about Religion.  United States America: Seabury Press, 1961.

Ladd, George Eldon.  Teologi Perjanjian Baru, diterjemahkan oleh Urbanus Selan dan Henry Lantang.  Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999.

Lane, William L.  The Gospel of Mark: New International Commentary on The New Testament, Michigan: Eerdmans Publishing, 1974.

Leks, Stefan.  Tafsir Injil Matius.  Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003.

Morris, Leon.  Teologi Perjanjian Baru.  Diterjemahkan oleh Pidyarto.  Malang: Penerbit Gandum Mas, 1996.

Plummer, Alfred.  The Gospel According to Saint Mark.  Michigan: Baker Book House, 1982.

Santoso, David Iman.  Theologi Markus: Intisari dan Aplikasinya.  Malang: Literatur SAAT, 2012.

Strecker, Georg.  Theology of The New Testament.  Louisville: John Knox Press, 2000.

Telford, W.R.  New Testament Theology: The Theology of The Gospel of Mark.  Cambridge: University Press, 1999.

Wenham, David & Steve Walton.  Exploring The New Testament Volume 1: Guide to the Gospel and Acts.  Illnois: Intervasity Press, 2001.

Wolff, Richard.  The Gospel According to Mark: Contemporary Commentaries.  Illnois: Tyndale House Publisher, 1969.


Jurnal

Edwards, James R.  The Authority of Jesus in The Gospel Of Mark: Journal of The Evangelical Theological Society vol 37:2, (1994): 1-16.

Fu, Timotius.  Perhentian Hari Sabat: Makna dan Aplikasinya Bagi Orang Kristen, Veritas ;Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 11 Nomer 2 (2010): 231-243.

Susanta, Yohanes Krismantyo.  “Anak Manusia: Suatu Reinterpretasi terhadap Konsep Mesianis Yahudi, 
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan: Volume 15 No 2


Footnote: 

[1] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru, diterjemahkan oleh Pidyarto, (Malang: Gandum Mas, 1996), 137.

[2] David Iman Santoso, Theologi Markus: Intisari dan Aplikasinya, (Malang: Literatur SAAT, 2012), 61.

[3] Ibid.

[4] James D.G Dunn, Unity and Diversity in The New Testament: An Inquiry into Character of Earliest Christianity,third edition, (Valley Forge: Trinity Press International, 1997), 35.

[5] John M Krumm, Modern Heresies: A Guide to Straight Thinking about Religion, (United States America: Seabury Press, 1961), 114.

[6] Ibid.

[7] David Wenham& Steve Walton, Exploring The New Testament Volume 1: Guide to the Gospel and Acts, (Illnois: Intervasity Press, 2001), 214.

[8] Yohanes Krismantyo Susanta, “Anak Manusia: Suatu Reinterpretasi terhadap Konsep Mesianis Yahudi, Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan: Volume 15 No 2, 2014, 197.

[9] The New Linguistic  and Exegetical Key To The Greek New Testament, sv “apodokimazo”, oleh Cleon Rogers Jr& Cleon L.I

[10] Ibid.

[11] Larry W Hurtado, Mark: New International Biblical Commentary Volume 2, (USA: Hendrickson Publisher, 1989), 137.

[12] Ibid.

[13]Richard Wolff, The Gospel According to Mark: Contemporary Commentaries, (Illnois: Tyndale House Publisher, 1969), 60.

[14] Santoso, Theologi Markus: Intisari dan Aplikasinya, 149.

[15] R.A Cole, The Gospel According to St Mark: Tyndale New Testament Commentaries, (Michigan: Eerdmans Publishing, 1982), 243.

[16] Stefan Leks, Tafsir Injil Matius, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003), 487.

[17] Ibid.

[18] Georg Strecker, Theology of The New Testament, (Louisville: John Knox Press, 2000), 356.
[19] Ibid.

[20] Santoso, Theologi Markus: Intisari dan Aplikasinya, 145.

[21] Robert H Gundry, Mark: A Commentary on His Apology of the Cross, (Michigan: Eerdmans Publishing, 1993), 581.

[22] Ibid.

[23] Santoso, Theologi Markus: Intisari dan Aplikasinya, 145.

[24] The New Linguistic  and Exegetical Key To The Greek New Testament, sv “diakonesai”, oleh Cleon Rogers Jr& Cleon L.I

[25] R.T France, Gospel Of Mark(The New International Greek Testament Commentary): A Commentary on The Greek Text, (Michigan: Eerdmans Publishing, 2002), 419.
[26] Ibid.

[27] Craig A Evans, Word Biblical Commentary: Mark 8:27- 16:20, (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 2001), 121.

[28] Ibid.

[29] Santoso, Theologi Markus: Intisari dan Aplikasinya, 145.

[30] Ibid.

[31] The New Linguistic  and Exegetical Key To The Greek New Testament, sv “lytron”, oleh Cleon Rogers Jr& Cleon L.I

[32] David E Garland, Mark: New International Version Application Commentary, (Michigan: Zondervan Publishing, 1996), 413.

[33] William L Lane, The Gospel of Mark: New International Commentary on The New Testament, (Michigan: Eerdmans Publishing, 1974), 384.
[34] Yan Anthony, Teologi Perjanjian Baru: Mengungkap Siapakah Yesus Sebenarnya, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2014), 41.

[35] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru, diterjemahkan oleh Urbanus Selan dan Henry Lantang, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999), 248.

[36] Ibid, 251.

[37] Ibid.

[38] Ezra P Gould, A Critical and Exgetical Commentary on the Gospel According to Saint Mark, (Edinburg: George Street, 1969), 266.

[39] Alfred Plummer, The Gospel According to Saint Mark, (Michigan: Baker Book House, 1982), 323.
[40] Santoso, Theologi Markus: Intisari dan Aplikasinya, 59.

[41] W.R Telford, New Testament Theology: The Theology of The Gospel of Mark, (Cambridge: Unoversity Press, 1999), 33.

[42] Gerhard Kittel ed, “didaskalos”, dalam Theology Dictionary Of The New Testament vol 2, (Michigan: Eerdman Publishing, 1964), 153.

[43] Gundry, Mark: A Commentary on His Apology of the Cross, 239.

[44] James A Brooks, Mark: The New American Commentary, (Tenesse: Broadman Press, 1991), 87.

[45] Santoso, Theologi Markus: Intisari dan Aplikasinya, 59.

[46] Ibid.

[47] Telford, New Testament Theology: The Theology of The Gospel of Mark, 33.

[48] James R Edwards, The Authority of Jesus in The Gospel Of Mark: Journal of The Evangelical Theological Society vol 37:2, 1994, 3.

[49] R.T France, Gospel Of Mark(The New International Greek Testament Commentary): A Commentary on The Greek Text, 129.

[50] Robert A Guelich, Word Biblical Commentary: Mark 1-8:26, (Texas: Word Books Publisher, 1989), 90-91.

[51] Hurtado, Mark: New International Biblical Commentary Volume 2, 38.

[52] James R Edwards, The Authority of Jesus in The Gospel Of Mark: Journal of The Evangelical Theological Society vol 37:2, 1994, 5.

[53] Secara Epistemologis, istilah hari Sabat dalam Alkitab pertama kali muncul di Keluaran 16: 22-30 ketika orang Israel berada di Padang Gurun Sin.  Saat itu Allah memberikan Manna kepada bangsa Israel sebagai makanan harian dan lewat Musa Allah memerintahkan mereka untuk memungutnya setiap hari, kecuali hari ketujuh yang oleh Allah disebut hari Sabat.  Untuk penjelasan lebih lanjut lih.Timotius Fu, Perhentian Hari Sabat: Makna dan Aplikasinya Bagi Orang Kristen, Veritas ;Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 11 Nomer 2 (2010), 232.

[54] Hurtado, Mark: New International Biblical Commentary Volume 2, 39.

[55] Ibid.

[56] Fu, Perhentian Hari Sabat: Makna dan Aplikasinya Bagi Orang Kristen, Veritas ;Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 11 Nomer 2, 237.

[57] Robert A Guelich, Word Biblical Commentary: Mark 1-8:26, 191.

[58] Simon Kistemaker, Perumpamaan-Perumpamaan Yesus, (Malang: Literatur SAAT, 2001), 15.

[59] Ibid, 25.

[60] Craig L Blomberg, Interpreting Parable, (Illnois: Intervasity Press, 1990), 227.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Segarkan Hidup Setiap Hari

 Nats: Mzm 52:8-9 Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya r   akan kasih setia Allah untuk s...